Inilah 5 Alasan Kenapa Orang Tegal Selalu Bisa Dipercaya

Beredar banyak stereotip mengenai orang-orang Tegal. Ada yang menganggap mereka sebagai komunitas lucu. Sebab, mereka menggunakan bahasa Jawa Tegalan yang ngapak. Ada pula yang menganggap warga Tegal sebagai komunitas yang giat bekerja, berjiwa wirausaha tinggi.

Namun, semua setereotip itu hanyalah anggapan umum yang tidak akurat. Stereotip biasanya dilahirkan orang luar atas hasil pengamatan yang sekilas. Stereotipe hanya jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks menjadi sederhana.

Hal yang justru tidak banyak dilihat dari orang Tegal adalah kejujurannya. latar belakang historis mereka sebagai warga pesisir, mengukuhkan mereka sebagai orang yang memiliki watak kolektif dapat dipercaya. Inilah 10 alasannya.

1. Blakasuta

Orang Tegal, sebagaimana orang Banyumas dan Brebes, menggunakan bahasa blakasuta. Blakasuta berarti berbahasa dengan lugas dan tanpa basa-basi. Orang Tegal senang mengutarakan isi hati apa adanya.

Pilihan bahasa yang cablaka memang membuat bahasa Tegal tampak kasar. Namun, baiknya adalah, mereka bukan orang yang gampang bohong. Mereka berupaya menjaga khormatan dirinya dengn berupaya jujur.

Sifat ini penting dipertahaankan ketika orang jujur justru semakin jarang. Orang Tegal yakin, kejujuran adalah “mata uang yang berlaku di mana pun.”

2. Wirausaha

Orang Tegal memiliki jiwa kewirausahaan tinggi. Dua bidang yang sangat mereka kuasai adalah bidang kuliner dan pembuatan onderdil kednaraan bermotor. Di bidang kuliner, warga Tegal secara massif telah menyebarkan warung tegal (warteg) ke seluruh penjuru negeri. Beberapa pengusaha Tegal bahkan berhasil memperkenalkannya di Australia dan Amerika.

Kesuksesan para pengusaha, lazimnya, ditopang oleh kombinasi kejujuran dan kerja keras. Begitu pula dengan warga Tegal. Mereka memelihara kepercayaan pelanggannya dengan kejujuran.

3. Ekspresif

Bahasa Tegal dikenal sangat ekspresif. Bahasa ini sukup akomodatif untuk mengungkapkan berbagai perasaan. Ekspresi sedih, gundah, bahagia, hingga kelakar bisa diungkapkan dengan kosakata tegalan yang bervariasi itu. Mengenai hal itu, penyair asal Tegal Eko Tunas berpendapat:

“Saking ekspresife bahasa ibu sing siji kiye luwih-luwih sebagai mata jiwa. Saking blakasutane, bahasa Tegal luwih-luwih biasa ngetokena uneg-uneg utawa pikiran sajujur-jujure, ora nganggo tedeng aling-aling apa-apa. Malah watek sing kaya Bima nang wayange kiye bahasa mata jiwa kuwe nggawa wong Tegal nduwe sifat waninan. Kaya Bima sing dikongkon njegur segara ya gelem. Nyilem nang dasar laut ya ketemune Dewa Ruci.”

4. Seniman, Artistik

Banyak seniman teater, puisi, hingga film yang lahir di Tegal. Ini sebuah realitas yang tidak dapat dipungkiri bahwa Tegal adalah lahan subur kesenian. Bupati Tegal Ki Enthus Susmono, misalnya, adalah dalang yang sangat kondang. Dia bahkan membawakan wayang dengan gaya baru, yang menerabas pakem. Di bidang sastra ada penulis Lanang Setiawan yang banyak memproduksi buku berbahasa Tegal.

Penyair Tegal yang termasuk dalam angkatan 66 adalah Piek Ardijanto Soeprijadi dan SN Ratmana. Sementara Widjati digolongkan ke dalam penyair Angkatan ’00’ (Kosong-kosong). Kota Tegal tercatat memiliki dua tokoh perfilman nasional yang cukup produktif yaitu Imam Tantowi (sutradara dan penulis skenario), dan Chaerul Umam (sutradara).

Seniman, sebagaimana para ilmuwan dan intelektual, adalah orang-orang yang mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Hanya saja, mereka memiliki gaya ungkap yang indah dan estetik.

5. Bersikap Kesatria

Warga Tegal punya sosok idola bernama Adipati Martoloyo. Sosok ini bahkan dianggap sebagai personifikasi sikap mental kolektif warga Tegal. Tidak heran kalau warga Tegal juga menjadikan sosok ini sebagai teladan.

Adipati Martoloyo adalah ksatria yang berani mempertaruhkan jabatan dan bahkan nyawa demi keyakinannya. Saat Raja Amangkurat II bekerja sama dengan Belanda, ia bersama adipati lain melakukan perlawanan. Dia marah dan jijik melihat tingkah laku Belanda yang tidak punya tata krama. Martoloyo ikut muak melihat atasannya bersahabat dan bekerja sama dengan kompeni.

Sikap yang paling menonjol dalam diri Adipati Martoloyo adalah keteguhannya dalam membela keyakinan. Itu terbukti, ketika ia menolak tunduk kepada Amangkurat II dan memilih mati saat berhadapan dengan Martopuro.

Harini Ima Saputri, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), bermukim di Tegal

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.