Connect with us

Grup WhatsApp kantor biasanya terdiri dari dua grup. Grup pertama adalah grup resmi yang diikuti oleh semua anggota divisi, dari bos sampai yang paling teri. Grup kedua adalah grup karyawan rendahan. Di sinilah para teri berkumpul.

Karena jadi grup resmi, grup pertam bersifat normatif. Dalam grup ini orang-orang membahas pekerjaan. Bos memberi instruksi, lalu para cecunguk berpura-pura menanggapinya dengan serius.

Kalau bos ulang tahun, para cecunguk beramai-ramai menggelar parade doa. “Selamat ulang tahun, Pak. Semoga panjang umur dan sehat selalu.”

Kalau bos pamit perjalanan ke luar kota, barisan cecunguk sudah antri untuk mengucapkan “Hati-hati, Bapak. Semoga perjalanan Bapak lancar dan sukses.”

Lalu, kalau bos pamit umroh, apa yang anggota grup katakan? Paling pol isinya doa. Parade doa. Karena doa satu dengan doa lainnya hampir serupa. Tinggal kopi paste dan ganti satu dua kata saja.

Karyawan-karyawan muda yang belajar kepada seniornya bahwa keterampilan menjilat itu perlu, biasanya akan mengikuti pola ini. Yang penting muncul, biar terlihat simpatik. Gak apa-apa ucapannya normatif.

Kalau saya jadi bos, saya pasti stres harus membaca dan menanggapi ucapan-ucapan minim kreativitas seperti itu. Doa dan ucapan kok hampir sama satu dengan lain, seperti mengisi kolom KTP saja!

Tentu itu membosankan. Bisa bikin mati muda.

Apa di antara belasan atau puluhan anggota grup yang memiliki sensitifitas sehingga bisa membuat ucapan dan doa yang lebih segar? Segar itu maksudnya relatif baru, membangkitkan rasa ingin tahu, syukur-syukur kalau bisa menginspirasi.

Misalnya saat bos pamit umroh. Apa tidak ada karyawan yang bisa bikin ucapan: Semoga dapat hidayah, Bos!

Atau: umroh muluk sih, Bos? Udah salah lima waktu belum?

Begitu lho.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending