Dua Puluh Tiga Rakaat di Argorejo: Memotret Ramadan di Kompleks Pelacuran

SUASANA di Masjid Al-Hidayah sudah sepi pada Selasa petang 6 Juni lalu. Jamaah salat Magrib sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal tiga lelaki yang sedang duduk merapalkan wirid. Salah satu dari tiga jamaah itu bangkit menghampiri poci berisi teh yang ditaruh di teras. Ia meneguk minuman hangat itu dengan lahap.

Masjid Al-Hidayah terletak di RW IV Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang. Bangunan bercat biru muda campur hijau itu terletak persis di samping gerbang masuk lokalisasi Argorejo yang masyhur dengan sebutan Sunan Kuning itu.

Suasana masjid mulai lebih semarak menjelang Isya. Pukul 18.30 anak-anak berumur delapan hingga sepuluh tahunan mulai berdatangan. Sebagian memakai sarung dan pecis, sebagian lainnya mengenakan kaos olahraga dengan nama sekolah di belakangnya. Enam anak duduk di buh (pagar rendah dari semen) di samping kanan masjid. Dua lainnya duduk di atas sepeda, berhadap-hadapan.

Kembang api meledak di belakang anak-anak itu. Lima kali ledakan kembang api itu menghiasi langit Kota Semarang yang sudah mulai gelap. Anak-anak itu menengok sekenanya, tampak tak terlalu  antusias.

Menurut aturan, lokalisasi Argorejo sebenarnya tutup total selama Ramadan. Portal di gerbang utama komplek lokalisasi itu pun tertutup. Di bawahnya terpampang tulisan dari bahan MMT: Selama Ramadan, TUTUP TOTAL. Pos jaga berwarna merah di depan gerbang pun kosong. Gelap.

Tapi aturan itu tak sepenuhnya ditepati. Puluhan perempuan pekerja seks komersial masih bekerja. Dengan pakaian ketat dan minim, mereka duduk di depan wisma. Sambil ngobrol atau memainkan telepon pintar, mereka menunggu laki-laki hidung belang menawarnya. Beberapa dari mereka bertingkah agresif dengan memanggil laki-laki yang melintas di depan mereka.

“Ayo, Mas. Sini…” kata salah satu dari mereka dengan manja.

***

Meski portal di gerbang utama tertutup, akses menuju lokalisasi terbesar di Kota Semarang itu masih sangat terbuka. Di sebelah kiri gerbang ada ruang selebar satu meter yang bisa digunakan keluar masuk pengendara motor.

Menjelang Isya, ruang satu meter di kiri gerbang utama itu makin ramai. Ada warga yang berjalan, ada penjual nasi goreng yang mendorong gerobaknya, juga beberapa perempuan berpakaian mini yang melewati pintu itu dengan sepeda motornya.

Masjid Al-Hidayah terletak persis di samping kanan gerbang. Tembok bagian kanan masjid itu bahkan menempel dengan bagian belakang gapura. Dengan posisi begitu, tiap orang yang mau masuk lokalisasi otomatis melintasi halamanan masjid.

Imam di masjid itu bernama Ahmad Tafif. Dia laki-laki bertubuh kecil dengan kumis tipis. Sehari-hari ia  bekerja sebagai penjaga gudang sebuah perusahaan telekomunikasi di daerah Mangkang, Kota Semarang. Di luar Ramadan, ia adalah imam tetap di Masjid Al-Hidayah.  Tapi khusus salat tarawih, ia bergiliran dengan beberapa imam lainnya. Jadwal giliran mengimami tarawih terpasang di salah satu tembok masjid.

Malam itu, Tafif sudah berada di masjid ketika muazin mengumandangkan azan Isya. Ia mengenkan koko berwarna krem dan pecis hitam berenda. Sarungnya bermotif kotak-kotak besar dengan warna dominan  hijau.

Azan selesai dikumandangkan pada pukul 18. 52 WIB. Bocah berumur delapan tahun meraih microphone dari muazin lalu mendendangkan doa bagi kedua orang tua: Rabana atina fi dunya khasanah, wa fil ahirati khasanah wakina ‘ada bannar. Lebih dari tiga kali doa itu diulangi. Suara bocah itu terputus-putus karena kewalahan mengatur nafas.

Microphone kembali berpindah ke anak laki-laki dengan tubuh lebih besar. Suaranya terdengar lebih ngebas ketika mendendangkan lagi berbahasa Indonesia: Allah pangeranku, Muhamad nabiku, Islam agamku, Quran kitab suciku. Lebih dari tiga kali pula lagi pujian itu diualng  sebelum akhirnya mic berpindah ke muazin untuk iqomah. Saat itu masjid sudah mulai penuh. Anak-anak yang bermain di depan halaman berlarian menuju tempat wudu. Selain menempati ruang utama, jamaah juga menempati teras hingga batas paling belakang.

Kebanyakan jamaah Tafif adalah warga setempat: para pemilik wisma dan warung di lokalisasi. Tapi ada pula pekerja seks komersial yang ikut menjadi jamaahnya. Di antara perempuan pekerja seks itu, kata Tafif, bahkan ada yang fasih menderas Al-Quran.

Tafif sudah berdiri di tempat imam. Menengok ke arah belakang beberapa saat, ia lalu mengicap takbiratul ihram. Allahuakbar.

***

Bacaan ayat suci dari Majid Al-Hidayah terdengar dari Wisma Texas, tak jauh dari pertigaan gang II lokalisasi Argorejo.  Di halaman wisma itulah Rere (bukan nama sebenarnya) duduk di sebuah kursi plastik bersama tiga rekannya. Mereka memainkan ponsel masing-masing sambil sesekali memperbaiki make up. Rambut Rere panjang terurai. Separuh pahanya dibiarkan terbuka ketika ia duduk menumpuk paha kanan di atas paha kirinya.

Sudah dua tahun Rere menjadi warga di lokalisasi Argorejo. Tahun 2015 ia datang dari Bengkulu Utara, kampung halamnnya, dengan menaiki travel. Di kampung ia meninggalkan seorang anak berusia tiga tahun, kedua orang tua, dan seorang neneknya.

Sebelum bekerja di Sunan Kuning, Rere sudah pernah melakukan pekerjaan sebagai pekerja seks komersial di Bengkulu Utara. Pekerjaan itu dilakoninya selama sebulan.  Tapi, akunya, ia lakukan itu karena dijebak orang.

“Itu pertama karena dijebak oleh orang. Kenalan. Katanya mau dikasih kerjaan jadi pembantu, tapi malah disuruh layani tamu. Aku dikasih minum sampai mabok waktu itu,” aku perempuan kelahiran 1994 itu.

Sempat merasa terpukul karena terjerumus ke industri seks, Rere berusaha tegar. Akhirnya ia justru memilih bidang itu sebagai jalan mencari nafkah. Meski ia merasa pekerjaannya tidak baik, industri itu ternyata menyediakan banyak uang. Ketika hidup sebagai single mother, uang adalah sesuatu yang amat dibutuhkannya. Ia menerima dengan senang hati ketika seorang teman mengajaknya menjadi PSK di Semarang.

“Waktu pertama kerja gitu di Bengkulu, aku dijebak. Tapi waktu berangkat ke Semarang, aku datang dengan sadar, niat sendiri, buat kerja di sini,” kata Rere.

Kepada keluarganya di Bengkulu Rere pamit untuk kerja. Tapi dia merahasiakan jenis pekerjaannya. Ia khawatir orang tuanya malu dan marah. Terlebih, keluarganya termasuk cukup taat beribadah.

Di Semarang Rere ditampung oleh seorang mami di Wisma Texas di gang II lokalisasi Argorejo. Wisma yang ditempati Rere berupa rumah dua dua. Lantai bawah digunakan sebagai ruang karaoke. Lantai dua diseting menjadi kamar. Di situlah Rere dan empat rekannya kerja. Empat orang, termasuk Rere, bekerja menjadi pekerja seks dan satu lainnya menjadi pemandu lagu.

Kamar Rere terletak di ujung selatan deretan kamar wisma itu. Ukurannya tak lebih dari 3 kali 3 meter. Ada sebuah meja kecil yang berisi sejumlah alat kosmetik dan sebuah kasur selebar satu setengah meter. Rere mengaku tinggal sekaligus melayani tamu di kamar bercat merah marun itu. Sebagai kompensasi, dia membayar Rp50 ribu kepada pemilik wisma setiap kali menerima tamu.

“Kalau lagi rame ya aku bayar banyak, tapi kalau lagi sepi ya nggak bayar sekali,” kata perempuan yang hanya mengenyam pendidikan SD ini.

Selama Ramadan, tamu yang Rere terima jauh menurun. Saat ramai, dia melayani lima tamu dalam semalam. Tapi saat sepi, dia bisa sama sekali tidak dapat tamu. Rere paham fluktuasi itu.

“Ramainya kalau malam Minggu sama malam Jumat,” katanya. (Baca: Inilah 10 Fakta Mengejutkan tentang Sunan Kuning)

Dengan tarif Rp200 ribu sekali kencan, Rere bisa mengumpulkan uang Rp5 juta sebulan saat ramai. Jumlah itu di luar sewa kamar yang ia bayar kepada pemilik wisma. Tapi saat sepi, kadang dia hanya mendapat Rp1 juta. Uang itu ia pakai untuk dikirim ke kampung, mempercantik diri di salon, juga keperluan hidup lain.

Ramadan ini ia sengaja tetap melayani tamu. Itu ia lakukan supaya bisa mengumpulkan banyak uang untuk bekal pulang kampung saat lebaran nanti. Ia ingin membelikan anak perempuannya, yang berusia lima tahun dan sudah masuk TK, banyak barang. Termasuk pakaian.

***

 

Meski salat Isya telah ditunaikan, Tafif tak segera berdiri untuk memulai salat tarawih. Ia memberi jeda beberapa menit agar jamaah bisa melaksanakan salat rawatib ba’da Isya.  Beberapa jamaah bangkit menunaikan salat yang dikategorikan sebagai sunah muakad itu. Beberapa lainnya tetap duduk, lanjut merapalkan wirid.

Ketika semua jamaah selesai rawatib, bilal meraih pelantang yang tergeletak di lantai untuk memberi tanda bahwa salat tarawih bakal segera dimulai. “Sholu sunata tarawehi jami’atan rahimakumullah,” serunya terdengar keras karena dilantangkan dengan toa yang disangga batang besi di atas atap masjid.

Tafif dan jamaahnya bangkit.

Seperti masjid berkultur Nahdlatul Ulama lain, tarawih di Masjid Al Hidayah dilaksanakan selama 20 rakaat ditambah 3 salat witir.

Bacaan Al-Fatihah Tafif pada rakaat pertama salat tarawih terdengar lebih cepat. Begitu pula ketika iamembaca Al-Ma’un. Temponya lebih rapat. jauh lebih cepat dari saat dia mengimami salat Isya.

Salat tarawih dilakukan dengan dua rakaat salam. Di setiap salam, bilal mengumandangkan pujian berbahasa Arab kepada Rasulullah. Setiap empat rakaat sekali, imam memimpin doa. Setelah 20 rakaat tawarih ditunaikan, seorang jamaah bangkit menuju mimbar untuk memberi kultum. Baru kemudian dilanjutkan salat witir: dua rakaat plus satu. Begitulah tradisi salat tarawih di Masjid Al-Hidayah sejak berdiri pada 1996.

Prasasti yang tertempel di sisi kanan masjid Al-Hidayah menunjukkan, masjid itu diresmikan pada hari Rabu Pahing, 22 Mei 1996. Masjid berukuran 7,5 persegi itu diresmikan oleh Walikota Semarang saat itu, H. Soetrisno Suharto. Artinya, masjid berdiri jauh setelah lokalisasi Argorejo beroperasi sekitar tahun 1972.

Dibangun dengan dana urunan warga, masjid itu diberi nama Al-Hidayah. Nama itu mengandung doa dan pengharapan. Para pendiri berharap masjid itu bisa menjadi perantara datangnya hidayah bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk bagi para pekerja seks komerisal yang bekerja hanya beberapa meter dari masjid ini.

Harapan itulah yang dipelihara Tafif selama ini. Pada masa mudanya, laki-laki ini mengaji di Pondok Pesantren Roudlatul Huda di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.  Dari pesantren miliki pakdenya itulah ia belajar agama. Ia pindah ke Semarang pada 1996 karena mengikuti budhe-nya. Ia menempati rumah kecil di samping lokalisasi Argorejo.

Sebagai santri, Tafif merasa terpanggil ketika mendapati sebuah masjid baru tak terpelihara. Dari situlah Tafif mulai mengelola Masjid Al-Hidayah hingga saat ini. Ia menjadi imam setiap salat Subuh, Magrib, dan Isya. Adapun Zuhur dan Asar ia tak salat di masjid itu karena masih di tempat kerjanya. Biasanya ia mengelola kegiatan masjid bersama ketua tamir, Slamet, seorang dokter yang berdinas di Puskesmas Boja, Kabupaten Kendal.

Tafif menggunakan berbagai kesempatan untuk menyampaikan dakwah melalui ceramahnya. Tapi ia memilih tak bersikap terlalu frontal dengan mengkritik praktik prostitusi di sekitarnya. Dalam banyak kesempatan, dia memilih topik ceramah tentang keimanan. Pilihan itu, diakuinya, sebagai usaha untuk menghindari konflik.

Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa prostitusi adalah perbuatan haram. Jangankan pelakunya, bagi Tafif, menjual barang dan jasa untuk mendukung praktik itu juga haram.

“Kita tinggal adu kuat saja lah. Di sini kami menyerukan kebaikan. Di sana mereka melakukan yang seperti itu. Lha, mau bagaimana lagi?” kata bapak dua putri ini.

Selain ceramah di masjid, Tafif juga memberikan les bagi anak-anak yang tinggal di lokalisasi. Mereka adalah anak-anak dari para pemilik wisma dan pemilik toko yang sehari-hari melayani para PSK dan tamu. Meski meraup banyak untuk dari keberadaan lokalisasi, para pemilik wisma dan toko khawatir anak-anaknya terpapar pengaruh buruk di lingkungan itu.

Pengaruh itu tampak dari cara bertutur anak-anak. Banyak anak yang berbicara seperti orang dewasa. Makian nama binatang dan alat kelamin kerap meluncur dari mulut mereka. Anak-anak yang menginjak remaja, lebih parah lagi.

Kondisi itulah yang membuat warga menghubungi Tafif untuk memberi pengajian berformat les kepada anak-anak. Les diadakan dua kali sepakan di rumah warga.

“Kalau bukan orang tua mereka yang tersadarkan, ya semoga anak-anaknya. Kalau tidak anak-anaknya, ya semoga cucunya,” lanjut Tafif.

***

Sebagai Muslim, Rere tahu bahwa pekerjaan sebagai pekerja seks komersial adalah maksiat. Tetapi dia merasa tidak memiliki banyak pilihan. D satu sisi ia merasa terdesak karena harus mencukupi kebutuhan anak semata wayangnya di rumah. Sementara di sisi lain, ia tak mau bekerja menjadi pembantu rumah tangga seperti dulu. Selain gajinya kecil, dia ogah diatur oleh majikan.

Kondisi itulah yang membuat Rere kadang bimbang. Ia ingin menjadi Muslim yang taat. Tapi pekerjaan yang dilakoninya telanjur terasa nyaman dan memberikan banyak uang.

Awal Ramadan lalu Rere dan teman-temannya berpuasa. Tapi ibadah itu hanya bisa dilakukannya selama seminggu. Pada awal Ramadan juga dia libur kerja, sama sekali tidak layani tamu. “Ya, buat hormati yang lagi puasa juga lah.”

Tetapi setelah seminggu ia menghentikan puasanya. Pada hari itu juga ia memutuskan kembali bekerja.

Rere sebenarnya ingin terus puasa. Menurutnya, pahala puasa saat siang bisa menghapus dosa yang dilakukannya saat malam.  “Ibaratnya walau dosaku seratus persen, kalau aku puasa mungkin bisa dihapus sepuluh persen lah, karena soal dosa kan siapa yang tahu,” katanya.

Saat tinggal di kampung halamnnya di Bengkulu Utara, Rere sering melaksanakan ibadah seperti keluarganya. Selain merasa itu kewajiban dari Tuhan, ia merasa tidak enak dengan neneknya yang taat.

“Masa’ yang sudah tua aja salat rajin, saya enggak,” tuturnya.

Pun demikian ketika pulang kampung. Rere berusaha melaksanakan salat sebisa mungkin. Ia beraharap ke depan kehidupannya akan berubah menjadi lebih baik.

“Lebaran nanti aku pulang kampung. Semoga bisa ketemu lagi laki-laki yang bener, yang bisa diajak hidup berumah tangga. Makanya, lebaran nanti aku mau berenti,” kata Rere sambil kembali memainkan rambutnya.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *