Mengapa Helen Keller Tak Menyukai Komentar Sastra?

Selain berkat gurunya yang luar biasa, Anne Sullivan, perkembangan intelektual Helen Keller sangat dipengaruhi oleh karya sastra yang dibacanya. Jika didaftar, ada ratusan (atau ribuan?) puisi, cerita anak, novel, dan drama yang pernah dibacanya. Berkat bacaan itu, Helen bisa membangun kembali dunianya setelah kehilangan pendengaran dan penglihatan.

Dalam Story of My Life, otobiografinya, Helen menyebut sejumlah judul buku yang amat disukainya. Ia juga menyebut sejumlah penyair, penulis cerita, seperti Homerus, Horace,  Goethe, Shakespears, Jean de La Fontaines, Hawthrone Juana Spyri, Charles Dickens, Musset, Hugo, Schiller, Mark Twain, dan nama-nama lain terasa asing bagiku.

Bagi Helen, cerita adalah dunia baru yang membuatnya bisa mengenal orang lain selain keluarga dan teman-temannya. Melalui puisi dan cerita yang dibacanya, ia bersimpati kepada pohon, binatang, dan manusia lain.

Tapi disi lain, ia tampak kurang suka dengan komentar dan kritik sastra yang disampaikan dosen-dosennya saat ia kuliah di Radcliffe. Ketikaksukaan itu bahkan disampaikan Helen dengan ungkapan yang cenderung kasar.

“…seringkali aku merasa bosan membaca semua makna dalam kalimat-kalimat yang telah diungkapkan oleh para kritikus sastra dan komentator. … semuanya justru menyurutkan semangat dan membingungkanku. Maka, diam-diam aku berjanji kepada diri sendiri bahwa aku tak akan membaca komentar-komentar mereka lagi.”

Helen Keller memiliki bakat dan kemauan belajar luar biasa. Ia menerangi dunianya yang gelap dan sunyi dengan bacaan luar biasa, melebihi bacaan anak lain yang memiliki pendengaran dan penglihatan sempurna.

Ia menyukai sejarah dan menaruh ketertarikan besar terhadap sejarah Yunani Kuno. Ia membaca ringkasan abad pertengahan. Dan dia suka menulis cerita. Sesuatu yang diakui tak disukainya adalah: aritmatika.

Lantas, kenapa Helen merasa komentar dan kritik sastra adalah sesuatu yang tak perlu?

Dia berkisah, bahwa setiap orang memiliki kesan terhadap karya sastra yang dibacanya. Orang bebas memberikan intepretasi atas kisah yang didengarnya. Ketika membaca karya sastra, ia didorong oleh energi yang agung untuk membangun dunia baru. Tetapi komentar sastra menghalangi itu semua, membuat “keagungan” sastra justru dikerdilkan oleh penjelasan-penjelasan teknis yang membingungkan.

Ada beberapa profesor sastra di Redcliffe yang menurut Helen justru menjauhkannya dari sosok-sosok dalam dunia sastra yang menginspirasinya.

“…para cendekiawan lupa bahwa kebahagiaan kita akan karya-karya besar sastra lebih bergantung kepada kedalaman simpati kita ketimbang pemahaman kita. masalahnya, amatlah sedikit penjelasan mereka yang berat yang tertinggal di dalam ingatan. Pikiran menjatuhkan penjelasan itu bak cabang menjathkan buahnya yang sudah busuk,” katanya.

Ia menulis lebih lanjut “Bukannya aku keberatan dengan pengetahuan luas dari karya-karya kondang yang kami baca. Aku hanya keberatan pada komentar-komentar yang tiada akhir dan kritikan-kritikan memusingkan yang tak mengajari kami apa pun kecuali satu hal: setiap kepala memiliki pendapat berbeda.”

Beruntung, selain profesor-profesor sastra yang disebutnya membosankan, Helen juga memiliki Profesor Kittredge. Profesor ini diakui Helen justru mampu menerjemahkan apa yang dikatakan pujangga.

“Rasanya ‘seolah-olah penglihatan baru diberikan kepada orang buta’” tulisnya. (sumber gambar: cultureunplugged.com)

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.