Buku
Kaji Dinamika Membaca Di Book Club Semarang, Mahasiswa Unnes Temukan Alternatif Literasi Berbasis Digital
Di tengah arus digital yang serba cepat, ruang-ruang literasi nonformal justru menemukan relevansinya. Hal ini tergambar dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa S2 PIPS UNNES, Daniar Solekha. Ia mengkaji bagaimana komunitas literasi mampu membentuk makna dan karakter remaja. Fokus penelitiannya adalah Book Club Semarang, sebuah komunitas yang tidak hanya menghadirkan aktivitas membaca, tetapi juga membangun interaksi sosial yang bermakna.
Book Club Semarang mengusung visi menjadikan Kota Semarang sebagai kiblat literasi. Dalam perjalanannya, komunitas ini berpegang pada tiga nilai utama, yaitu menciptakan lingkungan yang mendukung, inklusif dalam batas tertentu, dan menjaga konsistensi kegiatan. Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam membangun ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi di dalam komunitas tidak terjadi secara spontan, melainkan dirancang melalui pola kegiatan yang terstruktur. Mulai dari silent reading, review buku, hingga diskusi menjadi rangkaian aktivitas yang mendorong anggota untuk bertukar pikiran dan membangun pemahaman bersama. Proses ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memperkuat relasi sosial antaranggota.
Melalui wawancara dengan pendiri, pengurus, dan anggota, terungkap bahwa aktivitas membaca dimaknai secara beragam. Pendiri komunitas, Firly Aufa Ashanti, melihat membaca sebagai pengalaman personal yang sarat dengan nilai emosional. Sementara itu, bagi anggota, membaca berkembang menjadi praktik sosial yang membantu mereka memahami diri sendiri sekaligus lingkungan sekitar.
Menariknya, anggota komunitas tidak memandang buku sebagai kebenaran tunggal. Buku diposisikan sebagai hasil pemikiran yang terbuka untuk ditafsirkan. Perspektif ini mendorong lahirnya sikap kritis serta keterbukaan dalam diskusi. Perbedaan pandangan tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai kekayaan yang memperluas cara berpikir.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan dalam diskusi membuat anggota membaca lebih mendalam dan reflektif. Kesadaran bahwa hasil bacaan akan didiskusikan bersama mendorong mereka untuk memahami isi buku secara lebih serius serta mengaitkannya dengan pengalaman sosial yang dimiliki.
Keberlangsungan Book Club Semarang hingga saat ini tidak terlepas dari peran pengurus yang memiliki komitmen tinggi. Mereka tidak hanya mengatur jalannya kegiatan, tetapi juga menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan partisipatif. Salah satu prinsip yang dijaga adalah tidak adanya praktik book shaming, sehingga setiap anggota merasa nyaman dalam mengekspresikan pandangannya.
Melalui temuan ini, penelitian Daniar Solekha menegaskan bahwa komunitas literasi seperti Book Club Semarang mampu menjadi alternatif penting di tengah dominasi budaya digital. Komunitas ini tidak sekadar menghidupkan budaya membaca, tetapi juga membentuk remaja yang reflektif, kritis, dan terbuka terhadap perbedaan.
-
Muda & Gembira11 years agoKalau Kamu Masih Mendewakan IPK Tinggi, Renungkanlah 15 Pertanyaan Ini
-
Lowongan11 years agoLowongan Dosen Akademi Teknik Elektro Medik (ATEM), Deadline 24 Juni
-
Muda & Gembira11 years agoSMS Lucu Mahasiswa ke Dosen: Kapan Bapak Bisa Temui Saya?
-
Muda & Gembira11 years agoSembilan Kebahagiaan yang Bisa Kamu Rasakan Jika Berteman dengan Orang Jepara
-
Muda & Gembira11 years agoInilah 10 Sifat Orang Ngapak yang Patut Dibanggakan
-
Muda & Gembira12 years agoInilah 25 Rahasia Dosen yang Wajib Diketahui Mahasiswa
-
Kampus12 years agoAkpelni – Akademi Pelayaran Niaga Indonesia
-
Kampus14 years agoUnwahas – Universitas Wahid Hasyim
