Rob Bandarharjo, Antara Realitas dan Solusi

Terik matahari terasa menyengat saat rombongan kami melakukan perjalanan menuju Bandarharjo, Semarang. Perjalanan yang kami lakukan agak terhambat ketika memasuki jalan arteri karena adanya perbaikan jalan yang menyebebkan jalanan penuh dengan debu serta bebatuan yang dapat membahayakan penggunanya. Saat tiba di tujuan utama yaitu di Bandarharjo, pemandangan pertama yang terlihat adalah rapatnya pemukiman warga. Terlihat beberapa warga sedang melakukan beraktifitas seperti biasanya, beberapa tampak bercanda satu sama lain.

Desa Bandarharjo merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Semarang Utara, Semarang. Desa Bandarharjo adalah salah satu desa yang memiliki permasalahan dengan adanya banjir rob dalam kesehariannya. Saat pertama kali memasuki desa Bandarharjo Rt 03/01 baru beberapa meter memasuki pemukiman sudah terlihat adanya genangan air di sebelah bangunan rumah warga yang telah bercampur dengan sampah rumah tangga.

Semakin masuk ke dalam perkampungan, genangan air akan semakin sering dijumpai, bahkan kondisi tersebut semakin diperparah dengan bercampurnya genangan tersebut dengan sampah serta limbah rumah tangga. Angin yang berhembus sesekali bercampur dengan bau menyengat dari genangan tersebut. Di satu sudut terlihat adanya sekitar tujuh rumah yang berada di tengah genangan air. Pandangan mata teralihkan oleh terdengarnya suara gemercik air yang bersumber dari adanya salah seorang warga yang melewati genangan menuju sebuah rumah yang berada di tengah genangan air tersebut. Rumah-rumpah yang tampak kumuh tersebut terletak di tengah-tengah genangan air keruh, terlihat banyaknya sampah rumah tangga yang larut di dalam air tersebut serta sesekali terlihat adanya ikan-ikan kecil berenang. Rumah-rumah tersebut masih dihuni oleh beberapa warga. Ahmad tohir (50) salah seorang pemilik rumah tersebut mengatakan jika rumah-rumah yang sebenarnya sudah tidak layak  tersebut sampai sekarang masih ditinggali. Karena keterbatasan lahan serta biaya menjadi penyebab utama rumah –rumah tersebut masih digunakan sampai sekarang, meskipun berada di tengah genangan yang mulai terendam sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu.

“pernah jam 3 dini hari terjadi banjir, ya warga tidak bisa apa-apa karena masih tidur, tau-tau sudah setinggi hampir setinggi tempat tidur” ungkap tohir. Untuk mengatasi banjir yang kemungkinan terjadi, yang biasa dilakukan oleh warga adalah meninggikan barang-barang berharga seperti barang elektronik di atas meja atau di lantai atas rumah mereka, selain itu kerugian yang dirasakan oleh warga di desa tersebut yaitu umur bangunan yang tidak dapat bertahan lama. Ia juga mengungkapkan jika banjir yang terjadi bukan hanya saat nusim hujan saja, akan tetapi musim kemaraupun air rob juga meluap.

Ia menyatakan bahwa sebenarnya terdapat pintu air di sekitar desa tersebut, akan tetapi tidak dapat mengatasi banjir rob yang terjadi. Saat ini upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah peninggian jalan serta pembangunan gorong-gorong yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan. Tohir berharap jika pemerintah dapat mengatasi permasalahan yang terjadi tersebut segera, ia berharap pemerintah dapat membangun sabuk pantai yang ia rasa akan lebih efektif untuk mengatasi banjir rob yang terjadi di desa tersebut.

Warga sekitar di desa Bandarharjo juga menyatakan hal serupa. Selain masalah penanganan air pasang yang mengakibatkan banjir rob belum dapat diatasi, permasalahan lain yang terjadi juga karena adanya penurunan tanah di daerah tersebut. Bahkan dalam kurun waktu setahun, di desa tersebut dapat terjadi banjir bandang 3 hingga 4 kali. Itu tidak termasuk banjir rob yang setiap harinya mereka alami yang memiliki ketinggian air sekitar 5 cm. Menurut mereka, ada sekitar 100 KK yang tinggal di daerah tersebut, namun hingga saat ini tidak ada upaya dari pemerintah untuk merelokasi Warga. Jika terjadi banjir warga mengeluhkan bahwa pejabat sekitar hanya memberikan bantuan berupa nasi bungkus maupun mi instan, tidak adanya penyediaan tempat pengungsian dari pemerintah.

Entah karena sudah terbiasa akan datangnya banjir atau karena ketidak berdayaan warga akan peristiwa banjir rob yang terjadi, beberapa dari mereka mengungkapkan jika meskipun daerah tersebut sering terjadi banjir, mereka akan tetap bertahan di desa tersebut dan tidak akan meninggalkan tempat tinggalnya. Bahkan anak-anak yang tinggal di Bandarharjo sudah terbiasa akan adanya banjir yang sering terjadi, menurut salah seorang warga jika terjadi banjir anak-anak di desa tersebut tetap bermain seperti biasa tanpa merasa terganggu oleh adanya banjir.

Di sebelah desa Bandarharjo terdapat pelabuhan yang cukup dekat dengan pemukiman warga. terlihat dinding pembatas yang memiliki ketinggian sekitar 50 cm dari jalan untuk menghalangi masuknya air laut saat pasang. Namun terlihat jika dinding tersebut tidak benar-benar dapat menghalangi adanya air pasang yang ada, hal tersebut terlihat dari banyaknya genangan air yang terdapat di jalan sebelah pelabuhan tersebut. Di sebrang jalan banyak terdapat warung-warung kecil yang menjajakan makanan ataupun minuman, salah satunya adalah warung milik ibu Iswati (50). Ia adalah warga Bandarharjo yang tadinya tinggal di Rt 03 yang memutuskan pindah dan berjualan di pelabuhan karena rumahnya sudah tergenang air rob. ia mengungkapkan jika saat sore hari nanti sekitar jam 4 atau jam 5 sore, air pasang akan mulai membeludak ke jalan bahkan bisa sampai ke perkampungan di Bandarharjo. Hal tersebut membuktikan jika dinding pembatas yang ada di pelabuhan tidak dapat menghalangi luapan air pasang yang ada.

Di sekitar desa Bandarharjo, terdapat kantor BMKG tepatnya terletak di sebelah pelabuhan. “kantor kami sebelumnya berada di dalam pelabuhan, tetapi karena sering terjadi banjir, akhinya kita pindah ke sini” ungkap Eru Cahyo yang menjabat sebagai Prakirawan. Dalam wawancara Eru Cahyo mengungkapkan jika dirinya bertugas menganalisa data di kantor BMKG. ia mengatakan bahwa BMKG hanya membantu dan menyebarkan informasi dari PUSHIDROSEL (Pusat Hidroosonografi TNI AL), informasi berasal dari mereka yang selanjutnya disampaikan ke BMKG untuk menyebarluaskan ke warga. selain bertugas menyebarkan informasi dari PUSHIDROSEL, BMKG juga melakukan pengamatan pasang surut air laut yang kemudian data yang didapat disimpan sebagai perbandingan untuk prakiraan yang dibuat oleh PUSHIDROSEL. Untuk perkiraan banjir rob yang terjadi di daerah tersebut, dilakukan oleh BMKG berdasarkan prakiraan dari PUSHIDROSEL maupun BMKG sendiri, jadi BMKG memperkirakan datangnya banjir rob selama sebulan, mulai dari jam berapa akan terjadi, maksimum terjadinya hingga terjadinya penyurutan air pada jam berapa. Penyebaran informasi yang dilakukan oleh BMKG dilakukan melalui internet, RRI, display yang berada di pelabuhan maupun di grub WA agar memudahkan warga untuk mengakses informasi yang ada.

Menurut cahyo, banjir rob yang sering terjadi di daerah tersebut dikarenakan adanya air pasang serta penurunan tanah yang terjadi di Bandarharjo sekitar 13 cm setiap tahunnya. Penurunan tanah yang terjadi merupakan akibat dari pengambilan air tanah yan dilakukan oleh warga maupun perusahaan. Ia juga menyatakan jika upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi adanya banjir yang terus terjadi adalah dengan adanya sabuk laut. Sabuk laut yang lebih baik menggunakan tanaman mangroof karena selain mencegah erosi yang terjadi juga sebagai penghalang air yang lebih efektif dibandingkan dengan sabuk laut yang terbuat dari pengecoran.

Saat ini upaya yang dilakukan oleh pemerintah hanya dengan meninggikan jalan yang ada, sedangkan pemukiman yang ada di daerah tersebut tidak terjadi perubahan, sehingga banyak rumah yang terendam. Jadi solusi yang dilakukan pemerintah dirasa kurang memberikan solusi bagi daerah tersebut, perlu adanya penanganan lebih seperti salah satunya yaitu pembangunan sabuk laut.

Haifa Auwalia Nisa
mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.