Tentang IPK dan Kerancuan Kita Memahami Tanda

Manusia barangkali makhluk yang paling suka bermain tanda. Demikian banyak tanda yang dibuat dan digunakan manusia sampai-sampai Charles S Pierce harus repot-repot membaginya menjadi tiga kategori: ikon, indeks, dan simbol.

Meski jenisnya banyak, fungsi dasar tanda saya kira tetap:, yaitu menghubungan sebuah objek dengan objek lain. Relasi antara tanda dengan penandanya itulah yang membedakan ikon, indeks, dan simbol.

Gambar jempol yang tertera di bawah status Facebook, saya kira, adalah ikon. Ikon biasanya merupakan duplikasi objek dalam bentuk visual yang disarikan dari karakter terkuat objek yang diwakilinya.

Asap adalah indeks bagi api karena “Tak ada asap kalau tak ada api”. Indeks memiliki hubungan sebab-akibat dengan objek yang diwakilinya.

Adapun simbol adalah bentuk yang disepakati oleh komunitas tertentu sebagai wakil. Bentuknya bisa sama sekali tidak berkaitan dengan objek yang hendak diwakili, asal sudah ada konvensi antarpenggunanya.

Apakah INDEKS prestasi komulatif (IPK) mahasiswa bekerja benar-benar seperti indeks sebagaimana namanya?

Pertanyaan ini mendadak merasa perlu saya cari jawabannya karena mendapati ada banyak mahasiswa yang menunjukkan gejala bahwa mereka lebih bersemangat memperoleh IPK daripada menguasai pengetahuan yang dipelajari bersama dosennya di kelas.

Gejala ini akan mudah dirasakan ketika ada yudisium. Mahasiswa bergepat menghubungi dosen supaya nilai K-nya bisa segera diganti. Mahasiswa yang nilainya E dan D karena plagiasi juga bergerak cepat: membela diri. Gerak cepat adalah tanda bahwa seseorang menganggap sesuatu mendesak atau penting baginya.

Gerak cepat seperti mungkin tidak bisa didapati ketika perkuliahan berlangsung. Saat mahasiswa kebingungan dengan konsep yang sedang dipelajari, mereka justru menahan diri untuk diam. Barangkali mahasiswa merasa tidak apa-apa tidak menguasai konsep-konsep dalam perkuliahan, bahkan ketika dosen sudah memantik “Ada pertanyaan?”

Tentu saja ada mahasiswa yang menunjukkan antusiasme ketika belajar, meminta pertemuan tambahan, berkomuniasi melalui media sosial tentang materi kuliah, juga membaca referensi tambahan yang bahkan tidak dibaca dosennya. Tetapi saya ragu, jumlah mahasiswa ini sama dengan mahasiswa yang bergerak cepat memperjuangkan hak skornya saat yudisium.

IPK adalah adalah tanda. Tetapi, jika kita rujuk tesis CS Pierce, apakah bekerja sebagai ikon, simbol, atau benar-benar sebagai indeks sebagaimana namanya.

Ada asumsi kolektif bahwa “mahasiswa yang memperoleh IKP tinggi adalah mahasiswa yang pintar”. Kehadiran IPK dalam bentuk angka bersakala 0 sampai 4 dihubungan dengan kemampuan intelektual seseorang.

Bagaimana bisa kehadiran angka bisa digunakan untuk menandai kemampuan intelektual seseorang? Apakah fungsi IPK sama dengan angka di layar ATM yang secara mutlak mewakili jumlah uang yang dimiliki seseorang?

Pada dua hubungan itu, yang mewakili dan diwakili tindak memiliki kemiripan bentuk sama sekali. Angka dalam kartu hasil studi mahasiswa tetaplah angka, sama dengan angka yang dugunakan penjual baju untuk melabeli kemeja yang dijualnya. Oleh karena itu, IPK tidak berfungsi sebagai ikon.

Apakah IPK berungsi sebagai indeks – sebagaimana saya tanyakan di depan? Salah satu karakter terkuat indeks adalah adanya hubungan sebab-akibat yang bersifat alamiah antara yang mewakili dengan yang diwakili. Contoh yang selalu muncul di kelas-kelas semiotika adalah: ada asap karena ada api, ada jejak kaki, maka ada orang lewat, ada tungku api maka ada orang yang tinggal di sebuah tempat.

Hubungan IPK dengan kemampuan intelektual mahasiswa bukanlah hubungan yang alamiah, oleh karena itu, IPK bukanlah indeks. Cara kerja IPK justru lebih menyerupai simbol, terutama karena ia berfungsi berkat adanya kesepkatan.

Ketika berkendara dan kita mendapati jarum di dashboard menunjukk huruf E, sebaiknya kita mencari SPBU dan mengisi bahan bakar. Jarum yang menunjuk huruf E adalah simbol bahwa bahan bakar nyaris atau bahkan sudah habis. Simbol itu berfungsi karena pengendara telah membaca manual book kendaraan atau diajari oleh pengguna kendaraan lain yang ia percaya. Dengan cara seperti itulah kesepakatan dilakukan.

Bagaimana jika ada pengendara yang ketika mendapati jarum bahan bakar menunjuk E justru membuka kaca dashboard dan mengangkat jarum dengan tangan, mengikatnya ke atas supaya tetap menunjuk huruf F? Apakah kendaraannya bisa tetap berjalan?

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM, mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.