Keindahan Indonesia adalah Kedamaiannya

Kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kota Malang menjelang Subuh. Di ketinggian 444 mdpl, hawa dingin langsung terasa begitu kami keluar gerbong.

Bersama kami, ada puluhan anak-anak muda lain yang turun. Usia mereka mungkin 20 hingga 30an tahun. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berjalan menyusuri peron, menjinjing tas masing-masing.

Saat itu adalah hari terakhir tahun 2016. Anak-anak muda itu, agaknya, datang ke Kota Malang untuk menikmati libur akhir tahun.

Ada sepasang suami istri muda dari Jakarta, ada sepasang kekasih dari Jepara. Juga sekelompok kecil mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Bandung

Melihat anak-anak muda itu, saya sadar bahwa Indonesia itu indah. Ini bukan soal lanscape gunung, bukan soal kehangatan sunrise, juga bukan soal tari-tarian yang jumlahnya ribuan.

Keindahan Indonesia terletak pada kegembiraan anak-anak muda. Mereka merasa aman meninggalkan rumah ratusan-ribuan kilometer. Mereka bisa melancong beberapa hari hanya dengan bekal beberapa ratus ribu rupiah.

Keindahan semacam itu, saya kira, adalah jenis keindahan yang tidak bisa ditemukan di negara-negara yang berkonflik. Apalagi perang.

Bisakah anak-anak muda Allepo, Mosul, atau kota perang lain tertawa lepas di stasiun kota seperti yang saya lihat di Stasiun Malang jelang Subuh itu? Agaknya tidak. Jenis keindahan itu barangkali telah lama hilang di sana.

Keindahan Indonesia adalah perdamaiannya, bukan sekadar kuburan batu, bukan cuma rumah adat, bukan hanya makanan tradisional.

Keindahan bernama perdamaian itu hanya bisa dimiliki oleh bangsa ini, saya kira, jika kita menciptakannya. Juga nenjaganya.

Terus terang, saya khawatir jenis keindahan ini akan hilang. Pasalnya, semangat permusuhan tampaknya mulai datang. Konflik antaragama, antarsuku, mulai terdengar di mana-mana.

Nah, pada saat-saat seperti itulah, anak-anak muda mestinya tampil jadi juru perekat, mendamaikan, menenteramkan. Supaya: keindahan Indonesia terjaga dana terus menerus bisa kita nikmati bersama.

Kalian tidak rela kan mati muda karena konflik? Kalian tidak mau kan kehilangan orang tua, saudara, dan kawan tercinta karena perang membara? Kalian tidak mau kan kehilangan kesempatan berumah tangga dengan cewek/cowok yang selama ini kalian cinta? Mblo? (Foto: backpackerborneo.com)

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *