Kemenangan-kemenangan Kecil Manusia Kota

TIDAK banyak prestasi yang patut dirayakan meski saya sudah berusia 28 tahun pada 2016 ini. Kalaupun ada, prestasi yang cukup pantas diceritakan adalah keberhasilan tidak menggunakan jasa laundry selama setahun terakhir.

Ya, setahun terakhir saya memutuskan mencuci sendiri. Kadang di kamar mandi rumah, kadang di sendang utara kampung. Kadang tugas itu tidak perlu saya kerjakan karena istri sudah mengatasinya.

Tiap kali mengingat “prestasi” itu, saya sering senyum-senyum sendiri. Bangga. Bahkan saking bungahnya kadang badan saya seperti bergatar. Mungkin sama dengan perasaan yang dirasakan Jim Lewis, mahasiswa seminari Montgomery, Amerika Serikat, ketika dengan cemerlang bisa mengorganisasi massa melakukan “pemberontakan” terhadap politik rasis pada 27 Februari 1960.

Sikap untuk tidak menggunakan laundry patut disebut kemenangan karena godaan untuk menggunakannya sangat besar. Godaan semacam itu amat terasa, terutama karena saat ini saya sudah punya uang lebih dari cukup untuk membayar laundry 20-100 ribu per bulan.  (Jangankan laundry baju, nge-laundry yang lain juga bisa kok 🙂 ).

Dengan sensasi yang berbeda, kemenangan kecil pernah saya rasakan ketika saya menolak menonton film Ada Apa dengan Cinta 2. Sikap itu saya ambil, semata-mata karena saya ogah berada dalam kerumunan orang yang menyambut film itu dengan sikap norak yang keterlaluan.  Secara kultural, film itu berubah dari karya seni dan sarana hiburan menjadi kekuatan yang memperjelas sigat manusia kota yang alay dan labil. Saya menolak untuk bergabung dengan kerumunan manusia bertipe demikian.

Godaan semacam itu muncul saban hari dalam bentuk lain yang unik. Ketika buku Intelegensi Embun Pagi terbit, misalnya, saya memantapkan diri untuk tidak menyentuh buku itu. Bagi saya, popularitas novel itu ditanggapi publik dengan respon yang levelnya menjijikan. Semua orang (di lingkaran saya) tiba-tiba membaca, semua mengaku penggemar setia, semua memuji buku itu istimewa.

Padahal, kalau saya mau milih dalam kerumunan itu, ada banyak kesempatan. Beberapa hari setelah buku itu diluncurkan, saya bertemu Dee Lestari dalam sebuah peluncuran buku di Gramedia. Beberapa pekan setelahnya Dee diundang mengisi acara di universitas tempat saya bekerja. Panitia meminta saya memodaratorinya. Tapi saya menghindar dengan alasan yang nampaknya bisa diterima: ada tugas ke luar kota.

Kemenangan-kemenangan kecil itu juga pernah saya raih ketika musim liburan. Saat orang ramai pergi bertamasya, mengunggah foto seolah-olah menjadi orang paling bahagia, saya memilih di rumah: nggali sumur. Bahagiakah saya? Susah menjelaskannya.

Meski demikian, perlawanan itu tidak selalu berhasil. Lebih sering gagal malah. Terutama kalau serangan itu melibatkan istri (maaf, Rosi. Hahaha…). Kadang dia meluluhkan begitu saja tembok yang saya bangun cukup lama.

Misalnya,  saya pernah harus menemaninya berwisata ke Bandung, mengunjungi Pasar Apung, Kampung Bambu, juga Farmhouse di Lembang. Sore hari makan di bus Street Gourmate sambil keliling kota. Menginapnya pun di hotel bintang tiga: nyaman, nyaris segala tersedia. Itu perjalanan yang mainstream dan menjemukan.

Tapi ya tadi: untuk menjaga kegembiraan istri tercinta, saya mengupayakan diri untuk enjoy. Bahkan kadang berimprovisasi dengan menunjukkan wajah antusias saat melihat air sungai yang jernih mengalir. Padahal itu pemandangan sehari-hari di kampung saya. Atau ketika melihat rumah hobit di Farmhouse, saya bahkan rela mengantri untuk bisa berfoto di sana, berbaris dengan remaja belasan tahun dan keluarga muda yang luar biasa alaynya.

Aib yang tak teranggungkan!

Kemanjaan Manusia Kota

Saya menyebut pilihan menolak ini dan itu sebagai “perlawanan” karena sejak lama berasumsi ada subjek pada setiap isu dan peristiwa. Subjek itu berupaya menggerakkan saya (mungkin juga Anda) dengan instrumen sosial tertentu sehingga saya bertindak, melakukan sesuatu, yang menguntungkan mereka.

Pada kasus laundry, pola transaksinya jelas. Saya membayar sejumlah uang agar baju saya menjadi bersih. Mereka menawarkan hasil yang jelas dengan ongkos yang jelas pula. Tetapi pada kasus film AADC dan beriwisata, pola penaklukan yang dimainkan subjek ini agak rumit. Pasalnya, penaklukan melibatkan alat-alat kekuasaan yang unik dan tak selalu bisa diamati.

Ketika meluncurkan film AADC, misalnya, produsen tahu betul bahwa yang ia jual bukan sekadar film. Mereka memanfaatkan sentimentalisme kisah cinta saat remaja calon konsumennya. Sentimentalisme itu dikemas agar orang-orang yang pernah menonton AADC saat SMA atau kuliah tergerak menonton AADC 2 sekadar untuk mengenang cinta pertamanya.

Pada proses penjualan buku juga demikian. Berdasarkan riset untuk master saya, buku adalah benda kultural yang dijual dengan piranti kultural. Yang dijual bukan semata-mata kertas berisi sebuah cerita. Ada citraan khusus yang berusaha dilekatkan sehingga buku itu memiliki nilai kultural melebihi nilai fisiknya.

Ada yang menjual citra islami, ada yang menjual citra inspiratif, ada yang menjual citra progresif. Citra-citraan itu, dalam perspektif saya, adalah produk kreatif yang dimunculkan untuk merekayasa persepsi publik terhadap satu objek. Novel yang biasa saja, lihatlah Laskar Pelangi, mendadak laris manis hanya karena Bentang menghembuskan isu bahwa itu adalah novel inspiratif. Dan, banyak orang percaya.

Masyarakat Konsumen

Dalam cakrawala yang lebih luas, nilai-nilai kultural yang dibangkitkan oleh produsen semata-mata dilakukan untuk membangkitkan hasrat konsumsi seseorang. Ini berkaitan dengan desain kapitalisme global yang menginginkan negara Asia dengan penduduk besar seperti China, India, dan Indonesia sebagai basis konsumsi. Negara dengan populasi giga di “negara ketiga” adalah pasar empuk bagi negara industri.

Sebelum para produsen menjual barang dalam bentuk fisiknya, mereka biasanya menjual nilainya terlebih dahulu. Bisa menggunakan alat konvensional seperti iklan, film, atau bahkan pemberitaan. Tujuannya, merekayasa persepsi calon pembeli supaya mempersepsi barang yang sedang mereka produksi adalah barang dengan nilai (value) yang baik. Dengan pengondisian demikian, calon konsumen sudah mau bayar bahkan sebelum barang datang.

Kalau tiap tawaran nilai dari para produsen itu diafirmasi, setiap barang akan terasa berharga. Akibatnya, kita berusaha untuk memperolehnya. Mekanisme itu akan terus berjalan sepanjang masa dan baru akan berhenti karena dua hal: kita mati atau sudah sama sekali tidak memiliki uang lagi.

Dengan posisi demikian, perlawanan kecil yang saya lakukan terasa berharga. Karena itulah saya membanggakannya. (gambar: rogerionunes.net)

Rahmat Petuguran
Menerima order cucian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.