Kebenaran Sederhana dan Kebenaran Rumit

Apakah kebenaran telah menjadi kebutuhan universal? Barangkali iya. Itulah yang membuat agama-agama diikuti miliaran orang, ilmuwan tak lelah menjelah dan meneliti, dan para filsuf rela hidup menyendiri  untuk merenungkan kebenaran hakiki.

Baik agama, sains, maupun filsafat menawarkan jalan menuju kebenaran. Ketiga-tiganya memberi janji bahwa kebenaran ada dan bisa diraih dengan prosedur tertentu. Dan manusia, selalu tergoda oleh tawaran-tawaran itu.

Orang-orang yang telah memilih salah satu prosedur itu cenderung menilai kebenaran sebagai gejala yang sederhana. Saya menyebut itu sederhana karena kebenaran menjadi gejala yang memiliki kriteria jelas. Dengan memilih salah satu prosedur yang ada, manusia “tinggal” menyesuaikan realitas yang dihadapinya dengan kriteria ideal yang diyakininya.

Bagi orang-orang yang mengimani agama, segala sesuatu adalah benar jika didalilkan benar oleh kitab suci, perkataan Nabi, serta institusi agama yang diikutinya.

Bagi orang-orang yang memilih prosedur sains, segala sesuatu adalah benar jika logis, empiris, dan dapat dibuktikan dengan prosedur ilmiah yang telah disepakati komunitas akademik.

Adapun bagi orang-orang yang mengambil prosedur filsafat, segala sesuatu benar jika telah ditimbang kebaikan dan keburukannya secara mendalam (radikal) dengan arif dan bijaksana.

Tiga pernyataan di atas saya tulis dengan simplikasi. Pada praktiknya, baik prosedur agama, sains, maupun filsafat memiliki paradoks internalnya. Itu yang membuat beragama, berilmu pengetahuan, dan berfilsafat menyimpan kerumitannya sendiri.

Kebenaran agama, misalnya, menjadi tidak sederhana karena di dalamnya ada tarikan-tarikan internal. Dalam memaknai teks kitab suci saja, ada banyak prosedur yang bisa dipilih. Masing-masig prosedur mendesakkan diri untuk menjadi prosedur utama. Prosedur itu, antara lain, bisa berupa metode tafsir (tekstual, kontekstual, dll), mazab, juga legitimasi tokoh.

Sains juga rumit  karena prosedur internalnya tak tunggal dan cenderung berubah dari waktu ke waktu. Dulu orang menganggap bahwa pengetahuan yang berharga berasal dari pikiran (dalam bentuk episteme). Tak lama, orang cenderung berubah sikap dan menganggap pengetahuan yang berharga berasal dari lingkungan (empirisme). Sejak studi-studi kritis muncul, orang kembali beralih dengan memusatkan perhatian pada bagaimana pengetahuan diproduksi, didistribusikan, serta dampak apa yang berpotensi ditumbulkannya.

Filsafat barangkali punya prosedur yang paling longgar dalam mendefinisikan dan membuat kriteria kebenaran. Tapi justru karena filsafat lebih longgar, prosedur-prosedur pencarian kebenaran yang ditawarkannya semakin bervariasi. Dan karena itu, kebenaran yang dijanjikannya semakin rumit dan abstrak.

Orang bisa menemukan kebenaran sederhana atau rumit bergantung pada kehendak dan “jalan nasib” yang ditempuhnya.

Banyak orang yang beragama secara sederhana dengan menempuh salah satu pendekatan tafsir, mempelajari salah satu saja mazab, sekaligus mengikuti perkataan tokoh yang dihormatinya.  Dalam masyarakat Jawa, sikap ini kerap terekspresi dalam ungkapan “Pejah gesang nderek yaine.”

Pilihan sederhana juga bisa dibuat para ilmuwan. Peneliti pada bidang matematika murni bisa saja memilih untuk melanjutkan tradisi keilmuwan Pytagoras. Peneliti pada bidang lain mungkin akan memilih tradisi kilmuwan Bacon. Sementara ilmuwan lain pada bisang sosial barangkali memutuskan untuk mengikuti gagasan-gagasan gerombolan Frankfurt.

Orang-orang yang telah memilih (dan kemudian meyakini) prosedur  kebenaran apa yang dipilihnya cenderung bisa mengabaikan kerumitan-kerumitan kebenaran dan menjadikan kebenaran relatif lebih sederhana. Pilihan ini akan membebaskan dirinya dari paradoks dan dilema. Pertentangan-pertentangan gagasan pus bisa dihindari.

Tapi bagi orang-orang yang belum memilih, kebenaran akan tetap rumit. Ada terlalu banyak pertentangan yang harus diselesaikan. Dalam diri orang seperti ini, kebenaran jenis satu dan kebenaran lainnya bisa muncul bersamaan tetapi saling bertentangan. Pertentangan itu memaksanya harus membikin pilihan: mana kebenaran utama yang harus dipilihnya? Atau tidak dipilih sama sekali dan membiarkan dirinya asyik dalam dilema?

Salam super!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.