Revitalisasi Pecinan Semarang

Ahmad Fahmi Mubarok, peminat studi Psikologi Lingkungan dan Perubahan Sosial, mendalami bidang Psikologi di Universitas Negeri Semarang.

MEMASUKI tahun 2011, juga berarti sekitar 42 tahun semenjak pemindahan alun-alun kota Semarang dari lokasi Pasar Johar yang sekarang ke ”alun-alun” Simpang Lima. Secara historis, alun-alun memang disetting untuk menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam sebuah kota. Terlihat dari penataan di beberapa kota (seperti Jepara, Kudus, Demak, dan Kebumen) alun-alun di kota tersebut dikelilingi oleh pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat kegiatan keagamaan, dan pusat keamanan.

Fungsi alun-alun disini bukanlah pusat yang sebenarnya, melainkan sebagai simbol kultural. Karena di sekeliling bidang tanah berumput itu, terdapat Pendopo Kabupaten sebagai representasi pemerintahan, pasar sebagai representasi kegiatan ekonomi, tempat ibadah sebagai representasi kegiatan religi, dan rumah tahanan sebagai representasi pusat keamanan adalah bidang-bidang yang menggerakkan aktivitas sebuah kota.

Lepas dari dugaan adanya lokalisasi etnis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan, secara umum di sekitar pasar adalah komplek pemukiman pecinan, dan di sekitar masjid adalah kompek Pekojan (tempat pemukiman warga keturunan Arab). Sehingga alun-alun benar-benar diandaikan sebagai tempat dimana semua elemen masyarakat bisa berkumpul, berkomunikasi, dan berinteraksi satu sama lain. Alun-alun memang disediakan sebagai tempat yang paling memungkinkan terjalinnya komunikasi antar semua elemen masyarakat dari berbagai kalangan mata pencaharian dan etnisitas.

Berkaitan dengan pemindahan alun-alun Kota Semarang, konsekuensi logis dari pemindahan tersebut adalah tempat yang dulunya menjadi pusat kota kemudian tidak lagi menjadi pusat kota. Dalam hal ini Pasar Johar beserta komplek Pecinan dan Masjid Kauman beserta komplek Pekojan Semarang, yang dulunya mengelilingi alun-alun kota Semarang, sekarang ini tidak lagi menjadi pusat interaksi masyarakat.

Ekses-ekses yang timbul akibat pemindahan ”pusat” ini, kawasan tersebut tidak lagi menjadi ramai—setidaknya tidak seramai dulu, sehingga muncul wacana untuk me-revitalisasi kawasan tersebut (khususnya kawasan pecinan, yang ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu). Secara sederhana, revitalisasi berarti membuat vital kembali. Dengan lebih panjang, mengutip Bernadus Himawan, revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah hidup/vital akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi, agar terkondisi menjadi lingkup kehidupan yang produktif dan memberikan kontribusi positif pada kehidupan sosial-budaya, terutama kehidupan ekonomi kota. Upaya revitalisasi bisa dilakukan dalam skala mikro (pada sebuah jalan, bangunan) ataupun pada skala makro (mencakup kawasan yang lebih luas). Dalam upaya revitalisasi ini, tersembunyi sebuah romantisme masa lalu.

Kata ”re-” berarti ada usaha mengembalikan kembali pada keadaan masa lampau, bahwa kawasan pecinan dahulu merupakan kawasan ramai, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Dari studi mengenai kemanusiaan, memang terdapat kesan adanya post power syndrome dalam gagasan revitalisasi.    Tetapi ternyata arus budaya masyarakat pun telah berubah. Pada sistem masyarakat (sebut saja) tradisional, pasar adalah pusat perbelanjaan. Sedangkan arus budaya modern dengan sisi kreativitas manusia sebagai motor penggerak utama, telah membawa arus budaya menyediakan tempat-tempat dimana masyarakat bisa memilih tempat-tempat yang dianggap cocok bagi dirinya, sehingga membuat minat masyarakat menjadi tersegmentasi sedemikian rupa.

Hal ini terjadi tidak lepas dari lebih terbukanya arus informasi melalui teknologi. Melalui internet, film-film, televisi, dan berbagai majalah, masyarakat menemukan idola-idola baru mereka. Dan Mall menyediakan barang-barang yang diproduksi oleh sekian banyak brand terkenal, dan tentu saja up to date, yang memberikan masyarakat mengidentifikasi dirinya dengan idola-idola mereka. Hal-hal tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa minat masyarakat tersegmentasi, selain tampilan dan tata ruang yang lebih bersih dan lebih teratur dibanding pasar tradisional. Mall menjadi tempat tujuan untuk hang out yang berkesan “berkelas” dan “muda”, sedangkan pasar ditinggali kesan “jadul” dan “tradisional”.

Keadaan ini kemudian membuat persoalan sedikit bertambah rumit. Sebab di satu sisi, manusia mempunyai kerinduan pada masa-masa lalunya, sementara di sisi lain juga tidak ingin meninggalkan posisi sekarang untuk kembali sepenuhnya pada kondisi lampau. Sesuai dengan pendapat Walter Benjamin yang melihat kemajuan sebagai malaikat yang terbang ke depan sembari kepalanya menoleh ke belakang, melihat bangunan yang runtuh ke arahnya. Pandangan ini bukan takut kepada kemajuan, namun lebih kepada adanya sebuah kerinduan akan masa lalu yang selalu terpendam dalam alam bawah sadar, namun juga tidak rela untuk kembali sepenuhnya pada masa tersebut dan meninggalkan capaian-capaian pada masa sekarang.

Jalan tengahnya adalah, kondisi masa lalu harus tetap dipelihara agar sesekali bisa didatangi untuk mengobati kerinduan. Sehingga revitalisasi pecinan Semarang, sesuai dengan kecenderungan manusia secara kultural dan individual, mestinya dilakukan berdasarkan semangat tersebut agar mengakomodasi keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang terkait. Kelompok masyarakat yang relatif tua bisa tetap bernostalgia di sela-sela kesibukannya, kelompok yang lebih muda bisa melihat replika sejarah masyarakatnya sehingga bisa lebih “tahu adat”, sementara pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat juga tetap bisa ditingkatkan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.