Thio Tiong Gie, Senjakala Wayang Potehi

“Tak ada kuda, sapi pun bisa ditunggangi.” Begitulah pepatah Tiongkok yang merepresentasikan filosofi berkesenian Thio Tiong Gie. la tak berkolot-kolot dengan pakem, demi
melestarikan wayang potehi.

Sebagai dalang, lelaki kelahiran 1933 yang bermukim di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah, itu cenderung terbuka. Di atas panggung, ia menggunakan pengantar bahasa Indonesia, menggantikan bahasa leluhurnya: Cina.

Tak cuma itu, Tiong Gie juga menghalalkan anasir budaya lain dalam pementasan wayang potehi. Sebagai pengiring pentas, ia kerap menggunakan tembang-tembang campursari.

Namun, ikhtiar Tiong Gie belum menemukan jalan. Wayang potehi tak kunjung beroleh perhatian. Di banyak tempat, pertunjukan kesenian tradisional Tionghoa cuma disaksikan segelintir orang.

“Kalau tanggapan sih masih iumayan banyak. Tidak cuma di Semarang, tapi juga di luar kota, seperti Tegal, Solo, Purwokerto, Mojokerto, Surabaya, dan Jakarta. Tapi ya itu, penontonnya ndak sebanyak dulu,” ungkapnya.

Lebih memprihatinkan, hampir tak ada anak muda di Semarang tertarik mempelajari wayang potehi. Sejauh ini Tiong Gie hanya punya seorang penerus, yakni Oei Tjiang Hwat.

Lelaki yang tak lagi bisa disebut muda itu merupakan asisten yang mendampingi Tiong Gie saat berpentas. Sedangkan pemain musik, harus didatangkan darl Surabaya.

“Susah nyari anak muda yang mau mempelajari wayang potehi di Semarang. Beda dengan di Surabaya. Di sana sebagian penerus dalang wayang potehi justru orang Jawa,” tuturnya.

Lelaki yang dikaruniai tujuh anak, 22 cucu, dan satu cicit itu mengaku, perjumpaannya dengan wayang potehi bukan ihwal yang disengaja. Saat berusia sembilan tahun, rumah orang tuanya di Demak dirampok. Jatuh miskin, ia sekeluarga hijrah ke Semarang.

Suatu hari Tiong Gie yang telah putus sekolah tertarik buku ceriia berbahasa Hokkian yang ia baca. Beberapa waktu kemudian, ia bertemu Oey Sing Tay, tukang cakap wayang potehi. Oey Sing Tay menyarankan Tiong Gie menjadi dalang.

Pada usia 25 tahun, ia nekat manggung untuk kali pertama di  Cianjur, Jawa Barat. Nekat, karena sebelumnya tak pernah latihan. Sukses manggung perdana, Tiong Gie melanjutkan ke pentas-pentas keliling di berbagai kota di Pulau Jawa.

Peristiwa 1965 membuat wayang potehi dan kesenian bernuansa Tionghoa lain tidak boleh dimainkan secara terbuka. Tiong Gie pun terpaksa menghentikan kegiatannya. Untuk hidup, suami mendiang Hoo Sian Nio itu membuka usaha bengkel las.

Reformasi 1998 membuka jalan kebebasan bagi Tiong Gie. Pada 1999, untuk kali pertama setelah tiga dasawarsa vakum, ia kembali mendalang di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Penghapusan Inpres No. 14 Tahun 1967 oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 2000, membuat Tiong Gie makin leluasa.

Namun, rupanya zaman telah berubah. Lepas dari belenggu rezim, wayang potehi tak berdaya menghadapi gempuran ragam kesenian modern. Menyerahkah Thio Tiong Gie? Tidak! Lelaki ramah itu tetap terus mendalang.

“Bilamana diberiken umur sampai 100 tahun, saya akan lanjutkan mendalang wayang potehi. Sebab, selain memberiken hiburan, di dalemnya juga terkandung ajaran-ajaran kebajikan yang bermanfaat buat kehidupan manusia,” ujarnya.

Sumber:
Buku Remeh-remeh Kisah Semarang (2012) karya Rukardi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.