Resensi Buku: Tiga Babak Karni Ilyas

Biografi orang (sukses) Indonesia hampir selalu menggunakan plot tiga babak: terlahir susah, bekerja keras dan sedikit beruntung, lalu mencapai puncak kesuksesan. Buku Karni Ilyas Lahir untuk Berita tidak bisa keluar dari formulasi ini.

Babak pertama kehidupan Sukarni, nama lahir Karni Ilyas, adalah ketika melewati masa kanak-kanak di Balingka, Kaki Gunung Singgalang, Sumater Barat. Karni kecil justru ditimpa kemalangan beruntun. Pertama, perang sudara RI dan PRRI menghancurkan rumah neneknya, Amak Abai. Ini rumah besar dan cantik lantaran dihiasi jendela kaca. Kedua, rumahnya terbakar oleh tegangan arus pendek. Jadilah Karni dan keluarga harus mengontrak rumah yang sempit. Ketiga, ibunya, Syamsirah, meninggal saat melahirkan anak ketiga.

Karni kecil hidup bersama neneknya hingga lulus SMEA 1 Simpang Haru. Sebagaimana pemuda Padang lain, Karni merantau ke Jakarta. Bedanya, Karni menyeberenag dengan niat awal kuliah, bukan mencari penghidupan. Di Jakarta ia hidup membantu sudaranya yang tukang jahit. Dengan cara itulah ia memperoleh serus rupiah per hari untuk membiayai kuliah dan jajan.

Pernah satu ketika Karni hanya mengantongi duit 100 perak. Ia berencana melamar jadi wartawan Suara Karya saat itu. Setelah menghabiskan 70 perak untuk mondar-mandir, saldonya tinggal 30 perak. Padahal untuk sampai ke Suara Karya ia musti 3 kali lagi naik bus yang sekali naik 15 rupiah. Terpaksa ia naik bus ke Pasar Rumput, dari Pasar Rumput ke Lapangan Banteng jalan kaki, supaya bisa naik bus dari Lapangan Banteng ke Tanjung Priok.

Babak kedua hidup Karnil Ilyas ditempuh saat mulai bekerja menjadi wartawan Suara Karya, surat kabar yang dibesut tokoh-tokoh Golkar. Atas jasa Rahman Tolleng, pemimpin redaksi, anak muda dari daerah, bertubuh kecil, dan belum berpengalaman ini bisa mengawali karir jurnalistik yang dicita-citakannya.

Syarifa

Bukan ibu atau neneknya, perempuan yang memuluskan karier Karni adalah Syarifa Syiga. Dia gadis berusia 15 tahun yang dipaksa kawin saat berusia 12 tahun. Nasibnya tragis. Setelah punya satu anak, si nenek yang tidak suka lagi dengan si mantu memaksa Syarifa cerai supaya bisa dikawnikan lagi dengan orang lain. Ia kabur dengan pacarnya namun akhirnya tertangkap.

Karni meliput persidangan yang mengadili Salim Alhadar, pacar Syarifa, atas tuntutan dari ayah dan nenek Syarifa. Selisih beberapa detik setelah ketok palu, Syarifa mengeluarkan silet untuk mengancam ibunya. Petugas berusaha memegangnya. Tapi ia lari sampai terpojok. Di luar dugaan, Syarifa memasukan silet ke mulut dan menelannya. Sial bagi Syarifa, beruntung bagi Karni.

Liputan Karni soal nasib Syarifa menjadi berita utama Suara Karya 23 Juli 1973. Judulnya: Akhir Kisah “Siti Nurbaya 73”: Syarifa Telan Pisau Silet. Dilengkapi foto seperempat halaman, hanya Suara Karya yang memuat berita menggegerkan itu. Sejak saat itulah karir Karni melejit. Syarifa yang malang mengantar Karni pada babak ketiga kehidupannya.

Memiliki rekam jejak yang cemerlang, wartawan muda ini dilirik majalah Tempo yang punya reputasi baik. Adalah wartawan Tempo Harun Musawa yang mengajak Karni bergabung. Mentornya di Suara Karya, Rahman Tolleng, memberi Karni izin.

Cerdas, ngotot, dan tak lekas puas membuat Karni juga berhasil mencetak sejarah dengan menghasilkan sejumlah liputan ekslusif untuk Tempo. Goenawan Mohamad, Pimred Tempo saat itu yang dikenal tak terlalu senang memuji orang, sampai memberinya penghargaan. Di Tempo, dalam soal-soal hokum (kecuali hukum rimba dan karma), Karni adalah “ahli”nya. Dialah desainer laporan utama Tempo tentang hukum selama sewindu terakhir. Demikian bunyi Surat dari Redaks Tempoi 26 September 1987 (hlm. 111) untuk menghormati kerja keras dan kecemerlangan Karni.

Salah satu catatan membanggakan Karni adalah keberhasilannya mewawancara Kartika di Geneva. Dialah janda cantik Haji Achmad Tahir. Tahun 1992 ia bersengketa dengan PT Pertamina soal duit 23 juta dolar di Bank Sumitomo. Sejak tahun 1978 pers sudah berusaha mewawancara Kartika. Tapi, jangankan menemui para wartawan, datang di sidang pun tidak.

Saat wartawan lain berpuas diri meliput persidangan, Karni kepingin wawancara langsung dengan Kartika. Usahanya panjang dan melelahkan. Lobi digencarkan sejak 1991 tapi Kartika baru memberi lampu hijau tahun berikutnya. Sampai akhirnya, Karni berhasil mewawancara Kartika di Geneva. Hasil wawancaranya “Suami Saya Hanya Kambing Hitam” jadi bagian laporan utama Tempo 22 Februari 1992. Pujian pun membanjirinya.

Kecemerlangan karir jurnalistik Karni adalah gabungan kecerdikasn, kecintaan pada profesi, dan keberuntungan. Pascaliputan tentang Kartika, Karni beberapa kali mencetak headline. Sebagai wartawan ia berkompetisi dengan media lain, berkompetisi dengan senior, sekaligus berkompetisi dengan dirinya.

Heroisme

Fenty Efendi, penulis biografi setebal 396 ini, berhasil mengemas kisah hidup Karni Ilyas dengan renyah. Maklum, sang penulis yang juga wartawan kenal baik dengan Bang Karni. Sayangnya, biografi ini tak bisa membebaskan diri dari jebakan heroisme. Inilah jebakan yang paling sering dialami penulis biografi saat menulis tokoh yang dikagumi. Fenty kelewat batas membeberkan kebaikan Karni.

Pada bagian awal buku ini misalnya, Fenty hendak mem-frame Karni sebagai anak yang terlahir susah. Tapi hasilnya justru paradoks. Karni memang mengalami tiga kemalangan, tapi ia tetaplah anak muda yang beruntung pada masanya. Kakek dan neneknya orang berduit, bahkan bisa membayar zakat mal sekali panen, juragan kain kelas kakap pula. Ayahnya jadi tukang jahit, profesi dengan gengsi ekonomi dan sosial sendiri pada masa itu. Framing Karni kecil sebagai anak desa yang hidup susah agak dipaksakan.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Sumber gambar: Karni Ilyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.