Bagaimana Otak Pembohong Bekerja?

pembohong

Sejarah mencatat sejumlah kebohongan paling besar. Kebohongan digunakan orang untuk memuluskan tujuan politiknya. Tapi ada juga yang menggunakan kebohongan sebagai seni berkomunikasi.

Salah satu kisah kebohongan paling saya sukai adalah kebohongan yang dilakukan Frank Abagnale. Anak muda itu memiliki “bakat” mengelabui orang lain dengan cara yang hampir sempurna. Saya tidak tahu seberapa bagus isi kepalanya. Tetapi kebohongan demi kebohongan yang dipraktikannya menandakan dia pribadi yang luar biasa cerdas.

Kita bisa saksikan kisah memikat tentang Abignale dalam film Cath Me if You Can. Sebagaimana film-film lain yang digarap Stevel Spielberg, film itu benar-benar memukau.

Kebohongan besar lain bisa disaksikan dalam skandal Watergate di Amerika. Tersangka utama skandal ini adalah Presiden Amerika, Richard Nixon. Awalnya dia menolak keterlibatannya dalam kasus itu. Tapi setelah investigasi menunjukkan hal sebaliknya, Nixon terpaksa mengaku. Kebohongan itu dibayar dengan harga sangat mahal: Nixon lengser.

Salah satu edisi National Geographic berjudul Ada Dusta di Antara Kita. Melalui laporna itu majalah sains popular itu menyuguhkan aneka data yang menunjukkan bagaimana otak bekerja dalam menciptakan kebohongan.

Masyarakat lazimnya memandang kebohongan sebagai pelanggaran moral. Namun sejumlah psikolog memandang secara lebih positif sebagai pertanda perkembangan intelektual, terutama pada anak-anak.

Ketika anak belajar tentang lingkungannya, ia tahu bahwa tidak steiap hal harus dikatakan secara terus terang dan apa adanya. Ada beberapa informasi yang perlu dipiliah mana yang perlu disampaikan dan mana yang sebaiknya disembunyikan. Anak-anak juga belajar bahwa ada berbagai kemungkinan cara untuk mengatakan sesuatu sehingga tidak harus dilakukan secara vulgar.

Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang berbohong setiap hari. Setiap hari?  Ini jumlah yang amat banyak jika menyangkut urusan-urusan besar. Tapi sebagian besar dari angka itu berkaitan dengan hal-hal kecil, misalnya, sekadar membuat orang lain terkesan, memuji agar orang lain merasa nyaman, dan membela diri, dan menghindari konflik.

Saat Anda bilang “on the way” kepada pacar sementara Anda masih kebingungan cari kunci mobil, itu jenis kebohongan kecil yang relatif diterima dalam masyarakat. Jenis kebohongan seperti inilah yang melimpah dan produktif dalam percakapan sehari-hari.

Dalam percakapan, Anda mungkin juga kerap memuji lawan bicara bahwa dia memiliki baju yang membuatnya tampak lebih cantik. Padahal Anda sendiri tidak merasakan bahwa kemeja yang dipakai teman Anda cocok dengan warna kulitnya. Itu juga kebohongan.

Seorang pelayan di retoran pizza yang mengatakan “Pilihan kakak tepat sekali” saya kira juga jenis kebohongan. Ucapan itu diucapkan kepada pelanggan, apa pun yang pelanggan pilih. Itu kebohongan yang digunakan untuk membuat pelanggan nyaman dan merasa dihargai seleranya.

Saat orang menulis artikel berjudul “Bagaimana otak pembohong bekerja?” tetapi tidak mencantumkan penjelasan neurologi secara memadai,  itu juga jenis kebohongan lainnya.

Karena itulah, angka bahwa rata-rata orang berbohong 1,65 kali dalam sehari bukanlah angka yang terlalu mengejutkan. Kalau mau jujur (terhadap diri sendiri), angka itu bahkan terlalu kecil bukan?

Masyarakat kita tidak benar-benar menolak kebohongan. Ada berbagai jenis kebohongan yang diterima secara budaya sehingga diajarkan sebagai bagian dari tradisi dan seni berkomunikasi.

Anda tentu masih ingat majas litotes yang dipelajari saat duduk di SMP atau SMA. Majas itu sebenarnya bentuk kebohongan juga, karena digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara tidak akurat dengan sengaja. Tapi kebohongan itu diterima sebagai bagian dari keterampilan berkomunikasi.

Majas lain yang kerap kita gunakana dalah hiperbola. Majas ini tak cuma digunakan pada karya sastra, tapi juga dalam percakapan sehari-hari. Itu juga jenis kebohongan yang diterima.

Tentu saja, alasan bahwa kebohongan adalah bagian dari seni berkomunikasi bukan pembelaan untuk menyatakan bahwa kebohongan adalah hal yang wajar dan boleh dilakukan.

Kebohongan yang disengaja untuk mengambil keuntungan dari orang lain secara tidak sah adalah jenis kebohongan yang tak bisa diterima. Kebohongan inilah yang mungkin Anda benci.

 

Rahmat Petuguran
Pria jujur

Sumber gambar: inc-asean.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.