Tiga Cara Menguji Kebenaran Berita

Acara Parade Budaya Kita Indonesia masih sangat meriah…. Antusiasme masyarakat… begitu tinggi. Parade Budaya ini betul-betul menggambarkan berwarnanya Indonesia. Tidak ada perasaan takut dan mencekam seperti yang kita alami sebelumnya. Parade budaya di sini berjalan aman, terbit, dan begitu harmonis…. Inilah keharmonisan kemajemukan Indonesia.
 
KUTIPAN di atas adalah laporan langsung Summi Yang. Pada Ahad (4/11) perempuan berambur pendek itu bertugas meliput acara Parade Budaya Kita Indonesia. Dari latar belakang yang tampak di layar, ia melaporkan peristiwa itu dari salah satu sisi trotoar tak jauh dekat Hotel Kempinsky, Jakarta.
 
Sumi Yang saya kenal pertama kali ketika ia membawakan acara Metro Xinwen, acara berita berbahasa Mandarin. Sebagai pembaca berita, ia mahir untuk urusan itu. Belakangan itu juga tampil di sejumlah acara lain, seperti 8-11 Show (baca Eight Eleven Show), Wide Shot, Bincang Pagi, Metro Siang, dan Headline News.
 
Namun, meski sudah 14 tahun berkarier di televisi itu, tampaknya Sumi masih menjadi anchor papan kedua. Sepengathuan saya, ia belum pernah muncul untuk membawakan acara-acara prime time sebagaimana seniornya, Kania Sutisnawinata atau Aviani Malik,.
 
Tentang Laporan On The Spot
 
Ketika melaporkan secara langsung peristiwa, para reporter televisi, lazimnya memang tidak berbahasa secara rapi. Ini bisa terjadi karena laporan harus dilakukan segera, mereka tidak bisa menulis laporan tertulis secara rapi, kemudian mengandalkan improvisasi.
 
Dalam kondisi darurat, seperti penggrebekan teoris di Malang dan Temanggung, para reporter membuat laporan live dengan informasi yang sangat terbataskarena informasi masing simpang siur, narasumber belum dapat ditemui.
 
Tetapi peristiwa yang diliput Sumi, sebagaimana saya kutip isinya pada paragaf pertama, bukan jenis laporan darurtat. Setidaknya jika kita lihat peristiwanya.
 
Objek yang ia liput adalah sebuah acara yang terencana. Bagi reporter, jenis peristiwa seperti ini bukan jenis peristiwa yang sulit “ditangani”. Terlebih karena rentang waktu kejadiannya cukup lama. Wartawan yang meliput peristiwa itu mestinya punya cukup waktu menemui narasumber, menggali data, sehingga laporannya akurat dan tertata
 
Apakah Summi melakukan itu? Saya ragu. Keraguan itu terasa karena banyaknya kata sifat yang ia gunakan. Dalam laporan langsung 2 menit 23 detik itu, Sumi setidaknya menggunakan delapan kata sifat: meriah, antusiasme tinggi, betul-betul menggambarkan, tanpa takut, aman, tertib, harmonis. Jumlahnya akan menjadi sembilan jika frasa “dari Sabang sampai Merauke” dianggap sebagai konversi untuk menyatakan “lengkap” atau “menyeluruh”.
 
Di kelas-kelas jurnalistik yang pernah saya ikuti, para mentor mengajarkan agar reporter sebisa mungkin menghindari kata sifat ketika melaporkan sesuatu. Ini harus dilakukan reporter agar opini pribadinya tak mencampur dengan fakta yang dilaporkannya.
 
Pelajaran ini mendasar, terutama, karena berkaitan dengan nilai yang mendasar pula dalam jurnalisme: objektivitas, independensi, dan cover both side.
 
Lalu, apakah laporan Sumi Yang salah? Apakah dia mengada-ada? Saya tidak punya data pembanding untuk menjatuhkan itu. Tetapi ada tiga prosedur yang bisa kita gunakan untuk menguji, apakah laporan jurnalistik itu salah atau tidak. Saya mengemangkan prosedur ini berdasarkan teori kebenaran yang saya peroleh dari “guru” saya, Richard L Kirkham.
 
Tiga Prosedur
 
Untuk menguji laporan wartaan benar atau salah, pertama-tama, kita dudukkan laporan tersebut sebabagi pernyataan (proposisi).
 
Pertama, proposisi dapat diuji kebenarannya dengan membandingkannya dengan fakta. Proposisi benar jika bersesuaian dengan fakta. Proposisi salah jika tidak sesuai dengan fakta.
 
Prosedur ini sering disebut sebagai prosedur korespondensial karena dilakukan dengan mengecek korespondensi atau kerhubungan antara bentuk (pernyataan) dengan (isi). Dalam bidang sastra, prosedur ini digunakan untuk membandingkan hal yang tersurat dengan hal tersirah.
 
Kedua, untuk menguji kebenaran pernyataan, kita bisa menggunakan prosedur koherensial. Dalam prosedur ini, kebenaran sebuah proposisi diukur berdasarkan kesesuaiannya dengan proposisi lain yang sudah dianggap benar.
 
Maksudnya, sebuah pernyataan akan dianggap benar kalau pernyataan itu sesuai dengan pernyataan sebelumnya yang sudah dianggap benar. Kalau bertentangan dengan kebenaran sebelumnya, proposisi akan patah dengan sendirinya.
 
Inilah jenis prosedur yang digunakan untuk membangun silogisme. Kebenaran premis akhir (simpulan) dalam silogisme tidak diukur berdasarkan kesesuainnya dengan fakta, tetapi diukur berdasarkan koherensinya dengan premis-premis sebelumnya.
 
Misalnya, premis (1) Semua siswa yang menggunakan topi adalah kelas tiga, premis (2) Eka menggunakan topi. Salah satu simpulan yang benar dari keduanya adalah “Eka adalah siswa kelas tiga”. Apakah secara faktual Eka adalah kelas tiga? Fakta tidak relevan dan tidak diperlukan karena memang tidak lagi dipersoalkan.
 
Dalam jurnalisme, baik prosedur korespondensial maupun prosedur koherensial sama-sama diperlukan. Laporan jurnalistik dapat diuji kebenarannya dengan salah satu prosedur itu.
 
Dengan prosedur korespondensial, laporan jurnalistik dianggap benar kalau menggambarkan fakta. Misalnya, seorang wartawan olahraga melaporkan bahwa skor akhir laga Indonesia melawan Vietnam adalah 2-1. Laporan itu benar karena faktanya memang demikian. Dalam hal ini, fakta adalah realitas empiris yang dapat dicerna dengan alat indra.
 
Dengan prosedur koherensial, laporan jurnalistik dianggap benar kalau sesuai dengan pernyataan, pengetahuan umum, dan data yang sebelumnya diakui benar. Seorang wartawan ekonomi, misalnya, melaporkan bahwa populasi sapi di Indonesia terbesar ada di Nusa Tenggara Barat.
 
Jika laporan ini didasarkan pada hasil sensus ekonomi Badan Pusat Statistik yang disepakati valid, maka laporan itu benar. Wartawan tentu tidak harus menghitung satu per satu jumlah sapi di NTB dan membandingkannya dengan jumlah sapi di provinsi lain.
 
Lalu, kembali ke soal di atas, bagaimana membuktikan kebenaran laporan jurnalistik yang menyebut bahwa sebuah aksi “meriah, antusiasme tinggi, betul-betul, tanpa rasa takut, tidak mencekam, aman, tertib, harmonis”?
 
Sulit dibantah dan dibenarkan. Kata sifat sendiri lazim digunakan penutur bahasa untuk mewakili justifikasi individu terhadap sebuah objek. Oleh karena itu, bersifat sangat relatif sesuai dengan standar yang dimiliki masing-masing individu.
 
Kalau kata sifat itu mau dijustifikasi, bisa saja sebenarnya. Tetapi prosedur yang digunakan bukan korespondensial atau koherensial, tetapi prosedur jenis ketiga: pragmatis. Dalam prosedur ini, benar dan salahnya sebuah pernyataan diukur dari kegunaannya. Kalau berguna (dan menguntungkan), benar. Kalau tidak berguna, salah.
 
Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Facebook Comments

1 Comment

  1. Wikipedia

    January 8, 2017 at 1:14 pm

    Most people of we will be approved to bring in fast cash advance
    payday further. The communication you bestow in generally field includes to end truthful. http://www.wikipedia.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.