Inilah Alasan Mengapa Bilangan Tiga Banyak Digunakan dalam Agama

Dalam kehidupan umat manusia, bilangan dan angka tiga adalah salah satu bilangan yang paling banyak digunakan. Tidak hanya dalam praktik matematis, bilangan tiga juga sering hadir dalam kehidupan spiritual manusia. Bilangan tiga tampaknya memiliki keindahan matematis dan magis tersendiri.

Dalam kepercayaan umat Nasrani misalnya, terdapat konsep tritunggal. Dalam konsep trinitas tersimpan keyakinan bahwa Satu Allah Yang Esa hadir dalam Tiga Pribadi: Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya. Istilah trinitas mengandung arti tiga Pribadi dalam satu kesatuan esensi Allah. Istilah “pribadi” dalam bahasa Yunani adalah hupostasis, diterjemahkan ke Latin sebagai persona.

Dalam kepercayaan umat Hindu juga dikenal konsep Trimurti. Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya. Trimurti terdiri dari 3 yaitu Brahmana sebagai Dewa Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai Dewa Penghancur.

Masyarakat Yunani kuno percaya, dari 12 dewa Olimpus, terdapat tiga dewa terkuat sebagai penguasa, yakni Zeus, Poseidon, dan Hades. Zeus adalah Dewa tertinggi yang dikenal sebagai penguasa langit. Dalam Theogonia karya Hesiodos, Zeus disebut sebagai “Ayah para Dewa dan manusia”. Zeus tinggal di Gunung Olimpus. Zeus adalah dewa langit dan petir. Simbolnya adalah petir, elang, banteng, dan pohon ek. Zeus sering digambarkan oleh seniman Yunani dalam posisi berdiri dengan tangan memegang petir atau duduk di tahtanya.

Poseidon dikenal sebagai dewa penguasa laut, sungai, dan danau. Poseidon memiliki senjata berupa trisula yang bisa menyebabkan banjir dan gempa bumi. Trisula tersebut dibuat oleh para Kiklops semasa Titanomakhia. Poseidon juga memiliki kendaraan yang ditarik oleh hippokampos (makhluk setengah kuda setengah ikan).

Hades adalah dewa Dewa Kematian atau Dewa Neraka dalam Mitologi Yunani. Hades merupakan putra tertua dari Kronos dan Rea. Dia bersama saudara-saudaranya mengalahkan para Titan dan mengambil alih kekuasaan atas dunia. Zeus, Poseidon dan Hades melakukan undian untuk menentukan tempat kekuasaan dan Hades mendapat dunia bawah. Karena asosiasinya dengan dunia bawah, Hades sering dianggap sebagai dewa kematian meskipun bukan.

Umat Budha di dunia juga memiliki konsep trisuci, yakni tiga haris besar yang diperingati masyarakat sebagai Hari Raya Waisak. Tiga hari suci tersebut adalah kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Bodhgaya pada usia 35 tahun pada tahun 588 SM, dan Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 SM.

Bagi warga Tiongkok, konsep Tri Dharma telah dikenal secara luas sebagai ajaran sinkretisme. Dalam kepercayaan Tri Dharma, warga menggabungkan moral dan filsafat tiga keyekinan menjadi keyakinan baru. ketiga keyakinan itu adalah Budhisme, Konfusionisme, dan Taoisme. Tridharma berarti “tiga ajaran kebenaran”, yaitu ajaran Sakyamuni Buddha, ajaran Nabi Khong Hu Cu, dan ajaran Nabi Lo Cu.

Bilangan tiga tidak hanya muncul dalam sistem keyakinan umat manusia di dunia. Angka tiga seringkali hadir dalam diskursus tentang filsafat, kenegaraan, dan politik. Dalam kajian filsafat ilmu, misalnya, telah lahir sebuah kesepakatan bahwa sistem pengetahuan manusia tertata dalam tiga matra yang berbeda, yakni matra ontologis, episiemologis, dan aksiologis. Objek formal ontologi adalah dasar-dasar yang paling umum bagi semua masalah yang menyangkut manusia,dunia dan tuhan seperti tentang keberadaan, kebersamaan, kebebasan, badan, jiwa, agama, dan segalanya. Epistemologi berkaitan dengan batas, kategori, dan karekteristik pengetahuan. Adapun aksiologis berkaitan dengan nilai bagaimana pengetahuan digunakan dalam kehidupan umat manusia.

Bapak strukturalisme Ferdinand de Sausure membuat triangle of meaning untuk menjelaskan kinerja bahasa. Dalam konsep ini, Saussure menghubungan symbol, referent, dan tought or reference. Symbol adalah bunyi bahasa, referent adalah realitas empiris yang berada di luar pikiran, dan tougth or reference adalah gagasan yang eksis dalam pikiran manusia.

Untuk menjelaskan gagasan dalam bidang semiotika, Charles S Pierce juga menggunakan angka tiga untuk membagi kesemestaan tanda. Pierce membagi sistem tanda yang jumlahnya tidak terbatas ke dalam tiga kelompok, yakni icon, index, dan symbol.

Sosiolog CA Van Peursen juga menggunakan konsep tiga untuk menjelaskan tiga konsep perkembangan kebudayaan manusia. ddalam buku Strategi Kebudayaan, ia mengemukakan bahwa tahap perkembangan pikiran manusia dilalui dalam tiga tahap, yakni tahap mistis, ontologis, dan fungsional.

Pada masa mistis manusia percaya tentang kekuatan gaib yang ada di sekitarnya yang mengatur segala hal yang terjadi di dunia. Dengan demikian, alam begitu begitu penuh misteri namun berkuasa. Pada tahap ontologis manusia sudah menjaga jarak dengan alam. Posisi manusia dan alam seakan sejajar, keduanya saling berdialog dan membuka diri, yang satu memahami yang lain. Adapun pada tahap fungsional manusia menganggap bahwa setiap hal yang ada di dunia dapat ditelaah secara ilmiah.

Dalam bidang ketatanegaraan, filsuf Perancis Montesqueu misalnya telah berjasa besar menciptakan tiga elemen dasar kehidupan bernegara yang terhimpun dalam Trias Poltica. Dalam konsep ini, kekuasaan politik dibagi enjadi tiga, yakni kekuatan legislatif, kekuatan eksekutif, dan kekuatan yudikatif. Ketiga kekuasaan itu memiliki domain yang berbeda satu dengan lain namun memiliki tujuan yang sama, yakni memperkuat konsep demokrasi.

Berbagai gejala penggunaan angka tiga di atas menunjukkan bahwa bilangan tiga memiliki keistimewaan bagi umat manusia. Keistimewan itu perlu dijelaskan secara saintifik agar dapat dipahami sebagai sesuatu yang logis dan berterima nalar.

Pilihan seseorang untuk menggunakan bilangan tiga merupakan pilihan yang dapat ditelusuri sebabnya. Penggunakan bilangan tiga dalam berbagai bidang kehidupan menunjukkan bahwa bilangan ini memiliki keistimewaan. Keistimewaan tersebut dapat dipahami dengan menggunakan analisis saintifik dan agama. Namun dalam beberapa hal, dua pendekatan tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.

Untuk mengungkap keistimewaan bilangan tiga, peneliti akan menggunakan sejumlah analisis bidang matematika, bahasa, dan seni rupa.

Segitiga Melambangkan Ketauhidan

Aneka konsep yang meminjam bilangan tiga menunjukkan bahwa ketiga hal tersebut saling terhubung satu sama lain sehingga membentuk relasi segitiga. Konsep triangle of meaning yang dikemukakan Ferdinand de Saussure misalnya, menempatkan symbol, referent, dan thought or reference dalam hubungan segitiga sebagai berikut.

New Picture (3)

Dalam menggambarkan masa depan yang mungkin (plausible future) futurolog Suhail Inayatullah juga menggunakan segitiga sebagai ilustrasi untuk mengkonkritkan gagasannya. Menurutnya, masa depan yang mungkin dibentuk dari tiga hal, yakni beban masa lalu, dorongan masa sekarang, dan cita-cita di masa depan. Gambaran konsep Inayatullah dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini:

New Picture (4)

Dalam teori bangun ruang, sebuah segitiga sama sisi memiliki sudut 180 derajat yang terbagi secara merata ke ketiga sudutnya sebanyak 60 derajat. Konfigurasi segitiga sama sisi menunjukkan bahwa sebuah segitiga memiliki pemusatan beban pada satu titik tepat ditengan bangun ruang. Titik ini dapat ditemukan dengan menarik lurus tiga garis dari tiga sudut yang berbeda.

New Picture (5)

Fakta matematis segitiga ini dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa sesuatu tiga hal yang berbeda memiliki kedudukan yang setara. Pemusatan beban pada satu titik merupakan konsep yang menggambarkan bahwa sesuatu yang tampak tiga sebenarnya adalah satu. Hal ini berkaitan erat dengan konsep keyakinan tauhid pada sejumlah agama.

Dalam keyakinan Nasrani, misalnya, Tuhan mewujud dalam bentuk Bapa, Anak, dan Roh Kudus namun ketiganya merupakan gambaran atas sesuatu yang tunggal, yakni Tuhan. Sejak awal abad ketiga doktrin Tritunggal telah dinyatakan sebagai “Satu keberadaan Allah di dalam tiga Pribadi dan satu substansi (natur), Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Hubungan segitiga yang mewakili konsep Tritunggal dijadikan oleh para pendakwah Nasrani untuk menjelaskan bahwa Tuhan hanya satu, namun mewujud dalam tiga pribadi.

New Picture (6)

Bagi penganut agama Hindu, hubungan segitu yang memiliki sudut sama besar dengan beban pusat di tengah juga menggambarkan relasi antara Brahma, Siwa, dan Hindu. Ketiga Dewa tersebut memiliki kekuatan yang sama namun memiliki peran yang berbeda-beda dengan satu sifat ketuhanan yang sama.

Dalam filsafat Adwaita Wedanta (tiada duanya), yaitu percaya pada Tuhan yang satu. Adwaita Wedanta menganggap bahwa Tuhan adalah pusat segala kehidupan di alam semesta dan dalam Hindu, Tuhan disebut Brahman. Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal dan tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Brahman berada di mana-mana diseluruh alam semesta.

Brahman hanya satu, namun tanda kebesarannya diwujudkan dalam banyaknya dewa-dewi misalnya Wisnu, Siwa, Laksmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain. Konsep Ida Sang Hyang Widi Wasa merupakan bentuk monoteisme asli orang Bali. Trimurti, yang terdiri dari dewa Brahma, Siwa, Wisnu yang merupakan perwujudan dari kekuasaan Tuhan Yang Esa. Brahma sebagai dewa pencipta alam semesta, wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta dan dewa siwa sebagai dewa pelebur dunia.

Tiga Adalah Rumus Keseimbangan

Selain digambarkan dalam bentuk segitiga, sesuatu yang berjumlah tiga dapat direlasikan dalam sebuah deret linear. Dengan meletakan tiga hal dalam sebuah deretan, dapat dilihat bahwa hubungan tiga hal memiliki dua ujung dan satu titik keseimbangan. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa tiga memenuhi kaidah estetika bentuk berupa keseimbangan.

Dalam berbagai ajaran moral, keseimbangan adalah titik ideal tempat bertemunya dua hal yang saling bertentangan. Dua hal yang biner dapat dipertemukan dalam sebuah titik negosiasi yang memungkinkan dua hal yang bertentangan tersebut saling mengakomodasi. Kehidupan dunia dan akhirat, misalnya, merupakan dua kutub yang saling bertentangan satu sama lain. Agar manusia bahagia hidup di dunia dan akhirat, manusia perlu menjalani kehidupan yang mengakomodasi kepentingan kedua hal itu.

Di dunia hukum, konsep keadilan telah menjadi nilai yang sangat berharga. Keadilan adalah kondisi ideal yang patut diperjuangkan dengan aneka prosedur hukum. Keadilan mensyaratkan tiga hal yang berelasi secara seimbang. Konsep ini tampak secara simbolik pada sosok Dewi Keadilan yang sedang memegang timbangan.

New Picture (7)

Melalui ilustrasi di atas dapat dibaca bahwa keadilan merupakan hubungan linear segitiga. Keadilan terwujud jika kedua pihak yang saling bersengketa diadili dalam oleh seorang pengadil yang adil. Hanya melalui pengadilan yang kuat dana lemah didambakan memperoleh keadilannya. Proses tersebut memungkinkan jika setidaknya ada tiga pihak, yakni dua pihak bersengketa dan seorang pengadil.

Dalam teori dialektika Hegel, misalnya, terdapat tiga hal yang berelasi secara linear, yaitu teas, antitesa, dan sintesa. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Tesis, merupakan sesuatu yang pada dasarnya berkebalikan dengan antitesis. Dalam sebuah ide antitesis merupakan lawan atau kutub yang berkebalikan dengan tesis. Namun ketika tesis dan antitesis ini bergejolak dan bertemu di dunia nyata maka suatu saat akan timbul hal baru yang merupakan akomodasi atau hasil-hasil dari benturan keduanya (entah itu kompromi, win-win solution, perjanjian, atau ide-ide baru, dan semua proses sosial atau budaya baru) yang ia sebut sebagai sintesis. Sintesis kemudian bisa menjadi tesis dan kemudian menemukan Antitesisnya dan melahirkan sintesis baru. Demikian seterusnya.

Penutur bahasa Inggris mempersepsi bahwa waktu adalah sesuatu yang berjalan linear ke depan. Penutur bahasa Inggris mengandaikan bahwa waktu terbagi dalam tiga bagian berbeda, yakni masa lalu (past), saat ini (present), dan masa depan (future). Konfigurasi ketiga itu berpusat pada yang di tengah, yakni masa sekarang (present). Pola pembagian waktu demikian menunjukan keyakinan penutur bahasaInggris bahwa masa lalau dan masa depan dihubungkan dengan masa kini.

 Tiga Menghasilkan Efek Kontras

Tiga hal yang direlasikan secara linear memungkinkan lahirnya efek kontras jika salah satu berbeda dengan dua hal lain. Tiga merupakan bilangan minimal yang memungkinkan efek kontras ini. Jika hanya dua, hal yang berbeda tidak memunculkan efek kontras , melainkan biner. Efek kontras muncul dalam ilustrasi berikut ini:

New Picture (9)

Foto diatas dapat dibagi menjadi tiga bidang. Dua bidang di sebelah kanan menunjukkan dunia fashion yang glamour di New York. Kcantikan, kemewahan, dan gengsi muncul pada dua bidang di sebelah kanan. Adapun satu bidang di sebelah kiri menunjukkan kefakiran, kemiskinan, dan kekumuhan. Jika tiga bidang itu disatukan, foto ini menghasilkan efek kontras yang sangat kuat.

Dalam dunia lawak, hukum tiga untuk menciptaka efek kontras banyak digunakan untuk menciptakan efek kejut (tikungan). Strategi ini terutama banyak digunakan oleh pelawak tunggal dalam stand up comedy. Berikut contohnya:

1  Cowok kalau ngumpul sama cowok, yang diobrolin pasti cewek.
2 Cewek kalau ngumpul sama cewek, yang diobrolin pasti cowok.
3 Tapi kalau cewek ngumpul sama cowok, ngapain ngobrol?

Kontras hukum tiga, antara lain digunakan Dodi Mulyanto dalam beberapa lawakannya, antara lain:

1 Salah satu fungsi gadget adalah menyemapikan pesan jarak jauh.
2 Di desa ya ada gadget dari dulu.
3 Namanya kentongan.

Rahmat Petuguran, mahasiswa Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.