Berebut Cantik Melalui Warna Kulit

Seperti konsep estetik lain, kecantikan adalah objek sengketa. Kecantikan menjadi ruang pertarungan bagi subjek-subjek yang berkepentingan terhadapnya. Tak hanya melibatkan kultural, sengketa kecantikan bahkan melibatkan kekuatan negara.

Di Indonesia, periode kecantikan dapat dibagi dalam enam tahapan: prakolonial, kolonial, pendudukan Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan reformasi. Pada tiap tahapan itu, kecantikan perempuan memiliki karakteristik khasnya.

Dalam buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional, dosen Universitas Hawai’i, Manoa, L Ayu Sarawati menguraikan kekhasan masing-masing periode tersebut.

Pada masa prakolonial, kecantikan perempuan di Nusantara direferensikan pada konsep kecantikan tokoh perempuan dalam epos Ramayan dan Mahabharata.

Deskripsi perempuan cantik pada periode ini banyak direfleksikan pada sifat-sifat fisik para dewi. Bahkan pada periode ini, sudah muncul konsep putih sebagai prasyarat kecantikan. Konsep putih itu muncul dalam perandaian “seterang cahaya rembulan”. Konsep ini terutama terjadi di Jawa, daerah Nusantara yang sangat kuat dipengaruhi kedua epos tersebut.

Ketika masyarakat Eropa datang, konsep kecantikan digeser ke putih Kaukasia. Orang Eropa berhasil mendesakkan konsep kecantikan rasial bahwa kecantikan sempurna adalah seperti yang mereka miliki: berkulit putih.

Konsep ini semakin mapan karena dilegitimasi serangkaian aturan, misalnya dengan membagi masyarakat saat itu pada tiga kelompok kelas: Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Penempatan orang Eropa pada kasta tertinggi membuat orang Timur Asing dan pribumi terdorong meraih kriteria kecantikan yang kukuh itu.

Konsep ini baru gugur ketika pada 1942 Jepang menggantikan kekuasaan bangsa Eropa di Indonesia. Jepang mendesakkan konsep kecantikan baru bahwa cantik itu bukan putih Kaaukasian tapi kuning Asia. Konsep ini didesakkan antara lain untuk mendukung propaganda Jepang sebagai pemimpin Asia.

Di era ini, orang-orang keturunan Eropa yang dulu begitu bangga karena kulitnya putih justru berusaha menyembunyikannya. Dengan aneka cara mereka memunculkan ke-Asia-annya dengan menggali darah Asia yang mereka warisi.

Setelah merdeka, Indonesia berusaha menemukan konsep kecantikan yang lebih “nasionalis”. Proyek-proyek pendefinisian kecantikan ini dilakukan pemerintah dengan menampilkan gadis-gadis muda dalam balutan pakaian tradisional yang mewakili karakter etnik mereka masing-masing.

Saraswati menelusuri, pada periode inilah perempuan Indonesia mulai percaya diri dengan sebutan sawo matang-nya. Dengan memperkenalkan warna kulit baru bernama sawo matang, perempuan Indonesia diajak move on meninggalkan konsep kecantikan lama yang didesakkan para penjajah: putih Kaukasia dan kuning Asia.

Tetapi kondisi kembali berubah (meski periodesasinya tak selalu tegas) ketika Orde Lama tumbang digantikan Orde Baru (saya selalu merasa tak nyaman menggunakan dua istilah ini, karena muatan politisnya terlalu culas).

Kedekatan politik ekonomi Indonesia dengan Amerika pada masa Orde Baru kembali membuat konsep kecantikan Indonesia bergeser mengarah ke putih. Bedanya, dulu putih Eropa sekarang putih Amerika. Kondisi ini dapat ditandai dengan dipergunakannya model-model bertampang Amerika dalam berbagai iklan produk kecantikan. Perempuan Indo (blasteran) kembali mendapat panggung sehingga ditempatkan sebagai model ideal kecantikan itu sendiri.

Konsep ini tampaknya tak banyak berubah setalah reformasi. Meski kondsi politik membuat perempuan Indonesia lebih leluasa menentukan konsep kecantikannya, pengaruh konsep kecantikan yang ditanamkan pada peride panjang kekuasaan Orde Baru membuatnya tak mudah digeser.

Kita bisa lihat kondisi ini dari tampilnya ikon-ikon kecantikan Indonesia modern. Pada masanya: ada Tamara Blezenksy. Pada periode berbeda; Luna Maya. Kini muncul lagi: Chelsea Islan. Meskipun dalam periode yang lebih pendek muncul pula nama Dian Sastrowardoyo. Tapi pada prinsipnya, putih masih jadi konsep kecantikan ideal yang kukuh dan terkukuhkan.

Konsep itulah yang menjadi dasar ideologis bagi maraknya industri kecantikan di Indonesia. Produk pemutih kulit (betatapa pun itu adalah kebutuhan tersier) ternyata jadi industri bernilai sangat besar. Klinik-klinik perawatan kulit pun kini tersebar hingga populasinya mungkin menyamai populasi warteg.

Buku ini menawarkan pendekatan yang relatif baru dalam memahami sengketa kecantikan. Tidak terbatas  pada cultural studies, penulis menggunakan peran afeksi dalam peneguhan konsep kecantikan.

Bagi pembaca, buku ini (akan) berguna untuk merenungkan kembali bahwa konsep-konsep kecantikan pada kovensi budaya. Dia, sebagaimana konsep sosial lain, adalah hasil kerja dominasi subjek-subjek tertentu. Oleh karena itu, konsep kecantikan bukan kondisi yang tetap. Dia bisa dilawan dan ditandingi dengan konsep tandingan.

Saya selalu ingat konsep kecantikan yang didesakkan Veet yang muncul di televisi melalui Astrid Tiar. Kata Veet: cantik itu kulit mulus bebas bulu. Untuk menandingi konsep itu, bolehlah para perempuan yang kaki dan tangannya berambut melawan dengan jargon tandingan: berbulu lebat itu hebat!

Selamat bersengketa…

Rahmat Petuguran
Bingung mau pakai atribusi apa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *