Di kelas, saya sering “dongeng”-kan, bahasa dan kekuasaan berelasi dalam dua bentuk, setidak-tidaknya. Pertama, bahasa jadi instrumen meraih, mempertahankan, sekaligus merontokkan kekuasaan. Kedua, bahasa sebagai tindakan merepresentasikan relasi kekuasaan antaragen yang hidup pada komunitas tertentu.
Buku adalah hasil penelitian yang cukup komprehensif utk memahami tipe pertama di atas. Orde Baru menggunakan bahasa untuk menundukkan lawannya, membentuk perilaku tunduk pada aparatusnya, juga memuliakan diri dan kebijakannya.
Di pihak lain, mahasiswa tak mau ketinggalan. Untuk menghadapi permainan bahasa penguasa, mereka melawannya dengan bahasa pula. Dalam beberapa hal perlawanan ini lebih menghasilkan daripada berhadap-hadapan dengan tentara dalam sebuah aksi massa.
Ini buku yang menarik, saya kira sangat bermanfaat bagi mahasiswa aktivis. Adapun bagi mahasiswa jurusan bahasa, buku ini akan memberi perspektif kajian bahasa yang lebih kontekstual.
Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Continue Reading
-
Muda & Gembira11 years agoKalau Kamu Masih Mendewakan IPK Tinggi, Renungkanlah 15 Pertanyaan Ini
-
Lowongan11 years agoLowongan Dosen Akademi Teknik Elektro Medik (ATEM), Deadline 24 Juni
-
Muda & Gembira11 years agoSMS Lucu Mahasiswa ke Dosen: Kapan Bapak Bisa Temui Saya?
-
Muda & Gembira11 years agoSembilan Kebahagiaan yang Bisa Kamu Rasakan Jika Berteman dengan Orang Jepara
-
Muda & Gembira11 years agoInilah 10 Sifat Orang Ngapak yang Patut Dibanggakan
-
Muda & Gembira12 years agoInilah 25 Rahasia Dosen yang Wajib Diketahui Mahasiswa
-
Kampus12 years agoAkpelni – Akademi Pelayaran Niaga Indonesia
-
Kampus14 years agoUnwahas – Universitas Wahid Hasyim
