Cara Media Merekayasa Ketokohan Pejabat Negara

Persona Joshua Wong menyita perhatian saya dua bulan silam. Tokoh muda prodemokrasi Hongkong ini cerdas, bebas, dan berani – kombinasi sifat mulia yang lengkap.

Pada usianya yang baru 17 tahun, ia telah menjadi tokoh sentral revolusi di negerinya. Itu membuat saya bersimpati terhadapanya, juga terhadap cita-citanya. Simpati itu yang mendorong saya, diam-diam, merapal doa agar Tuhan membantu “perjuangannya”.

Simpati saya terhadap Joshua  – kemudian saya sadari – adalah sebuah keganjilan. Bagaimana bisa saya bersimpati, menyukai, atau bahkan menyayanginya? Bukankah dia tidak nyata,fiktif, dan imajiner seperti Naruto dan Conan Edogawa?

Simpati, kepedulian, dan rasa sayang saya terhadap Joshua bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Perasaan itu memiliki sumber dan perantara yang nyata. Sumber dan perantara dapat digunakan untuk menelusuri bagaimana simpati hadir dan dihadirkan. Dengan menelusuri sumber dan perantara pula kita dapat menelsuri siapa yang sedang “bermain” dalam benak kita.

Pertama, dari mana saya memperoleh informasi mengenai Joshua?  Saya memperoleh informasi tentangnya melalui media. Nama media itu adalah BBC.

Kedua, bagaimana afiliasi ideologis BBC dengan Joshua? Sebagai media yang lahir dan berbasis di Inggris, BBC dikelola oleh jurnalis-jurnalis berpendidikan Barat. John Simpson yang kini duduk sebagai world affair editor, misalnya, adalah pria sepuh lulusan Magdalene College, Cambridge.

Bagi jurnalis Barat, dan kebanyakan orang berpendidikan Barat, ide-ide tentang demokrasi sudah menjadi seperti agama. Demokrasi dipercaya berisi aneka kebajikan. Demokrasi memungkinkan negara dapat dikelola secara fair, tanpa manipulasi, tanpa pemimpin otoriter. Keyakinan itu terpelihara, meski, demokrasi juga menyimpan aneka paradoks.

Bagi jurnalis BBC pergerakan demokrasi seperti yang dilakukan Wong dan ribuan anak muda Hongkong adalah pergerakan menuju era baru yang lebih progresif dan benar. Oleh karena itu, pergerakan mereka patut dipuji dengan skema framing yang baik. Maka, lahirlah berita-berita positif mengenai Wong.

Dari berita-berita kebaikan Wong inilah kekaguman saya bermula. Kekaguman kemudian berubah menjadi semacam perasaan senasib sepenanggungan. Entah dengan skema psikologis semacam apa, tetapi saya menganggap Wong patut didukung, meski hanya melalui doa.

Teknik Framing Entman

Skema framing telah banyak digunakan jurnalis untuk mengungkapkan penilaian perbiadi melalui bungkus berita. Melalui teknik framing, seraong jurnalis bisa menyalurkan opininya tanpa harus beropini.

Menurut Robert Entman (Framing: Toward Clarification of Fracturerd Paradigm, Journal of Comuncation, 1993), framing dilakukan pada dua tingkat,yaitu pada tingkat pemilihan isu dan tingkat penonjolan realitas. Pada tingkat pertama, subjektivitas jurnalis ditunjukan saat ia memilih isu yang akan diberitakannya. Pada tingkat kedua, jurnalis menentukan realitas mana yang akan ditnojolkan dari sekian banyak realitas yang kompleks, tumpang tindih, dan tak berpola.

Selanjutnya, Entman  membeberkan ada empat startegi framing yang dapat kita gunakan jurnalis untuk membentuk. Pertama, pendefinisian masalah, yakni bagaimana jurnalis melihat dan mendudukan masalah. Bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?

Kedua, memperkirakan masalah atau sumber masalah. Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah? Siapa pula aktor pahlawan (hero) yang dapat memecahkan masalah?

Ketiga, membuat keputusan moral. Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk meligitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan? Agama? Humanisme? Kebaikan universal? Demokrasi? Kebebasan? Kesetaraan gender?

Keempat, menekankan penyelesaian. Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?

Penjelasan Entman menunjukkan bahwa berita adalah bukan refleksi realitas. Berita adalah hasil kreativitas wartawan dalam merekonstruksi realitas empris menjadi realitas berita. Kedua realitas itu tidak sama persis, berjarak, atau bahkan bisa sama sekali berlainan.

Di kalangan jurnalis, muncul keyakinan, jika ada gelas separuhnya terisi air dapat digambarkan dengan dua cara. Pertama, “separuh gelas terisi”. Kedua, “separuh gelas kosong”. Dua proposisi ini memiliki bobot kebenaran yang sama karena berkorespondensi dengan realitas. Meski demikian, tapi respon pembaca terhadap dua berita itu bisa sama sekali berbeda.

Glorifikasi Tokoh

Dalam dunia pers Tanah Air, teknik framing telah melahirkan banyak pahlawan baru. berkat teknik framing yang “ciamik” seseorang yang biasa bisa tampak istimewa. Sebaliknya, seseraong yang biasa saja bisa tampak jahat perangainya.

Tri Rismaharini, misalnya, dikenal publik sebagai walikota berprestasi. Dia dikenal memiliki aneka terobosan untuk memajukan kota yang dipimpinnya. Dia juga tegas dan tanpa kompromi. Dia pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu walikota erbaik dunia. Wow!

Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok juga dikenal publik sebagai pemimpin yang tegas. Dia dikenal bersih. Dia dikenal antikorupsi. Dia rela mati demi prinsip yang diyakininya. Hebat!

Susi Pudjiastuti, belakangan ini, juga dimitoskan sebagai tokoh yang cerdik. Dia dikenal sebagai perempuan pekerja keras. Dia tidak birokratis, spontan, dan merakyat. Top!

Pada sata yang sama, teknik framing media telah menciptakan banyak penjahat di Tanah Air. Mereka dikenal sebagai pembuat onar, korup, dan jahat sehingga harus dimusuhi bersama.

Habieb Rizieq dan pasukan Front Pembela Islam (FPI) misalnya dikenal sebagai tukang pembuat onar. Mereka anarkis dan senang melakukan kekerasan. Mereka berasal dari masyarakat kelas bawah yang miskin dan noneducated.

Ahmad Heryawan, Gubernur  Jawa Barat, juga dikenal publik sebagai gubernur berkinerja tidak baik. Dia minim terobosan. Dia seperti tidak memiliki visi untuk memajukan daerahnya.

Susilo Bambang Yudhoyono juga nyaris dihabisi dengan citraan sebagai pemimpin lembek. Dia dikenal tidak tegas. Dia gemar pencitraan. Dia aktor yang harus bertanggung jawab atas disahkannya Undang-undang pemilihan daerah secara tidak langsung.

Tokoh seperti Risma, Ahok, dan Susi adalah tokoh yang menikmati reputasi baik akibat framing yang baik. Dalam aneka pemberitaan, yang ditonjolkan dari mereka adalah prestasinya. Bahkan, sesuatu yang bukan prestasi dari mereka, bisa di-framing sebagai prestasi. Merokok, galak, bicara tak sistematis, dan menyalahkan bawahan bisa juga di-framing sebagai spontan, tegas, tanpa pandang bulu, dan merakyat.

Sebaliknya, tokoh “jahat” seperti Habieb Riziq, Ahmad Heryawan, dan SBY adalah tokoh yang dijahatkan karena informasi mengenai mereka di-framing negatif. Apa pun tindakan mereka dilihat sebagai tindakan yang tidak baik. Mencipta lagu, misalnya, tidak dinilai sebagai kreatif dan romantic tetapi cengeng dan melo. Nulis buku 800 halaman, misalnya, tidak diberitakan sebagai intelektual, tapi kurang kerjaan.

Analisis framing Entman, bagi saya, cukup memuaskan sebagai alat bantu untuk memahami preferensi idola kita. Di balik kecintaan saya terhadap seseorang ternyata ada orang lain yang mengaturnya.

Seseroang yang berkuasa atas informasi bisa dengan leluasa membangun persepsi kebaikan dan kejahatan dalam kepala kita. Pada akhirnya, “seseorang” itu pula yang menentukan siapa yang harus kita idolakan dan siapa yang harus kita benci. \

Rahmat Petuguran,
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.