Apakah Kehidupan Cukup Berharga untuk Diperjuangkan?

kehidupan

Sebuah keluarga di Surabaya rela mengakhiri kehidupan dengan cara yang tragis: bom bunuh diri di gereja. Keluarga itu diketahui melakukan pengeboman di tiga gereja berbeda.

Kondisi itulah yang membuat saya bertanya-tanya, apakah bagi pelaku teror kehidupan tidak cukup berharga? Apa yang membuat orang bisa berpikir bahwa kehidupan tidak cukup berharga untuk dipelihara sehingga layak dikorbankan untuk tujuan tertentu?

Pertanyaan itu lama saya pikirkan karena, bagi saya pribadi, kehidupan adalah sesuatu yang amat berharga. Karena begitu berharga, ia harus dilindungi dan dijaga sekuat tenaga. Untuk menjaganya saya bahkan perlu bekerja keras, mengeluarkan sejumlah pengorbanan.

Para ahli evolusi berhipotesis, kemampuan mempertahankan nyawa bahkan telah menjadi salah satu insting makhluk hidup. Kesanggupan untuk menyelamatkan diri tertanam dalam DNA manusia.

Itulah yang membuat banyak orang, saya kira, sepakat bahwa kehidupan adalah sesuatu yang berharga. Orang-orang perlu menjaga olahraga  agar sehat dan panjang usia. Orang perlu hati-hati beraktivitas agar tidak mengalami kecelakaan kerja. Orang perlu membayar asuransi agar ada yang bisa menolong saat penyakit tertentu menyerangnya.

Bagi saya pribadi, kehidupan berharga karena tiga alasan. Pertama, kehidupan yang saya jalani adalah karunia Tuhan. Hak menghidupan dan mematikan makhluk adalah hak Tuhan. Meskipun ilmu kedoktern berkembang sangat pesat dalam seabad terakhir, manusia tidak memiliki kemampuan menghidupkan. Menciptakan kehidupan adalah (masih) hak prerogatif Tuhan.

Kedua, Tuhan menghidupkan saya untuk sebuah tujuan, yaitu untuk beribadah. Kesempatan beribadah hanya bisa dilakukan oleh manusia ketika ia hidup. Amal manusia akan putus jika manusia itu mati, kecuali untuk tiga amalan khusus.

Ketiga, ini alasan yang sangat manusiawi: kehidupan itu indah dan menyenangkan. Selama hidup saya bertemu dengan orang-orang yang saya cintai, bertemu dengan keponakan yang menggemaskan, orang tua yang amat saya hormati, istri yang cantik dan baik hati, dan sebagainya.

Tiga alasan itulah yang membuat hidup terasa berharga sehingga tidak habis pikir, mengapa ada orang yang “rela” mengorbankan kehidupan diri dan anak-anaknya? Apakah bagi mereka kehidupan tidak cukup berharga?

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, kita perlu menyelidiki sejumlah keyakina, doktrin, dan asumsi yang membuat orang bisa mengorbankan nyawa. Keyakinan, doktrin, dan asumsi itu bisa bersumber dari individu, tetapi juga bisa berasal dari mekanisme sosial tertentu.

Agama, Tanah, dan Negara

Pertama, dalam hampir setiap agama berkembang keyakinan bahwa ada dunia setelah mati yang abadi dan hakiki. Secara simplikatif, dunia itu dideterminasikan dalam dua kategori yaitu surga dan neraka.

Surga digambarkan sebagai dunia yang indah. Keindahan surga berkali-kali lipat daripada keindahan dunia. Orang meyakini keberadaan surga akan berusaha keras menggapai “tempat” itu dengan berbagai amalan yang dipersyaratkan agamanya.

Kedua, di berbagai komunitas ada ajaran yang berkembang bahwa ada nilai yang demikian berharga untuk diperjuangkan sekalipun harus mempertaruhkan nyawa.

Keyakinan ini tidak secara ekslusif hanya ada dalam agama, tetapi juga dalam bentuk keyakinan individual dan sosial lain.

Orang Jawa misalnya punya sikap sadhumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati. Secara literal, keyakinan itu mengajarkan bahwa orang Jawa sangat menghormati hak atas tanah. Jika tanah direbut, orang Jawa siap akan mempertahankannya meskipun harus bertaruh nyawa.

Negara juga mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari nyawa, yaitu kedaulatan. Demi kedaulatan, negara mendidik warganya untuk siap mengorbankan apa pun yang dimiliki: harta benda dan nyawa. Keterlibatan negara dalam perang perebutan kedaulatan menunjukkan bahwa negara telah mengembangkan mekanisme internal yang dapat membuat rakyat berpikir bahwa kedaulatan adalah sesuatu yang sangat berharga, harus diperoleh meski harus mempertaruhkan nyawa.

Patriot-patriot Jepang dikenal karena kenekatannya melakukan aksi kamikaze. Mereka rela bunuh diri, meledakkan pesawat yang mereka piloti di daerah musuh selama Perang Pasifik.

Tidak hanya di Jepang, prajurit-prajurit lain di berbagai negara juga didoktrin untuk siap mengorbankan nyawa. Mereka siap menjadi orang yang mati pertama kali jika negara memang memerlukannya.

 

Kehidupan yang Bernilai

Orang-orang yang mati karena motif agama mudah ditelusuri rangkaian argumentasinya. Mereka mengira bahwa cara mati demikian adalah cara yang mulia. Adapun setelahnya, mereka akan mendapat imbalan yang lebih berharga dari kehidupan di dunia, yaitu surga.

Betapa pun keliru persepsi tersebut, mikropsikologis para pelaku bom bunuh diri dapat diurai dengan benderang.

Tapi, bagaimana dengan orang yang rela mati demi harta (misalnya, tanah)?  Apakah orang Jawa menganggap tanah demikian berharga? Apakah tanah berkait paut dengan nilai tertentu, misalnya harga diri, yang oleh orang Jawa sanga dijunjung tinggi.

Demikian pula, bagaimana memahami patriot yang rela mati demi negaranya? Apa yang membuat anak-anak muda rela bergabung di berbagai kesatuan militer, terjun ke medan pertempuran dengan meninggalkan kekasih dan keluarganya di rumah, tanpa kepastian akan pulang atau tidak? Apakah negara juga memiliki mekanisme suprarasio yang membuat orang-orang percaya bahwa kematian di medan perang adalah mulia?

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.