Tentang Film The Social Dilemma: Dari Algoritma Hormonal ke Algoritma Komputasional

Senior saya yang baik hati, Prof Tandiyo Rahayu (juga kawan baik saya Dhoni Zustiyantoro), merekomendasikan film The Social Dillema. Hari itu juga saya langsung nonton film semidokumenter produksi Netflix itu.

Film ini menarasikan perubahan perilaku manusia akibat internet, wabilkhusus media sosial.

Internet mengubah cara kita berpikir, pernyataan yang beberapa tahun lalu sudah dikemukakan Nicholas Carr lewat buku The Shallows.

Media sosial telah membuat dampak yang jauh lebih besar. Di luar manfaatnya, teknologi ini telah menciptakan ancaman serius. Mulai dari ancaman psikologis: kecanduan, ancaman sosial: kerenggangan sosial, ancaman privasi, hingga ancaman keamanan nasional.

Di antara semua jenis ancaman itu, ancaman terbesar adalah perampasan kehendak.

Manusia, spesies yang merasa istimewa karena memiliki rasa dan karsa khusus, ternyata menunjukkan perilaku layaknya mesin: tak punya kehendak. Tindakannya ternyata bisa dikendalikan melalui algoritma yang demikian mekanis.

Titik paling ekstrem dari ancaman ini adalah ketika manusia tidak lagi menjadi manusia, cuma boneka yang perilakunya dikendalikan sepenuhnya oleh subjek superpower melalui rumus-rumus algoritma.

Perilaku manusia yang algoritmis sebenarnya bukan hal baru. Dalam Homo Deus, sejarawa Ibrani University Yuval Noah Harari menunjukkan bahwa setelan perilaku manusia memang algoritmis.

Pola dasar algoritma manusia dari dulu sama: jika demikian maka demikian.

Contohnya: saat manusia lapar maka akan mencari makanan. Jika manusia terancam maka akan membela diri. Jika pengin kawin maka cari pasangan.

Rumusan algoritmis ini bekerja melalui serangkaian proses biologis dalam tubuh.

Misalnya, ketika orang membutuhkan seks, tubuh merespon dengan memunculkan feromon(?). Hormon inilah yang menstimulasi berbagai tindakan.

Ketika seorang perempuan hamil dan kemudian melahirkan, tubuh menghasilan oksitosin (?) yang membuatnya demikian empatik dan penuh kasih.

Rumus “jika demikian maka demikian” merupakan rumus dasar yang – menurut Harari – jadi pola perilaku manusia sejak purba.

Di tahap ini, meski bekerja dengan pola algoritmis, manusia relatif independen terhadap dirinya. Sebab, seluruh algoritma itu bekerja dalam tubuh manusia. Tidak ada campur tangan manusia lain.

Algoritma itu kemudian juga bekerja secara sosial. Hubungan antarindividu ternyata bekerja dengan pola “jika-maka” yang serupa.

Misalnya, ketika dipuji maka orang akan bahagia. Jika dihina maka akan marah. Jika ditindas maka akan melawan. Demikian seterusnya.

Pola algoritma sosial ini kemudian melahirkan berbagai “teknologi politik”. Dengan teknologi politik itu orang bisa mengendalikan tindakan orang dan bahkan massa dengan stimulus tertentu yang tepat.

Misalnya, jika saya sebar video pencitraan maka saya akan viral. Jika saya viral maka akan populer. Jika saya populer maka keterpilihan saya naik. Itulah teknologi politik.

Kini, pola-pola algoritma itu disaripatikan dalam teknologi raksasa yang jangkauan, kapasitas, intensitas, dan akurasinya mencengangkan.

Itulah teknologi media sosial yang dimiliki perusahaan-perusahaan global yang berbasis di Sillicon Valley.

Perusahaan-perusahaan pengembang itu memiliki data penting tentang siapa kita, apa obsesi kita, apa khawatirkan kita, apa yang menarik bagi kita, dan sebagainya.

Dengan data gigantik itu mereka mengenali kita melampui orang tua, saudara, pasangan, bahkan kita sendiri.

Pengetahuan itu jadi alat yang bukan saja dapat memprediksi apa yang kita lakukan, tapi melampui itu: mengendalikan apa yang harus kita lakukan.

Karena itulah, hari ini tindakan-tindakan yang kita lakukan bukanlah tindakan yang kita kehendaki untuk kita lakukan. Tindakan kita adalah apa yang orang lain kehendaki untuk kita lakukan.

Kita membicarakan topik A karena ada orang yang sengaja memantiknya. Topik yang amat jauh, asing, dan sama sekali tidak penting mendadak begitu dekat dan relevan sehingga kita merasa terlibat membicarakannya.

Contoh mutakhir tentu saja berita tentang Moeldoko dan seledri.
Hanya dengan permainan kecil algoritma, kita mendadak melihatnya, membicarakannya, memperhatikannya.

Itu bukan karena kehendak organik kita, tapi karena ada beberapa orang iseng yang memanfaatkan aksesnya mengendalikan tindakan kita melalui media sosial.

Situasi ini membuat kita berada di ambang revolusi kemanusiaan. Revolusi yang memaksa kita mempertanyakan siapa manusia dan apa itu kemanusiaan. Benarkan kita (masih) manusia? Apakah kemanusiaan kita hari ini adalah kemanusiaan?

Rahmat Petuguran

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.