Connect with us

News

Unnes Perkuat Kompetensi Dosen Unissra Melalui Pelatihan Penulisan E-Book Interaktif Berbasis Kurikulum Berdampak

Published

on

Transformasi digital di perguruan tinggi tidak lagi sekadar berbicara tentang penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Lebih dari itu, transformasi menuntut dosen mampu menghasilkan bahan ajar digital yang inovatif, interaktif, dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan penulisan e-book interaktif berbasis Kurikulum Berdampak bagi dosen Universitas Sragen (UNISSRA).

Program ini merupakan kolaborasi akademik antara kedua perguruan tinggi yang bertujuan memperkuat kompetensi digital dosen sekaligus meningkatkan produktivitas publikasi bahan ajar berbasis teknologi.

Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Rudi Hartono, S.S., M.Pd. sebagai ketua tim, bersama anggota Dr. Prabowo Yudo Jayanto, S.E., M.S.A., Dr. Seful Bahri, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Ferani Mulianingsih, M.Pd.. Dua mahasiswa program doktor turut dilibatkan sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Eko Heriyanto, S.S., M.Hum. dan M. Rifqi Bachtiar, S.Pd., M.Pd. Universitas Sragen menjadi mitra pelaksanaan program melalui dukungan penuh dari pimpinan universitas.

Program pengabdian ini lahir dari hasil analisis kebutuhan yang menunjukkan masih adanya kesenjangan kompetensi dosen dalam mengembangkan bahan ajar digital. Sebelum pelaksanaan pelatihan, sebagian besar dosen masih menggunakan modul atau bahan ajar berbentuk dokumen PDF konvensional. Penguasaan perangkat lunak penyusun e-book interaktif juga relatif rendah. Di sisi lain, implementasi Outcome-Based Education (OBE) dalam penyusunan bahan ajar digital belum berjalan optimal sehingga diperlukan intervensi melalui pelatihan yang lebih sistematis.

Melalui program ini, peserta memperoleh pelatihan intensif mengenai penyusunan e-book interaktif menggunakan berbagai perangkat lunak authoring tools, seperti Canva, Flip PDF, Sigil, Kotobee, dan perangkat pendukung lainnya. Tim pengabdi tidak hanya mengenalkan aspek teknis penyusunan e-book, tetapi juga memberikan pendampingan mengenai integrasi multimedia, penyelarasan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), penyusunan asesmen autentik, hingga prosedur penerbitan e-book ber-ISBN. Pendekatan tersebut dirancang agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memenuhi standar akademik dan kebutuhan pembelajaran berbasis kurikulum berdampak.

Ketua tim PKM, Prof. Rudi Hartono, menjelaskan bahwa perubahan paradigma pembelajaran menuntut dosen mampu menghasilkan bahan ajar yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, e-book interaktif bukan sekadar media digital pengganti buku cetak, tetapi merupakan perangkat pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teks, gambar, video, kuis interaktif, dan berbagai sumber belajar lain dalam satu platform.

“Perguruan tinggi perlu bergerak lebih cepat dalam menghadapi transformasi digital. Dosen tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengemasnya menjadi bahan ajar digital yang interaktif, relevan, dan berdampak bagi mahasiswa,” ujarnya.

Pelaksanaan pelatihan mengedepankan pendekatan hands-on training. Setiap peserta didampingi secara langsung mulai dari tahap perancangan isi, pengembangan desain, penyisipan multimedia, hingga simulasi implementasi e-book dalam Learning Management System (LMS). Selain itu, peserta juga mengikuti klinik penulisan untuk mempercepat penyelesaian naskah sekaligus memperoleh pendampingan dalam proses pengajuan ISBN. Model pembelajaran berbasis praktik dipilih agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu menghasilkan produk nyata yang siap digunakan dalam proses perkuliahan.

Efektivitas pelatihan diukur melalui instrumen pre-test dan post-test yang diberikan kepada peserta. Hasil evaluasi awal menunjukkan kompetensi peserta masih berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 3,14. Data tersebut mengindikasikan bahwa peserta telah memiliki pengetahuan dasar mengenai penyusunan bahan ajar digital, namun belum menguasai seluruh aspek yang dibutuhkan, khususnya integrasi e-book ke dalam LMS dan pemanfaatan teknologi authoring tools secara optimal.

Analisis pre-test juga memperlihatkan bahwa aspek penyelarasan CPL dengan bahan ajar memperoleh skor relatif lebih baik dibandingkan indikator lainnya. Sebaliknya, integrasi e-book ke dalam sistem pembelajaran digital masih menjadi tantangan utama yang dihadapi peserta. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim pengabdi dalam menyusun materi pelatihan yang lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan nyata dosen di lapangan.

Tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan individu, program ini juga dirancang untuk membangun ekosistem transformasi digital di lingkungan Universitas Sragen. Tim pengabdi menyiapkan berbagai perangkat pendukung, mulai dari modul pelatihan, template e-book berbasis OBE, panduan penggunaan perangkat lunak, hingga sistem pendampingan yang memungkinkan peserta terus mengembangkan produknya setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, hasil pengabdian diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan produktivitas akademik dosen.

Hasil Evaluasi Tunjukkan Peningkatan Kompetensi Dosen, Program PKM UNNES Dinilai Efektif

Keberhasilan sebuah program pelatihan tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari perubahan kompetensi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Atas dasar itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan evaluasi menyeluruh melalui instrumen pre-test dan post-test untuk mengetahui efektivitas pelatihan penulisan e-book interaktif berbasis Kurikulum Berdampak bagi dosen Universitas Sragen. Evaluasi dilakukan terhadap sepuluh indikator yang mencakup literasi digital, penguasaan authoring tools, integrasi multimedia, penerapan Outcome-Based Education (OBE), penyusunan asesmen autentik, hingga produktivitas penyusunan e-book ber-ISBN.

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Sebelum pelatihan dilaksanakan, kompetensi peserta berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 3,14. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dosen telah memiliki pengalaman dasar dalam penyusunan bahan ajar digital, tetapi masih membutuhkan penguatan pada aspek teknis maupun pedagogis, terutama dalam pemanfaatan perangkat lunak authoring tools dan integrasi e-book ke dalam Learning Management System (LMS).

Setelah mengikuti pelatihan, gambaran tersebut berubah secara nyata. Hasil post-test memperlihatkan rata-rata pencapaian kompetensi peserta mencapai 89,3 persen, yang masuk dalam kategori Sangat Tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah menguasai materi pelatihan sekaligus mampu memahami tahapan pengembangan e-book interaktif yang selaras dengan prinsip kurikulum berdampak.

Beberapa indikator bahkan mencapai tingkat keberhasilan sempurna. Tiga butir evaluasi memperoleh tingkat pencapaian 100 persen, yakni pada indikator yang berkaitan dengan pemahaman materi inti dan kesiapan peserta mengimplementasikan hasil pelatihan. Sementara itu, tiga indikator lainnya berada pada rentang 73,3 hingga 80 persen. Walaupun nilainya sedikit lebih rendah dibanding indikator lain, capaian tersebut tetap berada pada kategori tinggi dan menunjukkan bahwa mayoritas peserta telah mampu menerapkan kompetensi yang dipelajari selama pelatihan.

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pelatihan, seluruh indikator mengalami peningkatan. Analisis perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan rata-rata peningkatan kompetensi mencapai 26,5 poin persentase. Lonjakan tertinggi terjadi pada Item 9, yang meningkat sebesar 41,4 poin persentase, disusul Item 1 sebesar 37,4 poin, serta Item 2 sebesar 33,3 poin. Sebaliknya, peningkatan terkecil terdapat pada Item 7, yakni 9,3 poin persentase. Meski demikian, indikator tersebut tetap menunjukkan perubahan positif yang menandakan efektivitas program secara menyeluruh.

Menurut tim pengabdi, peningkatan tersebut tidak terlepas dari pendekatan pelatihan yang menitikberatkan pada praktik langsung. Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga mengembangkan draft e-book masing-masing dengan pendampingan intensif dari narasumber. Setiap dosen memperoleh kesempatan untuk mendiskusikan desain bahan ajar, menyusun struktur e-book, mengintegrasikan video pembelajaran, membuat kuis interaktif, hingga menyempurnakan naskah yang siap diajukan untuk memperoleh ISBN. Pendekatan tersebut membuat peserta dapat langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks mata kuliah yang mereka ampu.

Selain peningkatan kompetensi, evaluasi juga mencatat perubahan pola respons peserta terhadap setiap indikator pembelajaran. Pada tahap pre-test, jawaban peserta didominasi oleh kategori Kurang Setuju dan Setuju. Setelah mengikuti pelatihan, kecenderungan jawaban bergeser menjadi Setuju dan Sangat Setuju pada hampir seluruh indikator evaluasi. Pergeseran tersebut menunjukkan meningkatnya tingkat kepercayaan diri peserta dalam menggunakan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran.

Tidak hanya data kuantitatif, tanggapan kualitatif peserta juga memberikan gambaran positif terhadap pelaksanaan program. Sebagian besar peserta menyatakan materi pelatihan relevan dengan kebutuhan dosen pada era transformasi digital. Mereka menilai kombinasi antara teori, praktik, dan pendampingan membuat proses belajar menjadi lebih mudah dipahami. Beberapa peserta bahkan berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan, terutama dalam bentuk pendampingan hingga e-book yang mereka susun berhasil diterbitkan secara resmi dan memperoleh ISBN. Selain itu, muncul pula usulan agar kolaborasi dikembangkan ke bidang publikasi internasional sehingga dapat meningkatkan rekognisi akademik dosen.

Ketua tim PKM, Prof. Dr. Rudi Hartono, menilai hasil evaluasi tersebut menjadi indikator bahwa model pelatihan berbasis praktik mampu menjawab kebutuhan nyata dosen di perguruan tinggi. Menurutnya, peningkatan kompetensi digital dosen harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat budaya akademik, serta menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Ia menegaskan bahwa e-book interaktif tidak hanya berfungsi sebagai bahan ajar digital, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang memungkinkan dosen mengintegrasikan berbagai bentuk konten dalam satu platform. Melalui video pembelajaran, ilustrasi visual, tautan referensi, kuis adaptif, dan asesmen berbasis proyek, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif dan berorientasi pada pencapaian kompetensi mahasiswa.

Program ini juga sejalan dengan arah kebijakan transformasi pendidikan tinggi yang mendorong implementasi Outcome-Based Education (OBE) dan penguatan Kampus Berdampak. Dalam konteks tersebut, kemampuan dosen menghasilkan e-book interaktif dipandang sebagai bagian dari penguatan kapasitas institusi dalam menyediakan pembelajaran yang inovatif, fleksibel, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan produk digital, tetapi membangun budaya akademik yang mendorong dosen terus berinovasi dalam mengembangkan bahan ajar berkualitas.

Rektor Universitas Sragen, Prof. Dr. Suharno, S.T., M.T., bersama jajaran pimpinan universitas menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Kolaborasi dengan UNNES dinilai membuka peluang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat jejaring antarperguruan tinggi. Ke depan, hasil pelatihan diharapkan tidak berhenti pada penyusunan draft e-book, tetapi berlanjut pada implementasi dalam perkuliahan, penerbitan karya ber-ISBN, serta pengembangan repository digital yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh sivitas akademika.

Bagi tim pengabdi, keberhasilan program ini bukanlah titik akhir. Pendampingan lanjutan akan tetap dilakukan agar setiap peserta mampu menyelesaikan naskah e-book hingga tahap publikasi. Dengan demikian, luaran pengabdian tidak hanya berupa peningkatan pengetahuan, tetapi juga produk akademik yang memberikan manfaat nyata bagi proses pembelajaran di Universitas Sragen.

Kolaborasi antara UNNES dan Universitas Sragen ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi instrumen strategis dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi. Ketika pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan riil, didukung pendampingan yang berkelanjutan, dan dievaluasi secara terukur, hasilnya tidak hanya tercermin pada angka-angka evaluasi, tetapi juga pada meningkatnya kesiapan dosen menghadapi era pembelajaran digital. Peningkatan kompetensi hingga kategori Sangat Tinggi serta lonjakan capaian sebesar 26,5 poin persentase menjadi bukti bahwa investasi pada pengembangan kapasitas dosen merupakan langkah penting untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inovatif, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.

PORTALSEMARANG.COM adalah media terpercaya yang memberikan informasi bermakna tentang gaya hidup warga Kota Semarang dan sekitarnya. Tertarik kerja sama dengan kami? Kontak Rosi: 0812-3826-1313

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending