Produksi dan Transaksi Nilai Estetik dalam Pernikahan Said Muhtar dan Asna Lutfa

Ada tiga nama yang selalu terlintas di kepala ketika saya mengingat sosok Said Muhtar. Ketiga nama itu adalah Haji Oemar Said, Edward Said, dan Raden Said. Nama pertama adalah pendiri Sarekat Islam (SI), tokoh pergerakan yang dijuluki Belanda sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota. Yang kedua adalah intelektual kelahiran Arab namun besar dan hidup di Amerika, kondang dengan teori orientalisme-nya. Adapun yang terakhir adalah salah satu ulama yang berjasa menyebarkan Islam di Jawa, nama kecil Sunan Kalijaga.

Nama keempat orang itu sama-sama mengandung Said. Dan, tampaknya tidak hanya nama yang nyaris sama. Saya melihat ada kesamaan orientasi hidup meski berbeda ukuran dan bobotnya. Keempatnya mendedikasikan diri untuk kepentingan orang banyak, orang yang kalah karena dikalahkan.

Barangkali agak berlebihan memuji Said Muhtar memiliki jasa seperti tiga Said lain. Sebab, ketiga Said terdahulu jasanya telah diakui luas. Mereka berhasil – dengan cara masing-masing – membela kaum yang di sekitarnya. Adapun pada Said Muhtar saya tidak menemukan banyak dokumentasi “keberhasilan”. Di antara yang tidak banyak itu, keberhasilan yang patut dicatat adalah rencananya menikahi gadis bernama Asna Lutfa dalam waktu dekat ini.

Nah, tulisan ini saya gunakan mempersoalkan keberhasilan Said Muhtar sehingga bisa memperistri Asna Lutfa. Untuk menganalisis pernikahan mereka, saya menggunakan pendekatan sosiologis. Teori produksi kultural yang dicetuskan sosiolog Perancis bernama Pierre Bourdieu saya pinjam untuk memahami proses kultural dalam pernikahan mereka.

Produksi Keindahan

Pernikahan, sebagaimana relasi sosial lain antarmanusia, adalah sebuah medan transaksi dan negosiasi. Masing-masing agen memiliki modal yang ditawarkan kepada pihak lain. Dari proses negosiasi itu akan lahir kesepakatan dalam bentuk struktur.

Said dan Lutfa adalah dua agen yang berjumpa dalam sebuah medan sosial asmara. Medan sosial tercipta oleh komponen psikologis dan sosiologis yang memiliki keteraturan sendiri. Medan sosial asmara adalah sebuah keteraturan namun ia lahir dari rahim ruang sosial yang sudah memiliki keteraturannya sendiri. Dengan demikian, medan sosial asmara memiliki keteraturan sendiri namun pada saat yang sama harus mengikuti keteraturan struktur yang lebih dominan.

Di jagat raya, ada banyak laki-laki sekaligus banyak perempuan. Tapi mengapa Said berjodoh dengan Asna?

Perlu penjelasan yang kompleks untuk memperoleh jawaban yang memuaskan. Namun dalam pandangan Bourdieu, keputusan dua orang ini tak bisa lepas dari produksi estetis.

Pilihan seseorang terhadap lawan jenis yang akan dijadikan jodoh adalah pilihan estetis. Produksi nilai estetis lahir dari sebuah ruang budaya. Kalau Kant yakin bahwa sesuatu disebut indah sejauh muncul dari putusan ‘murni’ sebagai hasil dari pahaman rasional, menurut pandangan Bourdieu itu semua hanyalah ilusi. Tidak mungkin putusan estetis itu kosong konsep. Mengapa? Karena setiap putusan estetik senantiasa mengambil bentuk putusan hipotetik yang biasanya – secara implisit – berdasarkan pengakuan standar dari genre tertentu, atau setidaknya pada suatu model kesempurnaan yang sudah berada dalam ruang lingkup konsep tertentu (Pramudya, 2012).

Dalam perjodohan, produksi estetik berperan sangat besar. Misalnya, perempuan muslim akan menganggap laki-laki saleh sebagai objek yang bernilai estetik tinggi. Pandangan demikian dikonstruksi oleh lingkungan dan terakumulasi menjadi sebuah sistem berpikir yang sistemik. Oleh karna itu, perempuan muslim yang taat akan memilih jodoh laki-laki yang mumpuni dalam agama, baik pengetahuan maupun amalan.

Bagi perempuan terpelajar, laki-laki yang senang membaca adalah objek estetis. Laki-laki yang membaca buku memiliki nilai keindahan lebih dibandingkan laki-laki yang badannya besar. Keyakinan ini melahirkan apresiasi positif. Pada tingkat terendah, apresiasi positif berupa empati. Pada tingkat yang lebih tinggi, apresiasi positif dapat berbentuk keinginan memiliki. Artinya, apresiasi terekspresi secara psikologis dan kemudian sosial.

Dari proses inilah, produksi estetik berperan dalam menentukan perjodohan seseorang. Demikian pula yang dilakukan Said sehingga bisa berjodoh dengan Asna.

said 1

Dua Modal

Ada beberapa modal simbolik yang konsisten diproduksi Said sehingga meningkatkan nilai estetiknya di mata Asna.

Pertama, Said membangun brand sebagai anak muda terpelajar. Sejak kuliah, misalnya, ia telah aktif diskusi dengan Komunias Embun Pagi. Ia berkontribusi dalam penulisan buku Embun Pagi Nglindur yang terbit tahun 2009 dengan pengantar dari tokoh terpelajar: Prof Abu Suud.

Pada periode yang tak terlalu lama, Said juga aktif mengelola Democracy Watch Organization. Lembaga ini didirikan dan dikelola oleh sejumlah tokoh muda tepelajar Semarang, antara lain Awaludin Marawan, M Tafiqurohman, Syukron Salam, dan beberapa yang lain. Itu jika tak keliru.

Kiprah Said diteruskan dengan aktif di Persatuan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi). Ia bahkan didaulat menjadi ketua Permahi Semarang. Kemudian, ia tergabung dalam Satjipto Rahardji Institute (SRI), sebuah forum belajar bagi mahasiswa yang tertarik membahasa pemikiran hukum progresif.

Tak hanya itu, Said juga mendirikan sekaligus menglola Sekolah Tan Malaka. Sekolah informal ini digagas untuk mengkaji pemikiran tokoh pergerakan kiri itu. Ketika mengambil program master, ia menulis tesis dan kemudian buku tentang pemikiran politik hukum Tan Malaka.

Kiprah itu diperluas Said dengan bergabung di Pusat Studi Tokoh Hukum (Pustokum) yang berbasis di Jakarta. Kantornya di Tebet, dekat dengan Maarif Institut (sekaligus dekat dengan kawasan prositusi terselubung Tata Dedeh).

Kedua, selain brand terpelajar, Said membangun habitus belajar. Ia rajin membaca, berdiskusi, dan (sesekali) menulis. Tradisi ini memungkinkan Said terus tumbuh menjadi individu yang semakin luas wawasan dan relasi sosialnya. Perubahan-perubahan sosial di sekitar disikapi Said dengan pikiran terbuka khas pembelajar. Hasilnya, ia bijak dan cenderung moderat menanggapi perubahan sosial di sekitarnya.

Negasi Standar Keindahan

Brand Said sebagai intelektual sekaligus manusia pembelajar merupakan proses produksi nilai estetis. Dengan cara itulah ia meningkatkan nilai jual dirinya di hadapan kawan, lawan, dan lawan jenis. Nilai estetis itu terus diproduksi sehingga menegasikan penilaian kawan, lawan, dan lawan jenis terhadap tampangnya yang pas-pasan.

Dua hal itu sekaligus menjadi pembeda yang membuat nilai tawarnya di hadapan para gadis sedikit lebih mahal. Di tengah-tengah anak muda pesolek yang Cuma giat mendandani tubuh, Said membanun merk sebagai anak muda yang giat mendandani pikiran. pembeda ini melahirkan keunikan yang dalam ilmu marketing berguna untuk menyita perhatian sekaligus meningkatkan harga jual. Dalam ilmu ekonomi, harga sesuatu meningkat jika stok di pasar berkurang.

Produksi nilai estetik yang dilakukan Said merupakan strategi kultural yang berjalan melalui dua proses. Pertama, ia melakukan penyangkalan terhadap standar estetika yang sudah ada dan mapan. Kedua, ia membangun standar baru dengan kuantita-kuantita yang baru dan berbeda.

Tahap pertama dilakukan Said karena telah terbentuk semacam stereotip bahwa laki-laki idaman perempuan adalah yang tampan, bertubuh tinggi besar, kaya, memiliki asset dan property, dan kriteria lain. Said tampaknya tidak memiliki itu semua. Tampan? Lihat sendiri fotonya. Kaya? Sahur aja pakai mie instan. Memiliki asset? Iya, sarung dan buku.

Jika ia harus menyesuaikan diri dengan kriteria umum yang telah ada, ia akan memerlukan waktu yang cukup lama. Maka dia berinisiatif menyodorkan criteria baru. dengan narasi singkat, criteria baru yang hendak ia sodorkan adalah “Lebih baik berjodoh dengan laki-laki biasa yang suka baca buku daripada laki-laki tampan yang kuper dan dungu”.

Setelah standar itu berhasil dinegasikan, Said kemudian mengorganisasi modal-modal simbolik sebagai intelektual sebagai sbuah standar kualitas baru. Standar kualitas inilah yang dijadikan modal bertransaksi dan bernegosiasi dalam medan asmara dengan pacarnya.

Skema produksi nilai estetik ala Said merupakan strategi kultural yang baik, meskipun tidak betu-betul baru. Strategi ini pernah digunakan oleh sejumlah pelukis ekspresionis Perancis seperti Edouard Manet, bersama anggota lain seperti Edgar Degas, Paul Cezzane, Calude Monet, Pierre-Auguste Renoir, dan Camille Pissarro (Gladwell, 2013). Mereka kesulitan mengirim karya mereka ke Salon, sebuah lembaga yang sangat otoritatif menyatakan standar keindahan. Setelah menuai kekecewaan berulang karena gagal tembus Salon, mereka mendobrak standar keindahan Salon dengan mendirikan galeri sendiri. Di luar dugaan, galeri itu mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat seni rupa.

Rumah Tangga Menghebatkan

Said telah mengambil tanggung jawab besar dengan menjadikan dirinya sebagai manusia terpelajar. Lebih dari itu, ia juga mmiliki tanggung jawab besar karena telah berani menikahi seorang perempuan – sebuah tanggung jawab yang bahkan tak pernah sukses dilaksanakan oleh idolanya: Tan Malaka.

Untuk menunanaikan tanggung jawab itu, berbagai nilai estetik yang telah Said produksi harus terus dipertahankan. Bahkan, karena rumah tangga adalah organisasi sosial yang dialektis, ia musti bisa mengontekstualisasi nilai keindahan dalam struktur rumah tangga yang terus berubah.

Artinya, ia harus terus melahirkan keindahan dalam rumah tangga yang dipimpinnya. Hal itu hanya dapat dipenuhi jika ia senantiasa menghadirkan keindahan dalam hati istrinya.

Hanya dengan terus mereproduksi keindahan, organisasi bernama rumah tangga dapat memenuhi tugas sosialnya, yakni menghebatkan agen-agennya. Semoga, senantiasa.

Rahmat Petuguran, konsultan perjodohan, pelipur lara para jomblo

 

5 Comments

  1. Safiq McMuhamad

    July 11, 2015 at 2:45 pm

    Baarakallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fi khoir.

  2. Muhammad Sholikhin

    July 12, 2015 at 2:31 am

    Yang ngebahas sama yang dibahas, sama-sama makhluk yang aneh. Yang ngebaca juga?

    • junaidi

      July 13, 2015 at 2:27 am

      termasuk yang comentar lebih anehhh….. (muhammad sholikhin)weka weka weka weka

  3. Handoko

    July 13, 2015 at 3:33 am

    Pernikahan abad ini. Selamat buat Mas Said dan Asna Lutfa…

  4. portal konseling

    July 24, 2015 at 12:28 am

    luar biasa. saya tengah galau. dan dgn tulisan ini telah memberikan saya motivasi dan inspirasi.
    terimakasih untuk penulis, Rahmat Petuguran. saya harus konsultasi dgn Anda..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.