Empat dari Enam Jenis Kuntul Dunia Ada di Srondol

Habitat kuntul di pepohonan di depan Markas Banteng Raiders, Srondol, Semarang, senantiasa menarik perhatian. Seiain jadi tontonan, burung-burung berbulu putih, berkaki panjang, dan berieher jenjang itu acap dijadikan objek penelitian. Tak hanya itu, kuntul Srondol juga dijadikan salah satu ikon Kota Semarang.

Sebagai ikon, burung-burung itu telah mengilhami seniman melahirkan karya bernuansa semarangan. Sebut saja Tari Biekok garapan Didik Nini Thowok dan Yoyok Bambang Priyambodo, serta gambar motif pada batik semarangan. Tari Biekok diciptakan sebagai pembuka pagelaran Semarang Pesona Asia pada 2007. Sedangkan motif kuntul dibuat oleh tim kreatif sebuah rumah produksi batik di Semarang.

Burung-burung kuntul sudah bermukim di Srondol selama puluhan tahun. Mereka menjadikan tempat itu sebagai persinggahan di sela aktivitas mencari makan. Dulu, ketika Semarang masih memiliki banyak areal sawah, rawa, tambak, dan hutan mangrove, jumlah kuntul di Srondol relatif banyak. Seiring maraknya alih fungsi lahan, banyak kuntul yang memilih hengkang. Mereka mencari tempat persinggahan baru yang lebih dekat dengan sumber makanan. Perlu diketahui, makanan burung kuntul adalah ikan, binatang laut, siput, katak, dan ular.

Sebagai gambaran, dosen Jurusan Biologi Undip, Karyadi Baskoro S.Si M.Si memaparkan, hingga akhir tahun 1990-an populasinya berkisar 1000 ekor. Burung-burung itu menghuni 24 pohon, terdiri atas angsana, asam, dan mangga.

Namun kini, berdasar pengamatan, populasinya menyusut drastis, menjadi 200-an. Pohon yang dihuni juga tinggal empat batang. “Sebagian kuntul hijrah ke kawasan hutan bakau di daerah Sayung, Demak. Di tempat itu tentu lebih nyaman, karena relatif dekat dengan sumber makanan,” kata Karyadi.

Kebisingan tidak berpengaruh terhadap berkurangnya populasi. Pasalnya, sebagai jenis burung air, kuntul tidak terlampau peka terhadap suara. Kalau faktor kebisingan berpengaruh, ujar Karyadi, tentu sudah pergi dari Srondol sejak dulu.

Ada fakta menarik mengenai burung kuntul di Srondol yang tak diketahui banyak orang. Fakta itu terkait dengan keragaman jenisnya. Berdasarkan penelitian Dosen Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kukuh Santosa antara 1997-2002, jenisnya ada empat, yakni kuntul besar (Egretta alba), kuntul perak (Egretta intermedia), kuntul kecil (Egrettagarzetta), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Padahal menurut buku Burung-burung diJawa dan Bali (Me Kinnon, 1991), The Oxford Books of Birds (Campdell Trade and Donald Waetson), dan Bird of Malaysia (Delacour Yean), jenis kuntul yang hidup di dunia ini hanya ada enam. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa, empat dari enam jenis kuntul yapg ada di dunia terdapat di Srondol.

Dua jenis lainnya adalah kuntul Cina (Egretta euphoes) dan kuntul karang (Egretta sacra). Kuntul Cina tidak ditemukan di Indonesia, sedangkan kuntul karang ternyata banyak dijumpai di Kepulauan Karimunjawa.

Jika alih fungsi lahan basah di Semarang terus berlangsung, dan tak dikendalikan, cepat atau lambat burung-burung itu akan menghilang dari pepohonan di Srondol. Jika benar-benar terjadi, hal itu tentu amat disayangkan.

Sumber tulisan: Buku Remeh-Remeh Kisah Semarang (2012) karya Rukardi

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *