Connect with us

Saya diminta memberi sambutan di acara wisuda SMA Karangturi. Saya maju ke depan. Saya menatap ke deretan kursi penonton yang berisi ratusan wisudawan dan wisudawati, orangtua murid, serta guru-guru dan pimpinan jenjang. Saya menghela nafas dalam-dalam. Saya berdiri di atas panggung yang sangat luas, di dalam sebuah gedung teater megah berkapasitas 800 tempat duduk. Hawa sejuk bertiup dari atas langit-langit. Saya melepas mik dari dudukannya.

“Selamat siang…,” ujar saya membuka sambutan, lalu meneruskan sambutan dengan menyatakan bahwa prestasi siswa siswi tahun ini sungguh istimewa. Berdasar hasil Ujian Nasional, Karangturi mencanangkan diri menjadi sekolah swasta terbaik tahun ini. Dua siswa Karangturi juga akan mewakili Indonesia dalam ajang lomba Olimpiade Sains tingkat dunia yang akan diadakan di Rusia dalam bidang Kimia dan Teknologi Informasi.
Saya meminta para mantan guru, para guru, dan seluruh orangtua untuk berdiri.
“Mari kita memberi tepuk tangan bagi semua mantan guru, bapak ibu guru dan semua orangtua yang telah berjasa membuat hari ini bisa terjadi…”
Semua orang bertepuk-tangan. Saya mempersilahkan mereka duduk kembali.

“Saya sangat senang melihat wajah-wajah wisudawan hari ini. Semua wajah bersinar terang…”
Para wisudawan mulai tertawa.
“Semua siap mengepakkan sayap…, terbang tinggi menembus awan…”
Semua tertawa.
“Dan saya merasa yakin, melihat wajah wajah dan prestasi kalian yang cerah penuh percaya diri, siap menyongsong masa depan.., nasib bangsa kita, nasib Indonesia…, PASTI akan semakin baik…!”
Tepuk tangan terdengar. Apik yo. Hehehe.
“Saya setuju dengan apa yang dikatakan teman kalian tadi, kata-kata John F. Kennedy, ‘Jangan tanya apa yang negara bisa berikan kepadamu, tapi tanya apa yang kamu bisa berikan kepada negaramu’…”
Saya menarik napas dalam-dalam.
“Kemanapun kalian pergi…, sejauh manapun kalian melangkah, jangan lupakan jati diri, junjung tinggi nama baik keluarga, sekolah, dan bangsa…”

Saya menarik kedua celana panjang saya ke atas; sedikit. Beberapa orang tertawa.
“Saya kadang memakai kaos kaki ini…”
Saya menunjuk ke bawah. Sepasang kaos kaki bewarna merah putih terpasang di kaki saya. Semua orang tertawa.
“Kemanapun kalian pergi melangkah…, dimanapun bumi dipijak, jangan pernah sekalipun lupa, merah putih adalah langkah kita… Tuntutlah ilmu seluas-luasnya, tapi pada saat bersamaan, tanamkan akar jati diri sedalam-dalamnya… Merah putih adalah jiwa dan roh kita…”
Semua orang bertepuk tangan.

Suasana mereda, saya melanjutkan, “Saya sangat senang hari ini kita bisa wisuda di gedung teater yang sangat luar biasa megah ini, di gedung sekolah yang sangat indah ini. Tapi saya yakin, gedung akan sekedar menjadi gedung. Setelah beberapa tahun orang tidak akan lagi terpana. Bukan karpet yang mahal, bukan lampu yang menyilaukan, bukan sound system yang bagus yang membuat sebuah sekolah menjadi indah. BUKAN. Tapi prestasi dan karakter siswa lah yang akan menjadi hiasan terindah sebuah sekolah!”

“Saya setuju dengan ucapan Bapak Sekertaris Dinas Pendidikan… Di dada kiri kalian telah dipenuhi prestasi akademis, di dada kanan kalian harus dipenuhi karakter yang baik. Semua itu harus seimbang, seperti slogan Karangturi…”
Saya kemudian mengambil sikap. Saya meluruskan tangan kanan yang terkepal ke depan, sambil berteriak lantang, “Karangturi: BAIK!”
Tangan kanan saya tekuk ke atas, “BERBAKAT!”
Tangan kanan saya pukulkan ke dada kiri dua kali, “BISA!!!”
Semua bertepuk tangan. Saya kembali mengulang gerakan dan berteriak lantang: “Karangturi: BAIK! BERBAKAT! BISA!!!”
Saya merasakan gemuruh menggelora di dada.

“Saya juga setuju ucapan Bapak Sekertaris Dinas Pendidikan…, pendidikan anak-anak kita, bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, tapi tanggung jawab bersama orangtua…”
Para orangtua dan siswa menyimak.
“Saya ingin menunjukkan bagaimana kerjasama yang baik bisa dilakukan, dengan irama nan harmonis, seperti lagu yang tadi dinyanyikan anak-anak paduan suara dengan iringan lagu ‘Cup Song’…”
Saya memberi kode kepada panitia di samping layar. Dan beberapa orang langsung mengeluarkan dan menata 3 meja kecil di atas panggung.

Tadi di tengah acara wisuda, kami sempat mendapat sajian menarik dari ‘Karangturi Choir’, yang menyanyikan lagu Anna Kendrick ‘The Cup Song’. Paduan suara dibuka dengan penampilan tiga siswi yang masing-masing memainkan sebuah gelas plastik (cup) di atas meja kecil. Gerakan tepuk tangan, lalu menepuk meja, mengambil dan meletakkan gelas, tepuk tangan lagi, memukulkan gelas ke telapak tangan, membalik gelas dan meletakkannya kembali ke meja, dilakukan secara ritmis bersama-sama dengan gerakan harmonis yang diulang-ulang, menciptakan lantunan perkusi yang enak didengar. Lagu ‘Cup Song’ pun, yang aslinya berjudul ‘You’re gonna miss me when I’m gone’ dilantunkan dengan sangat merdu. Saya terhenyak di tempat duduk. Mulut saya kering. Bukan hanya kagum melihat gerakan ritmis 3 siswi di atas panggung, tapi karena…

“Bapak Ibu sekalian, pendidikan yang baik harus dilakukan bersama-sama oleh sekolah, orangtua, dan siswa… Saya adalah ‘sekolah’.” Saya menunjuk diri saya sendiri.
“Dia adalah ‘siswa’…” Saya menunjuk murid di sebelah kanan saya.
“Dan dia adalah ‘orangtua’…” Saya menunjuk murid di sebelah kiri saya.
“Kami akan bersama-sama melakukan gerakan ‘Cup Song’… Mungkin awalnya akan terlihat kagok, kaku, tapi dengan latihan dan kesungguhan, mudah-mudahan, kita bisa menciptakan irama yang ritmis dan harmonis…”
Dan saya pun memberi kode kepada salah satu siswi untuk memulai hitungan. Dan sang siswi pun mulai bertepuk tangan dan menyanyi. Dan saya pun mulai mengikuti gerakan mereka.

“I got my ticket for the long way round.”
Plok, plok, duk, duk, duk, plok, duk, duk.
“Two bottles of whiskey for the way.”
Plok, duk, plok, duk, plok, duk, duk.
“And I sure would like some sweet company.”
Plok, plok, duk, duk, duk, plok, duk, duk.
“And I’m leaving tomorrow, what do you say…”
Plok, duk, plok, duk, plok, duk, duk.

Awalnya saya sempat kikuk; gerakan saya kaku dan kurang seirama. Tapi seiring berjalannya lagu, saya mulai bisa mengikuti. Setelah beberapa saat, saya memberi kode agar lagu berhenti. Lagu selesai tanpa refrain.
“Sekarang tanpa lagu…,” ujar saya. “Kita bermain cepet-cepetan…”
Dan dalam hitungan ke-tiga, kami bertiga memainkan gelas masing-masing di atas meja kecil. Kami bergerak, kami bertepuk, kami meletakkan gelas, kami bertepuk lagi, memukulkan gelas dan membalikkan gelas. Awalnya lambat, makin lama makin cepat.
“Plok, plok, duk, duk, duk, plok, duk, duk.”
“Plok, duk, plok, duk, plok, duk, duk.”

Sekolah, orangtua, dan siswa harus saling bekerjasama, saling mengisi. Saat harmonisasi terjadi, semua bergerak secara ritmis, semua akan terdengar merdu dan terlihat indah.
“You’re gonna miss me when I’m gone…”
Plok, plok, duk, duk, duk, plok, duk, duk.
You’re gonna miss me when I’m gone…”
Plok, duk, plok, duk, plok, duk, duk.

Karangturi: BAIK! BERBAKAT! BISA!!!

Harjanto Halim

Mei 2016

Rahmat Petuguran adalah pemimpin redaksi PORTALSEMARANG.COM. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia juga aktif menjadi peneliti bahasa. Sebagai peneliti bahasa ia menekuni kajian sosiolinguistik dan analisis wacana. Kini sedang melanjutkan studi di Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora (Linguistik) Universitas Gadjah Mada.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending