Yang Tersembunyi di Balik Wacana “Pribumi”

Ketika datang ke Nusantara, petualang Eropa membuat panggilan khas kepada penghuni kepulauan yang dikunjunginya: inlander.

Sebutan inlander mestinya bernuansa netral. Setidaknya kalau pemaknaan kata itu semata dilakukan secara morfologis. “In” berarti dalam, “land” berarti pulau atau daratan. Secara sederhana, “inlander” merujuk pada kelompok orang yang bermukim di sebuah pula.

Tetapi ketika sebutan itu disematkan orang Eropa kepada warga Nusantara pada abad 18 dan 19-an, nuansanya negatif. Ada olok-olok di situ.  Kesan peyoratif pada kata “inlander” muncul karena kata itu digunakan dalam arena politis. Pengguna istilah itu menggunakannya dalam semangat menguasai, menaklukkan, bahkan merendahkan.

Sebagai kata (dan kemudian wacana) yang digunakan untuk maksud politik, “inlander” hanya bisa dimaknai secara paripurna dengan melibatkan unsur-unsur politis yang menyertainya.

Maka, untuk mengetahui makna inlander, empat pertanyaan ini tak bisa diabaikan. Pertama, siapa penuturnya? Kedua, keuntungan apa yang ingin diraih penuturnya? Ketiga, bagaimana penutur membuat sebutan itu berterima? Keempat, ideologi apa yang melatarbelakanginya?

Empat pertanyaan itu juga dapat digunakan untuk menelaah wacana “pribumi” yang dilemparkan beberapa orang beberapa hari ini. Di balik wacana itu pasti terdapat kepentingan yang dapat ditelusuri.

Nah, setelah menelusuri dan menemukan maknanya, tentu siapa pun bebas untuk mendukung, menolak, atau mengabaikannya.

Konsep inlander dan pribumi, hemat saya, sama-sama konsep politik. Keduanya tidak layak lagi jadi konsep antropologi. Sebab, dalam antropologi, akan sulit sekali menjustifikasi keaslian dan ketidakaslian penduduk sebuah wilayah.

Peneliti Biologi Molekuler Lembaga Eijkman Herawati Sudoyo memublikasikan hasil risetnya terhadap DNA manusia yang menunjukkan hubungan genetis antarras di dunia (Tempo, 28 Januari 2017).

Dari penelelitian itu terungkap, manusia modern diperkirakan muncul sekitar 200 ribu tahun lalu di Afrika. Mereka kemudian bermigrasi ke berbagai daerah. Gelombang pertama bermigrasi ke selatan Asia, gelombang kedua ke utara (Eropa), dan selanjutnya ke Amerika.

Di berbagai tempat baru itu manusia modern mengembangkan peradaban masing-masing, beradaptasi dengan kondisi alam sekitar. Lahirlah keunikan-keunikan.

Migrasi demikian tidak terhenti, bahkan hingga saat ini. Orang-orang terus saja berpindah tempat, berakultarasi, membentuk peradaban baru lagi. Proses itu berjalan terus-menerus.

Orang Indonesia sendiri, dalam artikel itu, disebutkan adalah anak turun orang Taiwan. Hubungan kekerabatan genetis orang Indonesia lebih dekat dgn masyarakat Indocina dan Malagasi (Madagaskar) dibandingkan dgn orang Papua saat ini.

Tetapi seiring waktu, percampuran sudah berlangsung demikian sengkarut. Pernikahan lintas ras melahirkan anak hasil persilangan. Anak-anak hasil silang ini menghuni berbagai daerah, pulau, dan negara di dunia.

Kalau begitu, sebenarnya siapa pribumi itu? Bukankah manusia seperti kabut yang bergerak mengitari waktu?

Dalam ketidakpastian itulah, saya kira, jauh lebih penting untuk memahami mengapa sebutan “pribumi” diprodukai kembali? Mari ke empat pertanyaan awal.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM
Penulis bulu Politik Bahasa Penguasa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.