Makan Siang Bersama Kawan

Makanan dan bagaimana seseorang memakannya adalah perkara kultural yang mungkin dapat digunakan untuk meraba gejala kultural lain, terutama yang tak tampak. Itulah yang saya rasakan ketika Selasa kemarin saya makan siang dengan Diyamon Prasandha, kawan sesama dosen tidak jelas. Makan siang membuat saya mengenalnya lebih baik, sekaligus memperlihatkan bahwa identitas kami benar-benar berbeda dalam banyak hal.

Ketika kami sampai di pujasera kampus di seberang roundabouts Unnes, saya bergegas menghampiri meja di bagian kanan pintu masuk. Di sanalah pengelola warung menumpuk piring, menjadi dua tumpukan yang sama tinggi, terletak tepat di samping rice cooker yang lampu indikatornya selalu menyala.

Setelah mengambil piring yang terletak di bagian paling atas tumpukan, saya memindahkan nasi dari rice cooker ke piring hingga kecekungan piring nyaris teruruk sepenuhnya. Saya tidak ingat persis, apakah saya juga menekan permukaan nasi agar lebih padat atau tidak. Tetapi yang jelas, sebagian besar permukaan piring sudah tertutup nasi.

Beranjak ke lauk, saya mengambil oseng tempe yang dicampur cabai, kikil kambing, dan opor ayam. Tiga jenis makanan itu terletak di pojok yang sama, ditampung dalam mangkok berukuran besar yang terbuat dari kaca. Saya memilih ketiganya seolah begitu malas untuk bergeser beberapa langkah agar bisa menjangkau jenis sayur dan lauk lain yang bejejer di lemari etelase yang panjangnya sekira dua meter itu.

Tentang kandungan gizi, saya tidak tahu, apakah makanan-makanan itu cukup baik atau tidak. Tetapi, selain karena bersandingan, secara instingtif, tangan saya agaknya selalu menuju jenis makanan yang banyak mengandung karbohidrat.

Di Eropa, konon, daging adalah favorit para kuli, baik mereka yang bekerja di pelabuhan, perkebunan, atau pabrik pengolahan kapas. Mereka memerlukan karbohidrat untuk mengganti energi yang terkuras lantaran sekujur otot bergerak, menopang beban di pundak, atau digerakan secara terus-menerus.

Tidak ada rasio yang jelas antara nasi, tempe, dan kikil yang saya tumpuk dalam piring. Semuanya saya lakukan dengan pertimbangan, sebaik-baik menggunakan piring adalah jika semakin sedikit permukaannya yang tampak. Setiap bagian sebaiknya tertutup.

Tindakan saya saat itu, sudah cukup bagi orang yang lewat di depan meja kami untuk segera mengira bahwa saya tidak sarapan. Dan, memang begitulah. Atau, orang mungkin juga mengira, saya tidak sarapan, juga tidak makan malam pada hari sebelumnya.

Rekan saya, Diyamon Prasandha, menunjukkan gelagat yang sama sekali berbeda. Ketika mengambil nasi, ia hanya mengambil beberapa sendok, hanya cukup untuk menutupi bagian datar dari sebuah piring. Dia menyiram nasi itu dengan kuah sup kacang panjang yang dicampur jipang.

Air yang ia gunakan cukup untuk membuat setiap butir nasi menjadi basah, namun tidak membuat nasi tenggelam. Lalu ia tambahkan beberapa potong kacang panjang pada satu sisi piringnya.

Ketika mendekati lauk, ia menggerakan bola matanya dari kanan dan ke kiri, seperti sedang mempertimbangkan untuk mengambil semua sekaligus untuk menolak semua. Dan ketika bola matanya sampai pada potongan ikan, ia menggerakkan tangan untuk mengambilnya.

Pilihannya terhadap sayur dan lauk mungkin tampak alami. Tetapi tampaknya ia telah mempertimbangkan betul bahwa sayur memiliki kandungan vitamin, adapun ikan memiliki kandungan protein. Dua jenis nutrisi ini, konon, jenis nutrisi yang digemari oleh masyarakat kerah putih untuk menopang aktivitas intelektual: berpikir..

Sambil makan, saya mengamati ia selalu mengambil nasi dengan sendok dengan memasukkan ujung sendok (bukan samping) ke ke bawah nasi, lalu mengangangkatnya. Dia tidak menggunakan garpu untuk menusuk lalu mengangkat ikan dalam piringnya.

Garpu itu hanya ia gunakan untuk menjaga agar ikan itu tidak begerak ketika ia berusaha mengambil dagingnya dengan sendok. Dan ia melakukan tindakan itu seperti dengan tempo lambat yang tetap. Ia mengulangi dengan kecepatan gerak tangan yang sama, hingga nasinya bersih.Dia tidak meninggalkan sebatur pun di piring.

Yang membuat saya semakin takjub, adalah pada caranya mengambil tisu. Ia tidak menggunakan jempol dan telunjuk, melainkan jari telunjuk dan jari tengah untuk mengapit tisu kemudian mengangkatnya. Ia lalu membawa tisu itu ke depannya, memegangnya dengan kedua tangan baru menggunaknnya untuk membersihkan daerah sekitar mulut.

Tangannya bergerak maju mundur, bukan menyamping. Tisu itu ditekan pada satu bagian kecil bagian mulurnya, ia angkat kembali lalu ditekan kembali pada bagian yang sama tetapi sebenarnya agak bergeser beberapa milimeter. Tisu tidak digerakkannya dari samping kiri ke kanan atau sebaliknya.

Setelah daerah sekitar mulutnya kering, barulah ia melipat tisu menjadi bagian yang lebih kecil, lantas menaruh (bukan melemparkannya) di atas piring yang telah kosong.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.