Industri Buku, Mengapa Lesu?

Buku nyaris tak bisa dipisahkan dari pendidikan, baik secara historis maupun praktis. Buku memungkinkan pengetahuan diedarkan, menjangkau ingatan pembacanya. Kegemaran warga membaca buku berkorelasi dengan keluawasan wawasan. Tapi, mengapa industri buku cenderung lesu?

***

Kantor itu terletak di Kecamatan Kiara Condong, sekitar satu kilometer dari stasiun kereta Kiara Condong, Kota Bandung. Gerbangnya tampak besar, seperti gerbang pabrik kebanyakan. Pintu gerbang dijaga satpam dari sebuah pos. Mobil boks hilir mudik keluar masuk.

Itulah gambaran suasana kantor penerbit Syamil pada Agustus 2015 lalu. Ini adalah salah penerbit besar di Indonesia. Dulu, penerbit ini menerbitkan berbagai jenis produk cetakan, mulai dari Al-Quran, buku cerita bergambar, hingga cerita fiksi.

Namun belakangan, manajemen memutuskan untuk menghentikan menerbitkan jenis buku yang ketiga. Dengan alasan marketing yang lebih pasti, Syamil fokus mencetak Al-Quran dan buku cerita bergambar. Jenis cetakan pertama, Al-Quran, memiliki segmen pasar yang lebih pasti. Adapun jenis kedua, meskipun tidak akan laris manis, memiliki pasar khusus yang loyal.

Menurut Koordinator Divisi Kreatif Syamil, Koko Nata, situasi industri buku memang banyak berubah. Setelah mencapai puncak kejayaan pada sekitar 2005, grafiknya terus menerus pada tahun-tahun setelahnya. Untuk bertahan di industri ini, setiap penerbit harus memiliki produk andalan. Syamil mengandalkan penjualan Al-Quran.

Kondisi serupa dialami Penerbit Mizan. Penerbit yang berbasis di Bandung ini dulu memiliki berbagai lini. Salah satu lini Penerbit Mizan adalah Lingkar Pena Publishing House. Divisi bisnis ini dulu didirikan Mizan karena pasar sastra populer islami sedang booming. Berkongsi dengan Forum Lingkar Pena (FLP), Mizan menerbitkan sejumlah novel pop islami melalui penerbit ini.

Namun, kesepakatan itu berakhir pada 2012. Pasar di ceruk itu dinilai tidak lagi menguntungkan. FLP dan Mizan yang dulu begitu “mesra” harus putus kongsi di tengah jalan.

“Zaman itu memang industri buku sangat menjanjikan. Kondisinya lagi bagus. Tapi sekarang, 8 tahun kemudian, kondisinya udah beda. Kalau dulu bikin anak penerbit sekarang dimerger. Agar strukturnya lebih simple. Sekarang Mizan hanya tiga, Mizan yang di Bandung, Bentang Pustaka di Jogjakarta dan Noura Books ini yang merupakan merger dari berbagai lini termasuk LPPH di disini. Ini sebagai gambaran aja,” kata Rahmadiant Rusdi, mantan CEO LPPH, dikutip Azwar (2010).

Keterangan yang sama dikemukakan Ali Muakhir. Pria yang pernah bekerja di Mizan ini menceritakan, kejayaan industri buku berlangsung pada 2005-an. Saat itu, bahkan katanya, berjualan buku sudah seperti jualan kacang goreng. “Buku terbit, dua minggu kemudian cetak ulang. Sudah seperti jualan kacang goreng,” katanya kepada Merah Putih.

Angka penjualan buku sekarang terus menurun. Data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) menunjukkan, di jaringan toko buku terbesar Gramedia, penurunan terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2012 penjualan mencapai 33.565. 472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar. Angka penjualan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar. Sebuah penurunan yang cukup tajam di tahun 2014 yang lalu.  Data ini memang hanya bersumber dari Gramedia. Namun, data Gramedia biasanya menunjukkan tren nasional.

Migrasi Digital

Ali Muakhir mengakui, kehadiran internet adalah salah satu sebab melesunya industri buku. Kini lebih banyak orang memperoleh informasi dari internet daripada buku. Dengan internet, jenis informasi apa pun bisa diperoleh dengan sangat cepat. Tinggal klik, seseorang bisa mengunduh file buku, jurnal, atau laman web. Biaya produksi internat jauh lebih murah dan mudah dibandingkan dengan buku. Sehingga, informasi di internet bisa diperoleh gratis, tis, tis.

Hantaman internet bahkan tidak hanya dirasakan pelaku industru buku. Industri media cetak, koran dan majalah, juga terancam oleh kehadiran media baru ini. Sejumlah koran dan majalah besar di Amerika, sebutlah New Yorker, berhenti cetak karena oplah terus menurun. Kue iklan untuk jenis media cetak juga terus berkurang.

Hal yang sama menimpa sejumlah surat kabar di Indonesia. Sinar Harapan, pemain laman di bisnis media, mengumumkan berhenti cetak pada 1 Januari 2016. Padahal menurut peneliti Australia David T Hill, Sinar Harapan pernah menjadi salah satu di antara tiga emporium media terbesar di Indonesia. Pada dekade 1970-an, koran ini menjadi media dengan jumlah eksemplar dan penerimaan ikan terbesar kedua setelah Kompas. Harian Bola, yang selama belasan tahun leading di media cetak olahraga, juga sudah pamitan kepada pembaca pada 31 Oktober 2015.

Segmentasi buku pelajaran dan kuliah dinilai lebih aman, ternyata juga mulai goyah. Pasalnya, terjadi perubahan perilaku baca mahasiswa dari referensi berbentuk cetak ke referensi berbentuk digital. Lebih praktis dan murah.

“Biasany sih download jurnal. Untuk kebutuhan kuliah kan ada banyak jurnal gratis. Tapi untuk beberapa judul, memang harus beli bukunya sih. Apalagi kalau buku-buku pokok yang harus dipelajari tiap hari, “ kata Ivana, mahasiswi di Semarang.

Namun demikian, migrasi bacaan dari cetak ke digital ternyata juga memunculkan kekhawatiran. Perilaku pembaca buku cetak dan buku digital berbeda. Analisis ini, setidaknya telah diakui secara neurologi. Dalam jangka pendek, tidak ada perbedaan prestasi apap pun antara siswa yang membaca buku cetak dengan digital. Tapi dalam jangka panjang, memori tentang isi bacaan tersimpan lebih lama dalam ingatan dari sumber buku cetak.

Dosen University Campus Suffol Dr Kate Garland membuktikan itu dalam riset berjudul Paper Vs Digital pada tahun 2014. Garland menjelaskan bahwa ketika mengingat sesuatu, ingatan muncul tanpa harus berusaha mengingat konteks di mana pernah mempelajari sesuatu atau mencari petunjuk untuk menemukan jawaban. Menjadi tahu saja sudah cukup karena dapat mengingat fakta-fakta penting lebih cepat dan mudah.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang membaca dari kertas lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibaca. Ketika membaca lewat komputer, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan harus membaca berulang-ulang agar pembaca dapat menjadi tahu,” kata Garland.

Keunggulan buku, demikian isi laporan Garland, juga terletak pada sensai pembaca. Menurutnya, ketika membaca buku, orang merasa lebih personal, human, dan lebih merasa tertarik dalam urusan penampilan.

CEO Penerbit Bentang Salman Faridi menganalisis, ada dua sebab yang membuat industri buku lesu. Faktor pertama yang paling kentara adalah situasi ekonomi makro. Tidak dapat dimungkiri bukan hanya industri buku saja yang terpukul selama 2 semester terakhir ini. Hampir semua sektor riil melaporkan pertumbuhan negatif.

Industri otomotif yang biasanya dijadikan barometer pertumbuhan konsumsi selain properti juga mengalami perlambatan. Terlebih, dengan menggilanya nilai kurs mata uang dolar yang semakin digdaya terhadap semua mata uang, termasuk rupiah, membuat pembelanjaan bahan baku dengan menggunakan dolar semakin mencekik rupiah, dan melambungkan harga jual.

“Selisih pada harga pembelian kertas secara otomatis akan berpotensi meningkatkan harga jual buku kepada pembaca. Sementara itu, bagi pelaku bisnis menaikkan harga jual terkadang ibarat simalakama. Harga jual naik menjamin marjin tetap ideal, akan tetapi membuat konsumen menahan pembelian dan mengalihkan pada pembelian lain yang lebih prioritas. Serba susah jadinya,” katanya.

Faktor kedua, penerbit semakin bergantung dengan buku-buku best seller. Namun ironinya, naskah yang laku dan atau sangat laku, lazim disebut mega best-seller, semakin lama semakin berkurang. Akibatnya buku yang dikirim ke retail semakin cepat kembali ke gudang penerbit. Dengan masih terbatasnya jumlah toko buku besar yang beroperasi secara nasional, bukan upaya yang mudah agar semua mitra toko buku mendapatkan display optimal.

“Akibat tidak langsung bagi penerbit yang mungkin tidak disadari pembaca, banyak penerbit memilih menghindari risiko menerbitkan buku-buku bagus dan berkualitas namun hanya memiliki potensi pembaca yang minimu,” lanjutnya

Intervensi Negara

Dibandingkan sektor lain, industri buku memiliki tempat khusus karena berkaitan dengan pendidikan masyarakat. Oleh karena itu, tidak sedikit pihak yang berharap negara mengintervensi industri buku agar tetap bugar. Kondisi perbukuan yang sehat bukan hanya akan menguntungkan pengusaha, tetapi juga meningkatkan daya baca masyarakat. Sebagaimana telah jadi asumsi umum, daya baca berkorelasi terhadap pengetahuan masyarakat.

Di beberapa negara, intervensi dilakukan dengan kebijakan harga tetap. Jerman dan Perancis, misalnya, menerapkan Undang-undang kebijakan harga tetap yang diresmikan oleh negara. Kebijakan harga tetap (fixed book price) ini memastikan bahwa harga jual akhir buku ke tangan konsumen haruslah disepakati antara asosiasi penerbit dan retail. Kesepakatan ini menjamin bahwa harga jual buku akan ditentukan pada kisaran yang dapat dijangkau masyarakat banyak.

Di Indonesia, inisiatif untuk melakukan intervensi sudah dimulai dengan pembahasan Rancang Undang-Undang Perbukuan Nasional. Badan Legislasi DPR, sebagaimana dapat dibaca dalam notulensi sidang, RUU Perbukuan diperlukan untuk

membangun peradaban bangsa dengan pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan melalui buku; mengatur mutu, jenis, ketersediaan, harga, dan pemanfaatan buku; dan mengatur sistem perbukuan secara komprehensif.

Sasaran pengaturan dalam RUU tentang Sistem Perbukuan adalah tersedianya buku berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat, pengakuan hak cipta para pelaku industri perbukuan, Standarisasi mutu pencetakan buku, Ketersediaan bahan baku kertas dan tinta dengan harga murah.

Beberapa permasalahan mengenai sistem perbukuan yang akan diatur dalam RUU yaitu mengenai harga bahan baku buku seperti kertas dan tinta; kompentensi SDM yang rendah dan ketidaklengkapan peralatan percetakan yang mengakibatkan tidak optimalnya fungsi percetakan; distribusi buku pendidikan yang tidak merata baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk elektronik; belum meratanya toko buku sebagai distributor buku di tingkat kabupaten; persaingan yang bebas antar penerbit dan distributor menyebabkan harga buku tidak standar.

Jika RUU itu digedok, agaknya akan memberikan angin segar bagi industri buku. Asal: dilaksanakan. Rahmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.