Yang Tersembunyi di Balik Bunyi

Orang-orang memproduksi bunyi bahasa untuk mengutarakan gagasannya. Para suami mengatakan “I love you” untuk mengungkapkan rasa cinta kepada istri, para kekasih saling merayu pada malam minggu, dan para Facebooker saling memaki sembari merasa benar sendiri.

Ketika bebicara, orang-orang bersikap optimis dengan meyakini bahwa bunyi bahasa yang diproduksinya  cukup layak mewakiliki gagasannya. Namun nyatanya, gagasan selalu lebih rumit dari kemungkinan bentuk gramatikal apa pun yang bisa dirangkai manusia. Akibatnya, selalu ada gagasan yang tercecer dan tertinggal.

Sepengamatan saya, kondisi ini kerap menimbulkan masalah serius dalam komunikasi. Ketidakmampuan bunyi bahasa untuk meringkus gagasan dengan paripurna kerap menimbulkan kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman adalah bahan baku konflik yang tiada habisnya.

Meski demikian, ketidaklayakan bunyi bahasa menggambarkan konsep ternyata ada manfaatnya. Kondisi itu justru bisa dimanfaatkan untuk mengungkap konsep-konsep yang tersembunyi di balik bunyi. Dengan keterampilan tertentu, kita bisa membaca maksud ujaran tetapi dari serpihan-serpihan gagasan yang tak terkatakan.

Ada tiga cara mengungkap hal-hal tersembunyi di balik bunyi.

Cara paling sederhana adalah dengan mengungkap pesan implisit, yakni pesan yang tidak secara vulgar disimbolkan dengan bunyi bahasa tertentu namun hadir dalam peristiwa bahasa itu. Kita lazim menyebut ini dengan sebutan maksud tersirat, sanepa, dan lain sebagainya.

Cara kedua, mengasumsikan ujaran sebagai sebagian dari gagasan yang utuh dan kompleks. Lantaran ujaran HANYA SEBAGIAN dari gagasan yang utuh ada bagian lain yang tidak terkatakan. Di depan, saya menyebut bagian itu sebagai bagian yang tercecer.

Untuk melakukan ini, kita bisa merangkai ujaran-ujaran yang dibunyikan menyerupai bantalan rel. “Bantalan rel” tersebut disusun berurutan dengan mengikuti tujuan tutur si penutur. Dari situ, akan tampak ada bagian-bagian yang tak terkatakan namun hadir sebagain bagian tak terpisahkan dari ujaran.

Cara ketiga, barangkali yang terekstrem, adalah menangkap pesan kebalikan dari yang terkatakan. Jika secara verbal seorang mengatakan “buku ini bagus”, sebenarnya dia sedang mengatakan “buku ini tidak bagus”.

Meskipun tampak ngawur, strategi ketiga ini tetap bisa digunakan – terutama – karena ujaran seseorang kerap menjadi mekanisme psikologis untuk merepresi pikiran tertentu. Seseorang mengatakan sesuatu karena menginginkan dirinya meyakini sesuatu tersebut. “Keinginan” ini muncul karena ia sendiri merasa sesuatu kondisi yang berbeda dengan kondisi yang diinginkannya.

Ujaran telah lama digunakan manusia sebagai strategi memenuhi hasratnya. Itulah yang menyebabkan seseorang lazimnya merasakan kepuasan ketika mengatakan sesuatu. Kepuasan muncul karena kondisi kekurangan mendadak terpenuhi.

Rahmat Petuguran​

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.