Konsekrasi Ketokohan

Ada orang yang bisa mendapat popularitas dan pengaruh lebih daripada orang lainnya. Kehadiran mereka bisa membuat orang lain antusiasi. Kehadiran orang ini bisa membuat orang lain merasa terberkati, bahagia, bahkan histeris.

Meski sama-sama menjabat sebagai menteri, ada menteri yang ketokohannya lebih kuat dibanding menteri lain. Menteri satu mendapat penghormatan lebih, sementara menteri lain mendapat penghormatan biasa saja.

Demikian pula pada arena dan bidang lain. Meski sama-sama berproesi sebagai pembawa acara televisi, ada seorang yang memiliki popularitas dan pengaruh lebih daripada teman-teman seprofesinya. Dengan begitu, ia memperoleh pengaruh, kepercayaan, dan penghormatan lebih besar dari publik.

Kata kunci yang – saya kira – dapat menjelasakan realitas itu adalah ketokohan. Lazimnya, orang-orang yang sukses memiliki kepercayaan dan pengaruh adalah mereka yang disebut sebagai tokoh. Orang semacam ini muncul di berbagai bidang. Ada tokoh bidang pendidikan, tokoh jurnalistik, tokoh pergerakan, dan lain.

Dalam pengertian sederhana tokoh kerap dipersepsi sebagai anggota masyarakat yang memiliki peran penting. Berkat modal sosial yang dimilikinya, \tokoh dapat berbuat lebih bagi lingkungannya. Mereka bekerja bukan untuk kepentingan dirinya, melainkan mengambil tanggung jawab bekerja untuk masyarakatnya.

Ketokohan kerap dianggap sebagai bakat personal, melekat pada orang seorang. Namun itu tidak sepenuhnya benar. Ketokohan justru lebih banyak terbentuk dari proses sosial, dapat direncanakan dan dikalkulasi. Di era politik elektoral, ketokohan juga bisa diproduksi dengan piranti sosial tertentu.

Konsekrasi

Menurut sosiolog Perancis Pierre Bourdieu (1993) ketokohan adalah bagian dari produksi kultural. Proses penokohan menyerupai proses produksi benda seni. Seniman, kurator, dan kritikus berperan sebagai agen sentral yang mengubah benda-benda biasa menjadi tampak bernilai estetika. Dengan pengetahuan dan otoritas kulturalnya, mereka mempengaruhi publik untuk mempersepsi sesuatu yang sebenarnya biasa saja tampak istimewa dan berharga.

Strtuktur arena seni dan politik memang berbeda. Keduanya memeiliki keteraturan sendiri yang spesifik dan unik. Agen yang terlibat di dua arena itu juga berbeda. Namun, dari perspektif produksi kultural, arena seni dan politik homolog. Oleh karena itu, untuk membaca produksi kultural pada dunia politik dapat digunakan sejumlah tinjauan dari bidang seni.

Dalam bidang politik, ada tiga hal yang diperlukan untuk memngubah seseorang dapat menjadi tokoh. Pertama, otoritas kultural, yakni lembaga atau tokoh yang memiliki wibawa menilai seseroang layak ditokohkan atau tidak. Dalam wujud paling diafan, lembaga itu dapat berbentuk lembaga survey, perguruan tinggi, atau media. Dalam bentuk yang lebih prismatik, otoritas kultural dapat berupa kyai.

Pendekatan yang dilakukan calon kepala daerah kepada para kyai adalah ikhtiar menggapai pengakuan. Dukungan dari kyai dapat digunakan sebagai bahan klaim bahwa dirinya memenuhi kebaikan yang dipersyaratkan agama.

Kedua, informasi dan pengetahuan, yakni argumentasi yang dapat disajikan kepada publik mengapa seseorang patut disebut tokoh. Argumentasi semacam ini lazimnya berisi informasi mengenai integritas, kinerja, dan kepribadian. Tapi tidak jarang, argumentasi dapat berupa isu dan mitos yang tak memerlukan pembuktian. Argumentasi disajikan kepada publik untuk untuk membangkitkan kepercayaan.

Ketiga, konsekrasi, semacam proses pembaiatan seseorang dari biasa menjadi sosok istimewa. Melalui proses ini, hal-hal simbolik dilekatkan pada seseorang sehingga teridentifikasi memiliki sifat-sifat yang disimbolkan. Pada proses ini, simbol diproduksi wujud sekaligus tafsirnya.

Dalam praktik politik, kegiatan konsekrasi ini bisa dilakukan dengan penganugerahan gelar tertentu. Dalam bentuk lain, konsekrasi dilakukan dengan pemberian penghargaan, pengangkatan menjadi anggota kehormatan atau sebagai pembina organisasi tertentu. perguruan tinggi memberikannya dengan memberikan gelar doktor honoris causa.

Sebagaimana arena lain, arena politik merupakan ruang sosial yang memiliki kerumitan. Para pelaku (agen) menempati posisi-posisi kultural yang spesifik dan senatiasa terlibat dalam perebutan posisi yang paling menguntungkan. Kompetisi ini berjalan terus-menerus sehingga posisi-posisi agen dimungkinkan terus berubah.

Kondisi inilah yang membuat konsistensi menjadi sangat penting. Keberhasilan seseroang memperoleh legitimasi sebagai tokoh tidak hanya dipengaruhi kondisi subjektif, yakni seberapa berhasil simbol diproduksi. Kondisi objektif, yakni berupa realitas sosial, juga sangat mempengaruhi keberhasilan. Posisi agen ditentukan oleh bagaimana ia dipersepsi oleh anggota masyarakat dan bagaimana ia mempersepsi dirinya.

Kepercayaan dan Keterpilihan

Aneka simbol yang diproduksi tokoh dalam proses produksi kultural sebenarnya bermuara pada produksi kepercayaan. Tokoh ingin mendapat kepercayaan dari publik bahwa dirinya berintegaritas, terdidik, atau berkinerja baik. Di era politik elektoral yang demikian pragmatis, kepercayaan dapat diubahfungsikan menjadi popularitas. Pada saatnya, kepercayaan dan popularitas dapat diubah menjadi elektabilitas.

Realitas demikian patut menjadi perhatian publik dalam proses pemilihan kepala daerah. Publik perlu cermat bahwa ketokohan bisa lahir secara alami sekaligus melalui rekayasa kultural.

Ada baiknya, calon pemilih menelusuri proses kultural kandidat yang akan dipilihnya. Ketokohan alami biasanya dibangun sejak lama, bahkan ketika calon bersangkutan masih belia. Sebaliknya, ketokohan instan dipoles secara buru-buru instan yang muncul hanya agen tersebut memiliki hasrat politik menjadi penguasa.

Rahmat Petuguran
Toko(h Pem)bangunan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.