Connect with us

Selama sekolah saya bertemu dengan banyak guru hebat. Saat SMP, salah satu guru hebat yang saya temui adalah Pak Sutowo. Kami, para siswa, biasa memanggil beliau dengan sapaan akrab: Pak Towo.

Guru mata pelajaran sejarah di SMP Negeri 2 Punggelan itu punya kesan khusus di hati saya karena tiga alasan. Pertama, beliau punya perhatian khusus kepada pendidikan agama siswa-siswanya. Karena itulah, meski secara formal mengajar sejarah, beliau selalu menyempatkan waktu setidaknya 5 menit untuk membahas hadis.

Kedua, saya menghormati beliau karena saya tahu beliau punya kiprah sosial yang luar biasa. Di lingkungan tempatnya tinggal beliau merintis taman pendidikan Quran (TPQ), merintis pengajian rutin, juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Kalaupun ada alasan ketiga, itu adalah alasan sentimental karena saya merasa beliau punya perhatian khusus kepada saya (atau kepada semua siswa, tapi saya tidak tahu?). Saat sama-sama jalan dari rumahnya di Dusun Tangkisan menuju sekolah di Dusun Bengkat, beliau sering menyapa dan mengajak saya ngobrol.

Berkat kebiasaan beliau mengulas hadis 5 menit sebelum pelajaran itulah saya tahu kisah Ali bin Abi Thalib yang mundur dari duel melawan orang kafir.

Alkisah, dalam sebuah pertarungan, Ali hamper bisa mengalahkan musuh itu dengan pedangnya. Namun musuhnya kemudian meludahi dirinya dan mengena di pipi.

Ali justru mundur dan membatalkan niatnya membunuh musuh itu. Kenapa? Awalnya, saat bertarung dia ingin mengalahkan musuh itu untuk membela agama Allah. Tapi karena dia diludahi, Ali khawatir ia mengalahkan musuh itu karena kebencian pribadi.

Bagi siswa SMP seusia saya saat itu, kisah itu memikat karena mengandung pesan moral yang mendalam: berhati-hati dengan rasa marah dan kebencian. Itu bisa mengacaukanmu. Sesederhana itu tafsir saya.

Seiring waktu, tafsir saya terhadap kisah itu tentu semakin berkembang. Rasa marah dan benci adalah energy yang sangat koersif. Energi yang ditimbulkannya tidak hanya merusak dari luar. Tapi yang lebih mengerikan, kebencian justru merusak dari dalam.

Saat membenci orang lain, tindakan seseorang cenderung tidak adil terhadapnya. Kebencian menyebabkan mata dan hati bisa buta, membuat keburukan orang itu tampak demikian nyata dan kebaikannya tampak tidak ada.

Barangkali, kegagalan manusia dalam mengelola kebencian itulah yang turut menciptakan era post-truth seperti sekarang ini. Secara sederhana saya memahami post-truth sebagai gejala sosial ketika orang-orang tidak lagi percaya terhadap fakta karena menjadikan sentimentalisme pribadi sebagai ukuran kebenaran.

Pada era seperti itu, fakta jadi kebenaran yang bernilai tinggi hanya ketika relevan dengan keyakinan sentimentalistik yang dirasakan seseorang. Sebaliknya, jika bertentangan dengan keyakinan dirinya, fakta dianggap tidak bernilai sehingga layak diabaikan.

Meskipun pos-truth adalah istilah baru, kecenderungan manusia untuk hanya mempercayai fakta yang diinginkannya saya rasa sudah ada sejak dulu. Kecenderungan ini berkaitan dengan naluri dasar manusia yang egois dan antroposentris.

Bagi manusia, objek terpenting di jagat raya adalah dirinya sendiri. Tidak peduli seberapa kecil dirinya dibanding makhluk lain, manusia menganggap dirinya adalah yang utama. Persepsi ini membawa akibat turunan bahwa nilai yang paling benar adalah nilai yang dihayatinya. Kriteria kebenaran yang paling layak dipercaya, juga adalah kriteria kebenaran yang diyakininya.

Barangkali kecenderungan itulah yang kerap melahirkan sikap culas. Objek tertentu tampak buruk bukan karena buruk, tapi karena manusia (kita?) cenderung tidak menyukainya. Sebaliknya, objek lain tampak baik bukan karena kebaikan objektif yang melekat padanya, tetapi karena kita menyukainya.

Tanpa bermaksud mengglorifikasi beliau, Pak Towo memberi saya teladan agar bisa mengelola kebencian secara baik. Bukan hanya melalui hadis dan kisah teladan yang dibacakannya, tapi juga melalui tindakannya sehari-hari.

Suatu hari, ada salah satu teman saya yang ngambek di kelas. Dia memang saya kenal sebagai siswa yang cenderung bandel. Teman saya itu menunjukkan sikap agresif, menolak ikut ujian sambil melempar buku dan mengumpat.

Bagi saya, itu jenis tindakan yang keterlaluan dilakukan oleh seorang siswa.

Tapi Pak Towo bersikap tenang menghadapi situasi itu. “Insya Allah saya tetap menyayangi kamu. Saya tidak membencimu. Sebab, mendidik dengan kebencian itu ibarat mencuci pakai air seni,” kata beliau kepada teman saya tadi.

Sudah lama saya tidak bertemu beliau. Beberapa tahun terakhir saya dengan beliau pindah tugas ke SMK 1 Punggelan. Lebaran kemarin saya ingin mengunjungi rumahnya untuk menyerahkan buku terbaru saya yang baru terbit. Tapi saat itu beliau sedang keluar.

Semoga Allah menjaga kesehatan beliau, melancarkan segala aktivitasnya. Amin.

Rahmat Petuguran

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending