Surat Cinta Mahasiswa kepada Rekan Demonstrasinya yang Wisuda

JUJUR saja membuat surat cinta untuk kawan laki-laki sungguh menggelikan, apalagi membuat surat cinta untuk perempuanpun belum pernah saya lakukan, tetapi tak apa karena kita adalah kawan, sahabat dan saudara yang tentu saling menyayangi dan mencintai bukan karena pasangan hidup tetapi karena tali silaturahmi yang lebih luas dari hanya persoalan sayang dan cinta.

Pertama-tama saya ucapkan “Selamat dan sukses kawanku Arif Muamar Wahid yang hari ini menjalani proses wisuda”, berkawanan denganmu sungguh sangat berarti bagiku. Semoga lekas berkontribusi di masyarakat. Aku paham dan mengerti kau adalah sosok yang luar biasa, mempunyai leadership dan publik speaking yang mumpuni dan tampilan yang tak berbeda jauh dengan Vidi Aldiano membuat karirmu kedepan pasti akan cemerlang, saya berharap kau akan menjadi bupati Purbalingga yang konsisten menolak pendirian pabrik semen.

Kita masuk Unnes bersama, di hari dan tahun yang sama, di fakultas yang sama namun jurusan berbeda, mungkin Tuhan mengizinkanmu meninggalkan Unnes terlebih dahulu karena kau lebih siap untuk terjun kedunia yang nyata, dunia masyarakat.

Arif Muamar Wahid adalah orang yang pertama kali aku kenal di Unnes karena saat antre verifikasi mahasiswa baru Unnes 2011 dia ada disebelahku dan kemudian kita berkenalan, ternyata dia berasal dari Purbalingga, kawan satu tanah kelahiran dan perjuangan dari bumi ngapak. Dia juga masuk di jurusan Matematika dan saya Fisika sehingga gedung kuliahpun bersebelahan. Kita sama-sama dilahirkan di rahim pergerakan FMIPA namun karir beliau lebih mulus, dia masuk BEM FMIPA dan aku gagal masuk HIMA dan BEM.

Arif Mumar Wahid adalah sosok yang menonjol di angkatanya 2011, dia adalah peserta terbaik PPA FMIPA 2011, PKMMTD FMIPA 2011 dan PKMMTM 2014. Setelah itu dia berproses mencapai titik tertingginya sebagai seorang mahasiswa yang menuntaskan tanggung jawab akademik dan tidak lupa juga menyelesaikan tanggung jawab sosialnya sebagai seorang mahasiswa. Kita mungkin sudah puluhan kali ikut aksi demonstrasi bersama entah itu di Unnes, Gubernuran Jawa Tengah ataupun Istana Negara Jakarta.

Tentu ada beberapa moment yang tidak akan pernah kita lupakan terutama saat diberi ongkos pulang ketika aksi di Istana oleh seseorang yang jumlah uangnya fantastis untuk kita sebagai wujud harapan mereka kepada mahasiswa sebagai kelas sosial yang menyuarakan rakyat kecil setelah shalat Jumat di masjid kementrian kehutanan pada april 2012 lalu saat menolak kenaikan harga BBM era pemerintahan SBY dan pada saat 2015 kita juga bersama melakukan kritik terhadap kebijakan konservasi yang akhirnya kita sama-sama menghadap pimpinan Universitas dan diberi sanksi untuk membuat makalah, sebuah cerita yang tak mungkin bisa kita lupakan.

Kita sering bercerita tentang kampus, Jawa Tengah dan Indonesia kawan, tak lupa juga bercerita tentang perempuan cantik dan menarik dari jurusan ataupun fakultas sebelah. Banyak moment kita lalui dan habiskan untuk bersenda gurau dan berbahagia bersama, tentu ada satu moment ketika aku melihat kawanku ini berada di titik terendahnya, ia sedih dan menitikan air mata ketika pencalonanya menjadi gubernur bem fmipa 2014 kandas, saat itu aku melihat sosok laki-laki yang ketika berada di jalan saat aksi bersuara lantang namun sekarang sedih dan tak bisa berkata apa-apa.

Aku paham bukan karena gagal menjadi gubernur bem fmipa Unnes 2014 kau sedih, tetapi melihat teman-temanmu berjuang bersamamu menangis karena berharap banyak padamu untuk melakukan perubahan di FMIPA membuatmu tak kuasa menahan rasa sedihmu, “kau tak ingin mereka bersedih juga kan?”.

Namun setelah itu kau bergerak dan terus bergerak bahkan mempunyai visi yang jauh lebih besar yakni menjadi seorang presiden mahasiswa. Namun Tuhan berkehendak lain, kau ditakdirkan untuk menjadi wakil presiden mahasiswa tapi itu semua hanya simbol dan jabatan. Seorang pemimpin apapun jabatanya dialah yang tetap akan memberikan pengaruh oleh orang di sekitarnya.

Aku diajak olehmu untuk bersama-sama melakukan perubahan dan aku bersedia karena melihat visimu untuk menggorakan perubahan di kampus kita tercinta. Banyak yang telah kita lakukan dan kerjakan, rasa-rasanya aku tak bisa menuliskanya semua.

Sekarang kau telah lebih dahulu lulus, kejar impianmu dan kejar visimu. Hidup tidak hanya sekedar kuliah-ip 4-wisuda-nikah-punya anak-masa tua-mati, hidup yang sebenar-benarnya hidup adalah yang bermanfaat untuk orang lain dan hidup bagi seorang aktivis sepertimu harus banyak yang diperjuangkan terutama mereka kaum papa di sudut kota atau rakyat miskin di pelosok desa. Mungkin tak semuanya bisa aku tulis namun dalam hidupku aku tidak mungkin melupakanmu, akan kuceritakan pada kawan-kawanku atau anaku kelak bahwa dahulu aku punya kawan, sahabat dan saudara perjuangan bernama Arif Muamar Wahid.

Salam takdzim untukmu bro Arif Mu’amar Wahid

Hanendya Disha Randy Raharja, kawan yang setia menemanimu dalam berjuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.