Wawancara HAR Tilaar, Guru Menyikapi Perubahan Besar Revolusi Industri 4

Pendidikan hidup dalam ruang sosial yang terus berubah. Salah satu sumber perubahan itu adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi bahkan siap mengantar manusia menyambut revolusi industri 4. Di sini manusia bersiap menyambut perkembangan teknologi nano, semakin massifnya teknologi ditigal, bahkan editing genetik.

Karena zaman terus berubah, relasi guru dengan siswanya juga berubah. Kondisi ini membuat guru perlu membuat sejumlah penyesuaian. Empat komptensi guru musti diterjemahkan sesuai konteksnya. Berikut wawancara dengan profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) HAR Tilaar.

Benarkah kita sedang menuju revolusi industri keempat? Apa tanda-tandanya?

Dalam buku The Fourth Industrial Revolution, ekonomi Jerman Klaus Schwab menjelaskan mengenai berbagai revolusi industri. revolusi industri pertama ditandai denga penemuan mesin upab, revolusi industri kedua diawali penemuan tenaga listrik, ketiga penemuan komputer yang membawa kita ke era digita. Nah, revolusi keempat ini adalah kelanjutan dari revolusi industri ketiga dengan berbagai inovasi.

Schwab membeberkan perubahan besar atau megachance, yaitu perubahan besar dalam kehidupan manusia karena perkembangan tiga bidang, yaitu fisik, digital, dan teknologi. Dalam revolusi industri keempat iini  terjadi teknologi baru yang menyatukan fisik, digital, dan biologis sehingga mempengaruhi seluruh disipli, ekonomi serta industri.

Apa kaitannya perubahan besar pada revolusi industri keempat ini dengan dunia pendidikan?

Perubahan dalam revolusi industri 4 akan menghasilkan berbagai jenis alat dan kemampuan baru yang akan mengubah cara hidup manusia di bumi ini. Perubahan itu memerlukn penyikapan yang berbeda. di sinilah pendidikan berperan mempersiapkan manusia hidup di dunia yang baru itu. pendidikan berperan menyiapkan manusia yang inovatif. Inovasi bertujuan untuk lebih membahagiakan kehidupan manusia. Tetapi di dalam inovasi ada kemungkinan positif dan negatif, bahkan bisa membinasakan manusia itu sendiri.

Di sinilah nilai-nilai etis dalam proses pendidikan mestinya dapat memupuk dan mengembangkan nilai etis dalam kehidupan bersama. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan kemampuan berpikir kritis sehingga dapat melahirkan ekonomi moral, kerja sama gotong royong untuk kebahagiaan manusia bersama.

Apakah perubahan besar yang akan terjadi menuntut masyarakat pendidikan mampu melahirkan manusia dengan sifat dan kriteria khusus?

Dalam menghadapi perubahan besar (megachange) yang disebabkan oleh berbagai jenis penemuan, Klaus Schwab menganjurkan untuk mengembangkan 4 jenis intelegensi. Pertama, intelegensi kontekstual (mind), yang berkaitan dengan bagaimana kita mengetahuai dan menerapkan ilmu pengtahuan. Kedua, intelegensi emosional (hati), berkaitan dengan bagaimana akal dan perasaan kita yang menghubungan diri sendiri dengan sesama.

Ketiga, intelegensi inspiratif (roh), yang berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan tujuan-tujuan sendiri serta bersama, berbagai nilai yang memperbarui perubahan serta tindakan untuk mencapai tujuan bersama. Keempat adalah intelegensi fisikal (body), yang berkaitan dengan bagaimana mengembangkan kesehatan diri sendiri serta sesama warga di sekitar kita.

Itu berarti, untuk menghadapi perubahan besar yang akan datang, kita juga harus melakukan perubahan strategi belajar?

Ada tiga sikap yang dianjurkan untuk menghadapi perubahan besar. Pertama, sikap kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai ekosistem dengan memperhitungkan berbagai kepentingan stakeholder. Kedua, revolusi industri sebeleumnya yang kurang memperhitungkan nilai-nilai etis dari market dalam menimbun kekayaan harus dapat mengembangkan nilai etis baru. Kerja sama harus dilandasi toleransi. Ketiga, perlu kita restrukrisasi ekonomi, sosial, dan politik.

Tiga sikap itu memerlukan nilai dan pengetahuan yang relevan. Di sinilah peran masyarakat pendidikan menjadi jelas dan signifikan. Bagaimana mengembangkan dan membelajarkan nilai-nilai etik itu? itu tugas pendidikan.

Dalam bentuk yang lebih konkret, bagaimana bentuk perubahan dalam bidang pendidikan selama ini?

Dalam Global Education Reform Movement (GERM), Pasi Sahlberg menguraikan ada tujuh aspek perubahan dalam kegiatan belajar dan mengajar. Dimulai adanya standarisasi belajar dan mengajar, fokus kepada calistug, mengajar untuk hasil yang ditentukan sebelumnya, akuntabilitas berdasarkan tes, kontrol birokrasi, gaji guru berdasarkan prestasi kerja, dan meniru negara lain dalam reformasi.

Perkembangan pendidikan dapat dikelompokkan dalam empat fase. Pada fase pertma adalah antara 1960 sampai 1970. Fase kedua adalah fase government pressure, fasi ketiga adalah GERM, dan fase keempat adalah fase yang ideal. Nah, fase yang keempat inilah yang menurut Hargraves merupakan jawaban terhadap revolusi industri keempat.

Apakah kita, bangsa Indonesia, sudah siap atau bahkan berada di fase ideal itu?

Perkembangan pendidikan di negara satu dengan negara lain berbeda-beda. Kalau kita lihat kategori di fase keempat dan membandingkannya dengan kondisi di Indonesia, kita bisa lihat bahwa Indonesia masih jauh tertinggal. Ternyata kita masih jauh dari tujuan sebagai lembaga inovasi, inklusi, dan transparan.

Program ujian nasional yang dewasa ini tetap dilaksanakan merupakan program kematian dari kemampuan inovasi dan inquiri. Peserta didik juga belum mendapatkan kebebasan mengembangkan diri seutuhnya, karena yang dituju justru hanya ingin lulus ujian nasional dan memperoleh ijazah. Demikian pula kondisi guru. Dalam fase ideal, guru adalah profesi yang dilakukan karena panggilan untuk berbakti kepada perkembangan peserta didik.

Berarti, perlu ada perubahan yang mendasar dalam pendidikan kita agar sesuai dengan kriteria fase ideal itu?

Kita justru patut belajar dari pemikiran tokoh pendidikan terdahulu, seperti pendiri Taman Siswa Ki Hajar Dewantara dan INS Kayutanam Moh. Sjafei. Kedua tokoh itu justru telah membuat standar yang tinggi dengan memberikan kemerdekaan peserta didik untuk aktif dan bekerja.  Dalam sistem pendidikan yang mereka gagas juga, evaluasi bukan untuk mengadili peserta didik tetapi sebagai evaluasi perkembangan. Dan kurikulum dan ujian akhir bukan melaksanakan kontrol birokratis, tetapi bertindak sebagai mentor perkembangan peserta didik.

Kalau begitu, apa yang mestinya diubah dan diperbaiki dalam pembelajaran yang dikembangkan guru?

Perubahan besar antara lain terjadi karena kreativita dan enreprenuership yang memungkinkan terjadinya inovasi-inovasi baru dalam kehidupan umat manusia. Maka, model pembelajaran lama dengan “menuangkan air ke dalam botol” harus diganti dengan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis dan inovatif.

Berpikir kritis bukan hanya melalui otak kiri dengan mengembangkan kemampuan dalam matematika dan sains. Berpikir kirits juga oleh otak kanan dengan menekankan pada nilai-nilai. Kedua kemampuan tersebut sama-sama dibutuhkan dalam pengembangan kebudayaan suatu masyarakat.

Nah, strategi pembalajaran begitu sebenarnya sudah dikembangkan Ki Hajar Dewantara. Ketika siswa mulai mengembangkan kemampuan kognitifnya, guru berada di depan. Ketika siswa mulai besar, guru mendampinginya. Ketika siswa sudah dewasa, guru berada di belakanganya. Ing ngarsa sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Apa pesan Prof untuk guru saat ini?

Guru bukan hanya menguasai apa yang diajarkannya, tapi jauh lebih penting dari itu seorang guru memerlukan empati, tanah uji, pengenalan terhadap peserta didiknya, yang ditopang oleh teman sejawatnya serta masyarakat sekitarnya. Rahmat

Prof. Dr. HAR Tilaar, M.Sc.Ed.

Lahir:
Tondano, Sulawesi Utara, 16 Juni 1932

Pendidikan:
University of Chicago, AS (1964-1965)
Indiana University, AS (1967)

Aktivitas:
Profesor Emeritus Universitas Negeri Jakarta
Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

Buku:
Menggugat Manajemen Pendidikan Nasional (2008)
Kekuasaan dan Pendidikan. Pendidikan dalam Arus Pergulatan Kekuasaan (2009).
Pedagogik Kritis (2010)
Kaleidoskop Pendidikan Nasional (2012).
Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendi­dikan Nasional (2012).

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *