Tri Marhaeni, Jadi Cleaning Service untuk Teliti TKW

BEKERJA sebagai cleaning service di Kuala Lumpur tidak pernah Tri Marhaeni bayangkan. Apalagi, pemilik nama lengkap Tr Marhaeni Puji Astuti ini saat itu ia adalah penyandang gelar S2 Kajian Wanita dari Universitas Indonesia.

Tapi demi merampungkan penelitian doktoralnya  ia benar-benar melakukan hal itu.

Ya, perempuan kelahiran Grobogan itu sengaja menyamar untuk meneliti perempuan migran di sana. Bersama perempuan migran lain ia tidur di bedeng-bedeng murah yang disewa dengan harga 150 ringgit.

Padahal, berkat bantuan dari beberapa foundation ia sudah menyewa apartemen. “Apartemennya buat naruh barang-barang aja,” katanya.

Selama hampir tiga tahun Tri Marhaeni bolak-balik Indonesia Malaysia. Selain di Kuala Lumpur ia juga melakukan penelitian di Penang dan Johor. Untuk antisipasi, karena ia datang ke sana dengan visa kunjungan, Tri Marhaeni membuat dua paspor, merah dan dan. “Untuk jaga-jaga saja. Paspor hijau untuk minta bantuan ke Deplu kalau ada apa-apa,” lanjutnya.

Supaya penyamarannya lancar, Marhaeni beraktivitas layaknya perempuan migran lain. Selain tidur di bedeng, ia juga menerima gaji dari pekerjaannya . Menjadi cleaning service, ia pilih karena pekerjaan itu termasuk sektor informal yang terbuka. Jadi, sekalipun ia datang  sebagai pekerja ilegal, ada orang yang mempekerjakannya. Gajinya pun ia terima. “Saya terima harian,” katanya.

Penelitian Tri Marhaeni bukan tentang kekerasan terhadap TKW sebagaimana banyak diberitakan. Ia meneliti perubahan nilai dana gaya hidup perempuan migran di sana.

Menurutnya, para perempuan migran di sana menerima penghargaan semu dan nyaris kehilangan identitas. Identitas sebagai orang Indonesia mulai pudar karena hidup di Malaysia, sedangkan berlaku seperti orang Indonesia juga tidak bisa karena terlalu lama hidup di negeri jiran itu.

“Soal makan saja contohnya. Waktu mereka di desa dulu mereka makan telur kan sudah termasuk enak. Tapi di sana mereka menganggap telur makanan paling sederhana. Kita sedang tidak punya uang, makan telur dengan saja,” katanya.

Bahkan, lanjut Marhaeni, mereka mengajak ke Starbuck Cafe. “Padahal waktu di rumah, jangankan tahu Starbuck, kafe saja mereka tidak tahu,” lanjutnya.

Perubahan perilaku itu, secara sosiologis, ternyata menciptakan masalah baru. Masyarakat menerima para perempuan migran itu sebagai sosok yang berbeda dengan sebelumnya. Sehingga, di desa asal perempuan ini tidak lagi  dilibatkan dalam berbagai kegiatan warga. Seolah-olah, perempuan ini bukan bagian dari diri mereka lagi.

“Seperti orang yang berdiri di pintu. Mau masuk tidak bisa mau keluar juga tidak bisa,” katanya.

Fakta itu Marhaeni temukan di sebuah desa di Grobogan. Sebab, tidak sekadar mengikuti para pekerja migran saat di Malaysia, ia juga mengikuti ketika perempuan migran ini pulang ke desa. Itu ia lakukan berkali-kali. “Saya ikuti mereka sampai berkali-kali. Pulang balik-pulang balik,” katanya.

Tidak mau setengah hati, Tri Marhaeni memutuskan menginap di rumah perempuan migran. Bahkan, anaknya harus berpindah sekolah ke sana karena ia harus tinggal lama. “Saya ngontrak di sana.”

Persinggungan Marhaeni dengan kajian gender bukanlah kebetulan. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari enam bersaudara, Marhaeni tak luput dari stereotiping gender. Saat memilih perguruan tinggi misalnya, orang tua memplotnya menjadi guru atau perawat. Padahal sudara-saudara yang laki-laki bebas belajar di Universitas.

Perlakuan deskriminatif itu pula yang sempat ia terima selama melakukan penelitian di Malaysia. Sekalipun hanya verbal, di sana  ia pernah mengalami pelecehan. Saat itu ia sedang melepas identitasnya “palsu”nya sebagai pekerja, naik taksi menuju sebuah tempat.

Sang sopir mengira ia orang Filipina dan mengajak berbincang dalam bahasa Inggris tentang politik, ekonomi, dan persoalan lain. Ketika Marhaeni mengenalkan diri dari Indonesia, sang sopit kaget.

“Sontak dia menghentikan taksinya menengok ke belakang sambil ngomong ‘ada to orang Indon kayak kamu ?’,” tuturnya.

“Obrolannya langsung berbeda. Ketika dia tahu saya orang Indonesia dia langsung bicara gunakan bahasa Melayu, dia nawari saya kerja jadi rumah tangga, di tanya sudah menikah belum, seolah menganggap saya tidak punya kapasitas apa-apa.”

Perlakuan seperti itu, lanjut Marhaeni, juga diterima oleh kebanykan perempuan migran di sana.

“Ternyata pandangan orang Malaysia snagat merendahkan. Mereka menganggap semua perempuan Indonesia miskin, bodoh, tidak punya uang, dan cari kerja. Karena itu pandangan negatif itu selalu saya sandang juga,” katanya.

“Mereka menganggap sebagai Melayu ndoro. Kalau Melayu kelas kita sebagai Melayu kelas dua,” ungkap Tri Marhaeni, tampak geram.

1 Comment

  1. jazuli

    November 13, 2013 at 1:24 pm

    mantaapppp buuu….bisa memberi inspirasi..bagi peneliti yang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.