Prof Abu Suud, Keberuntungan Beruntun Putra Pedagang Tembakau

biaya kuliah unnes

Kawedanan Comal, seperti daerah Pantura lain, terasa terik. Kendaraan berlalu-lalang melintasi Jalan Daendels yang beraspal. Abu Suud kecil tinggal di sebuah rumah tidak jauh dari jalan itu. Ia tinggal di dekat pasar Comal bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai penjual tembakau.

Rumah tinggalnya berupa ruko satu lantai. la bertetangga dengan warga china yang menjual sembako dan warga bombay yang menyuplai kain ke toko-toko. Juga warga arab yang membuka toko cita.

Kawasan yang ramai ini berjarak beberapa puluh meter dari kantor Kawedanan Comal. Dari pertigaan Jalan Daendels, belok kanan kalau dari arah barat. Di sana ada tempat penyembelihan babi. Di sebelah utara rumah Abu ada lapangan berfungsi sebagai   terminal kereta kuda yang disebut glindhing. Ada pula gudang penyimpanan garam. Di ujung paling barat ada masjid dan sungai. Inilah sungai tempat orang-orang menghanyutkan sisa dapur atau bahkan untuk buang air. Pantas jika air di sini selalu kecoklatan.

Selain sebuah kawasan ekonomi, pasar itu juga menawarkan hiburan. Miss Toty Opera adalah group tonil profesional di depan pasar. Setiap sore grup tonil ini berkeliling Kawedana hingga kecamatan sebelah untuk menyebar pamflet. Mereka menggunakan glinding untuk berpromosi.

Gelin­ding itu dilengkapi poster besar Miss Toty Opera. Mereka juga memainkan gramophone (peti musik) untuk menarik perhatian. Abu, yang saat itu masih kelas III Sekolah Rakyat (SR) suka sekali menonton tonil ini. Anak ini bahkan sering berebut selebaran yang berisi jadwal pertunjukan. Tidak hanya tonil, di gedung yang sama juga kerap dipentaskan wayang wong. Bersama “geng”nya Abu duduk di baris paling depan.

Abu adalah bontot. Dia punya kangmas, Ridwan, dan mbakyu, Wasilah. Keluarga ini menempati strata sosial yang baik. Dari segi ekonomi, mereka juga mapan. Ibunya seorang penjual tembakau di Pasar Comal. Baru di kemudian hari Abu tahu ibunya juga perokok meski tak separah bapaknya.

Konon, ibu Abu ini mahir sekali mengenali kualitas tembakau. Dengan menancapkan besi seukuran jari ke dalam tumpukan tembakau dan mencium batangan besi ini, ibu tahu kualitas lapisan-lapisan tembakau pada setiap bal gulungan tembakau yang terbungkus daun pisang. Selain menjual tembakau ibu juga membuka dasaran berbagai kain batik di pasar.

Bapak Abu perokok berat. Giginya sampai hitam karena pengaruh tembakau. Rokoknya bermerek Bikinri, alias bikinan sendiri. Tembakau dibungkus daun jagung yang sudah dimasak. Orang mengenalnya sebagai klobot, Konon rasanya luamayan manis. Lebih manis dari paper merk Sinden.

Suatu siang Abu main ke rumah teman yang bapaknya pintar menggambar wayang. Abu dan temannya tadi membantu menempelkan kertas demi kertas sehingga jadi tebal seperti karton. Pak Dayat, nama orang tua temannya tadi, pamit mengantar istrinya berbelanja dengan glinding. Rumah sepi. Ini kesempatan Abu dna teman-temannya coba-coba merokok. Sekali hisap bocah-bocah ini langsung batuk-batuk, perutnya mual, dan hampir saja jatuh karena mendem. Saat pulang, aroma rokok masih menguar dari mulutnya. Ibunya, yang akrab dengan aroma tembakau, langsung tahu polah anak bontotnya.

“Kami merokok ya?” tegur Ibu.

Abu terkesiap, menyangka ibunya bakal marah besar. Tapi itu tidak terjadi. Ia merasakan ibunya sangat sangat sayang padanya. Itulah pengelaman pertama dan terakhimya merokok.

Selain menjual tembakau, bapak Abu punya kegiatan lain, yaitu menjadi agen onderdil mesin jahit merk Singer. Pria yang tampangnya mirip orang Ambon karena kulitnya hitam ini juga jadi agen sepeda merk Fahrad, sepeda made in Jerman. Karena itulah, ayah sering dipanggil ‘Tuwan Fahrad agen Singer” oleh penduduk kota. Dengan topi bolu dan sepeda motor “udud-udud” Tuwan Fahrad agen Singer bertampang Ambon ini berkeliling desa memenuhi permintaan pelanggan-pelanggannya.

Bapak Abu sayang sekali dengan sepeda motomya. Suatu ketika ia memikul sepeda motor itu untuk dinaikan ke plafon rumah. Pasalnya, ia tahu tentara Belanda akan segera datang. Hampir bisa dipastikan, kalau mereka tahu ada sepeda motor, mereka bakal menyitanya.

Lahir dari keluarga cukup berada tidak selalu menguntungkan buat Abu. Dia kerap dimusuhi teman-temannya karena dianggap anak gedongan. Saat mereka bermain sepak bola di lapangan dekat rumah, misalnya, pertengkaran sering terjadi. Pertengkaran awalnya karena masing-masing pihak merasa dicurangi. Mereka kemudian saling mencemooh dengan menyebut nama julukan orang tua masing-masing.

Anak-anak Comal memang sudah sering ngomong saru saat bertengkar. Asu dan celeng biasanya diumpatkan. Kedunya jadi umpatan paling populer. Lebih parah dari itu, ada pula yang sampai menyebut alat kelamin. Abu tidak pemah merasa nyaman seperti itu. Sebagai pengganti, ia memilih kata umpatan yang lebih santun: “asem!” atau “jahat!”.

Meski sering bertengkar ia tidak pemah betul-betul baku hantam. Teman-teman sekampung hampir selalu melindunginya. Saat dia punya persoalan, teman-teman sekampung ini yang langsung ambil alih. Mereka mendatangi kubu lawan dan menyelesaikan persoalan “secara jantan”.

“Saya bukannya suka lari dari gelanggang. Tapi teman-teman meng­ambil alih duluan,” katanya.

Santri “Saru”

Proklamasi kemerdekaan RI ternyata tak segera membuat kehidupan warga tentram bagi bangsa Indonesia , termasuk bagi warga Comal. Tahun 1947 tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) kembali ke Tanah Air. Mereka juga melintasi Comal.

Saat itu beredar kabar KNIL akan datang, para pemuda yang pernah mendapat latihan perang oleh tentara Jepang dalam kesatuan Heiho membuat inisiatif ‘bumi hangus”. Setiap bangunan harus dibumihanguskan supaya tidak bisa digunakan Belanda.

Suatu malam orang-orang berkerumun menyaksikan langit memerah. Kota satelit Comal , yaitu Comal Baru yang jadi tempat bermukim para menejer pabrik gula maupun perkebunan tebu, dibakar. Padahal di komplek itu berdiri bangunan-bangunan mewah. Api menjilat-jilat, Abu dan kawan-kawannya menyaksikan dari seberang kali yang berjarak beberapa kilometer.

Di malam yang lain para pemuda memberi pengumuman bahwa jembatan di dekat desa juga sudah siap diledakkan menggunakan dinamit. Mereka menghimbau warga untuk mengungsi, menjauh dari jembatan supaya tidak terkena dampak ledakan. Abu, keluarganya, dan sejumlah warga lain menuju rumah Bu Kaji Manisah, juragan daging paling kaya. Rumahnya bagus sekali, tidak jauh dari jembatan yang akan diledakan.

Malam itu menjelang pukul delapan. Abu dan teman-teman duduk di sebuah meja di los Bu Kaji Manisah. Entah mengapa, tiba-tiba ia mengajak teman-teman meninggalkan meja itu untuk pindah ke meja lain di los yang sama. Tiba-tiba suara ledakan terdengar. Dinamit meledakan tiga jembatan. Abu dan teman-temannya bersorak gembira mendengar suara itu. Dalam hitungan detik sebuah potongan besi jembatan melayang dan mendarat di meja dasaran Bu Kaji Manisah. Semua terkesiap. Abu menyaksikan wajah teman-temannya pucat.Bocah-bocah ini baru saja lolos dari maut.

Tak lama setelah kejadian itu, Abu dan kelurga pindah ke Tegal. Inilah kampung Abu yang sebenarnya. Bapak Abu, Abdul Rasyid, dan ibu Abu, Siti Robiah, berasal dari desa bertetangga di Tegal. Ayahnya berasal dari Desa Randugunting Cleret. Nama tambahan “Cleret” dilekatkan karena desa ini berdekatan dengan kuburan Cleret. Adapun ibunya berasal dari desa Randugunting pesantren. Nama tambahan “pesantren” diperoleh karena di Randugunting bagian ini berdiri Madrasah Tamrinul Huda. Boleh dibilang, ini desa santri.

Meski bersebelahan, kultur kedua desa ini berbeda. Randugunting Cleret tidak punya musola. Di sana juga tidak pernah terdengar adzan. Bahkan saat Ramadan, tidak tampak pula orang-orang berbondong-bondong menuju masjid. Di sini orang-orang hanya puasa di awal dan akhir Ramadan. ‘Tutup kendhang” istilahnya.

Laki-laki di Randuginting Cleret tidak memakai kopyah. Para perempuan juga tidak memakai kerudung. Mereka hanya menggunakan kain yang disampirkan di pundak. Di desa tempat bapak Abu berasal orang-orang mengucap “semilah” kalau mau melakukan sesuatu. Maksudnya adalah “bismilah” atau lengkapnya: “bismillahirohmanirahim”. Kalau terkejut mereka mengucap “astaga naga” yang mungkin maksudnya “astaghfirullahaladzim”. Adapaun kalau melihat sesuatu yang mengerikan mereka berucap “harik seminggah sing adoh” yang maksudnya “na’udzubillahimindzaliK’, mungkin.

Di desa tempat ibu Abu berasal kondisinya berbeda. Selain ada sebuah masjid jami`, di sini ada sebuah langgar dan sebuah mushola. Laki-laki dewasa di sini menggunakan peci hitam dan ibu-ibu banyak yang menggunakan kerudung. Anak-anak banyak hilir mudik membawa Quran dan Turutan, buku tipis berisi rangkuman belajar membaca huruf Arab dilengkapi Juz Ama. Saat Ramadan tiba masjid di sini ramai sekali. Kalau Subuh warga disuguhi wirid “ya arhama rohimien” dan sebagainya. Saat Idul Fitri tiba mereka saling mengunjungi rumah, bermaaf-maafan sampai ada yang nangis.

Dua latar belakang keluarga ini andil mempengaruhi kepribadin Abu. Sebagai turunan keluarga santri, ia tumbuh jadi anak yang gemar ngaji. Tapi, tipikal kesantriannya berbeda dengan santri lain. Kadang nyleneh, kadang kritis.

Saat anak- anak Abu ikut dalam madrasah pimpinan Ustadz Hasan Robil bersama anak-anak lain. Tapi, Abu sering usil. Saat mau salat dia memakai celana panjang. Ustadnya mengingatkan supaya berganti dengan sarung. Bukannya manut, Abu malah balik bertanya.

“Apa Kanjeng Nabi Muhammad kalau salat juga pakai sarung, Ustadz?”

Pertanyaan itu membuat ustadznya kesal. Kening Abu ditonyo menggunakan jari.

“Cilik-cilik wis Muhammadiyah!”

Lain dengan teman-teman yang meneruskan ke pesantren setelah selesai madrasah, Abu disekolahkan ke SMP. Keputusan ini juga sempat membikin kampungnya agak “hangat”. Dalam suatu khutbah jumat Ustadz Hasan Robil mengatakan “Buat apa-memasukan anak ke sekolah SM (maksudnya SMP).”

Hal serupa terjadi saat ia pamit mau sekolah ke IKIP Bandung. Neneknya menyampaikan pesan dari ustadz Hasan Robil tadi. “Hati-hati di Bandung, nanti jadi Muhammadiyah.” Padahal pada usia itu Abu belum mudheng soal Muhammadiyah.

Saat kuliah di Bandung Abu bukan termasuk aktivis. Ia tidak merapat ke organisasi mahasiswa apa pun, baik Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), maupun Ikatan Mahasiswa Muslim (IMM). Dia justru ada di mana-mana. Dia ikut diskusi-diskusi apa pun yang diadakan organisasi-organisasi kemahasiswaan. Organisasi lain yang menyita perhatiannya adalah Daya Mahasiswa Sunda (Damas). Dia senang sekali ikut kegiatan organisasi ini. Bukan karena ketertarikan intelektual, tapi karena di Damas banyak mojang parahyangan yang geulis-geulis alias cantik-cantik.

Di IKIP Bandung, yang kini berubah nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Abu selesai pada tahun 1964. Dia bak pahlawan saat pulang kampung di Tegal dengan gelar Doktorandus. Saat itu belum banyak orang yang menyandang gelar itu. Di Tegal, bisa jadi dia satu-satunya.

Kondisi begitu membuat Abu jadi perhatian banyak orang. Dia didekati pimpinan Ormas, organisasi politik sampai didekati sejumlah orang tua untuk dijadikan mantu. Jumlahnya tak tanggung-tanggung: belasan.

Ada beberapa orang tua yang memberi isyarat tidak akan menolak jika Abu MAU melamar anak gadisnya. Bahkan ada yang menjanjikan akan memberi mesin cor kalau Abu mau menikahi anak gadisnya. Inilah keberuntungan yang tak pernah Abu sangka sebelumnya.

Suatu sore, misalnya, ia diundang keluarga juragan cor. Undangan resminya sih untuk bermujadalah (diskusi) soal-soal agama. Di sana sudah menunggu anak laki-laki keluarga juragan cor itu. Diskusi dimoderatori Habib Abdullah, tokoh agama dari kalangan habib setempat. Ketika pindah ke rumah untuk makan malam Abu merasakan sejumlah pasang mata perempuan memperhatikannya dari daun jendela.

Di lain hari Abu kembali diundang ketua pemuda Muhamadiyah Kota Tegal yang punya anak gadis yang sekolah di SMA. Saat itu Abu memang mulai akrab dengan sejumlah tokoh Muhamadiyah Kota Tegal, termasuk keluarga pengurus Aisyiah. Keluarga ini, secara tidak langsung tentu saja, berharap Abu bisa menjadi keluarga besarnya.

Di saat yang sama ada seroang mahasiswa Universitas Cokroaminoto Tegal , tempat Abu memberi kuliah, yang juga memperhatikannya. Perempuan muda ini anggota pengurus IPPNU. Cantik pula. Tapi sekali lagi, Abu belum punya hasrat melakukan perkenalan lebih serius.

Semakin hari Abu kian mendapat posisi sosial yang meyakinkan. Dia tidak hanya menjadi Ketua Ranting Muhamadiyah Kejambon, tapi juga wakil ketua tingkat Kota Madya dan Kabupaten Tegal. Otomatis ia juga menjabat Komandan Komando Keamanan Muhamadiyah (Kokam). Tapi hasrat memiliki pasangan hidup belum juga muncul. Ia justru asyik bergaul dengan teman-temannya, baik dari Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMI) , Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), mapun Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Teman-teman di organisasi itu bahkan mendaulatnya menjadi ketua PBB alias Persatuan Bujang Bingung.

Kondisi berubah ketika Abu bertemu gadis dari sebuah keluarga yang kerap ia mintai sumbangan . Saat itu ia memang kerap meminta sumbangan kepada masyarakat simpatisan untuk membiayai kegiatan Muhammadiyah.

Keluarga ini punya anak gadis yang masih SMA. Sejak pertama kali datang untuk menghimpun sumbangan, keluarga ini semakin sering mengundangnya main ke rumah. Undangan biasanya dikemas untuk diskusi soal agama, terutama membahas buku Manakib yang sering digunakan masyarakat.

Salah seroang paman anak gadis ini bercerita, bahwa nenek dari gadis ini pemah tanya, apa Abu bisa adzan. Dengan percaya diri Abu menjawab, “Wah, bukan cuma adzan…” Konon, nenek gadis itu percaya, meskipun sekali saja Abu belum pemah adzan. Suaranya kurang bagus. Atau tegasnya: jelek.

Pendekatan terus berlangsung dengan Futikha, gadis itu. Akhirya mereka menikah pada 17 Agustus 1967. Itu berarti satu tahun setelah Abu diangkat jadi dosen IKIP Semarang Cabang Tegal. Pada saat yang sama Abu juga jadi kepala SMA Kong Kwan, sekolah yang berada di bawah pengawasan Kodim pasca pemberontakan G30S/PKI yang gagal. Pada saat itu pula Abu baru dilantik jadi anggota DPRD Kotamadya Tegal mewakili Muhamadiyah sebagai anggota sekretariat bersama Golongan Karya, sebelum berdiri Golkar.

Saat pelantikan inilah sebuah peristiwa menarik terjadi. Abu menolak disumpah dengan Qur’an diletakan di atas kepala. Menurutnya, itu tidak punya rujukan hadits. Akhirya ia pergi dari tempat pelantikan. Ia dilantik secara terpisah oleh wakil ketua beberapa jam kemudian.

Itu pun tak berlangsung mulus. Saat wakil ketua memintanya menirukan janji, Abu sempat menolak. Itu karena dalam sumpah itu ada kalimat “ Akan taat dan setia kepada semua pidato Bung Kamo yang menjadi ajaran Soekarno.”

Menurut Abu, sumpah itu tidak relevan lagi dengan zaman. Sebab, spirit Orde Baru adalah merevisi kepemimpinan Soekarno.

“Buat apa ada sumpah untuk menjunjung tinggi ajaran Bung Kamo?” pikir pria kelahiran Tegal 27 Juli 1938 ini.

Abu Suud 2

Jabatan Publik

Tak berselang lama, pemerintah menerbitkan aturan supaya kampus IKIP diintegrasikan dengan induknya di IKIP Negeri Semarang. Konskuensinya, Abu harus pindah ke Semarang.

Ia tidak keberatan harus pindah. Lagi pula, menurut Abu, Semarang lebih menjanjikan dan penuh tantangan. Karir di Semarang, Abu yakin, bakal lebih berkembang.

Harapan itu terbukti, paling tidak dari sisi pergaulan. Ia mulai mengenal tokoh intelektual Semarang. Di Undip misalnya ia mengenal Prof. dr. Mulyono Trastotenoyo. Prof. Dr. Satjipto Raharjo, Prof. Slamet Raharjo, Dr. Muladi, Drs. Sasetyo Damawi, dan Drs. Darmanto Jatman. Kemudian hari Abu juga kenal dengan Prof. Eko Budihardjo, karibnya. Di IAIN ia juga kenal Prof. Ludjito dan Drs. Zarkowi Suyuti yang pernah menjadi Rektor IAIN Walisongo. Adapun di dunia agama ia mulai kenal Drs. Ahmad

Darodji, Drs. Saefudin, KH Ahmad Sahal Mahfudz, dan Drs. Amin Syukur. Masih banyak nama lain yang ia kenali di Semarang, termasuk dari Unissula.

Beruntung bagi Abu, selain mendapat banyak teman baru ia juga mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan doktor ke IKIP Bandung. Ia lulus pada 1986. Jumlah doktor tak banyak saat itu.

Tak berselang lama iajuga berkesempatan haji. Ia jadi haji kedua yang dimiliki IKIP Semarang setelah H Abdul Malik.

Sampai tahun 1990 Abu Suud lebih banyak menghabiskan energinya di kampus. Namun, pergaulan yang luas mengantarkan Abu pada Muhamadiyah. Organisasi itu ia kenal melalui Drs. Mashuri, salah satu dosen FIS IKIP Semarang, KH. Suratman, dan Midhal BA.

Tahun itu pimpinan Muhamadiyah Jawa Tengah mengangkatnya menjadi Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Sekali lagi, itu tanpa direncanakan. Keberuntungan saja. Pada saat hampir bersamaaan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir. Abu kembali diberi amanah untuk menjadi Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa Tengah. Masih pada tahun yang sama ia juga ditunjuk menjadi Wakil Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Tengah. Abu Suud juga ditunjuk jadi wakil Ketua Himpunan Pecinta Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) yang saat itu diketuai Prof. DR. Satjipto Rahardjo. Bahkan, ia juga mendapat penugasan dari Pangdam IV Diponegoro Letjen Wismoyo Arismunandar untuk menjadi staf ahli Pangdam IV Diponegoro.

Itu baru di pergulatan sosial. Di bidang akademik Abu juga mendapat sejumlah kesempatan langka. Pertama, tanpa punya ambisi mengumpulkan kredit point, ia diangkat menjadi guru besar sejarah pada tahun 1992. Pada tahun 1995 terpilih jadi ketua pimpinan wilayah Muhammadiyah Jateng. Setengah bercanda, Abu mengakui ini berkat “doa” Ustadz Hasan Robil di masa lalu; “Cilik-cilik wis Muhammadiyah.”

Tak lama berselang datang tawaran dari IKIP Veteran Semarang supaya ia mau dicalonkan jadi rektor. Di rentang waktu yang tak terlalu lama, Yayasan Universitas Muria Kudus (UMK) juga menyodorkan tawaran serupa. Lalu, datang pula utusan dari Universitas Pancasakti (UPS) Tegal untuk tujuan yang sama. Disusul berikutnya, utusan dari Badan Penyelenggara Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Semua tawaran itu tidak diambil Abu karena merasa tidak sanggup kalau harus mondar-mandir Semarang-Purwokerto, Semarang-Tegal, atau Semarang-Kudus.

Baru pada tahun 1994-lah Abu Suud punya niat mencalonkan diri jadi rektor di IKIP Semarang, lembaga tempatnya bekerja. Tapi urusan itu tak berjalan mulus. Ia menyebut hal itu sebagai “terganjal”. Kemungkinan besar karena ia terlalu “hijau”, bukan dalam arti belum berpengalaman, tapi politis. Barangkali, jika terpilih, ia dikhawatirkan memberi wama terlalu hijau pada lembaga yang sedang “kuning”.

Ganjalan pertama ia terima terkait syarat administratif. Senat membuat aturan bahwa calon rektor harus, setidak-tidaknya, pernah menduduki jabatan struktural sebagai dekan. Ia memang tidak pernah menduduki jabatan struktural itu. Tapi, ia pernah menjadi Pembantu Dekan Koordinator II di IKIP Semarang Cabang Tegal. Jabatan itu, menurut surat rekoemndasi Kepala Biro Kepegawaian Depdikbud di masa Dr. Wardiman Joyonegoro menjadi menteri, ekuivalen dengan jabatan dekan. Yang menurut Abu menggelikan adalah, keabsahan surat rekomendasi itu diputuskan tidak syah oleh senat melalui voting.

Teman-teman Abu di luar senat pernah memintanya membawa perkara itu ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Tapi Abu tidak berminat.

Satu lagi kejanggalan yang Abu tangkap adalah penurunan syarat golongan dari IV C ke IV B. Waktu itu Abu sudah IV C, adapun rivalnya, masih IV B. Aturan itu terang-terangan menuntungkan rivalnya. Padahal, menurut aturan, selagi masih ada calon dengan pangkat IV C, tidak boleh memasukan calon IV B. Konon, rivalitas keduanya sempat hangat dan jadi bahasan berhari-hari media di Semarang. Apalagi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Nuansa sempat membuat polling yang hasilnya menunjukkan Abu Suud lebih populer di kalangan mahasiswa. Orang-orang curiga Abu Suud yang menginisiatifi poling itu untuk memuluskan jalannya menjadi rektor. Padahal, “Itu tidak pernah saya lakukan.”

Kejanggalan yang sama pernah ia terima ketika ada niat untuk mencalonkan diri menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial (FPIS). Dia bersaing dengan dosen muda. Calon yang nampaknya diharapkan oleh “the exiting power” belum memenuhi syarat minimum kepangkatan. Lalu pelaksanaan pemilihan ditunda beberapa hari menunggu SK kenaikan pangkat turun dari Jakarta untuk sosok yang diharapkan itu. Kembali Abu Suud harus berbesar hati karena tidak dikehendaki menduduki jabatan struktural.

Muhamadinukar

Meski “tak berjodoh” dengan jabatan struktural di kampus, karier Abu di organasi sosialnya justru melambung. Dalam sebuah Musyawarah Wilayah Pengurus Wilayah Muhamadiyah (PWM) di Kendal tahun 1995 ia terpilih jadi Ketua Pimpinan Muhamadiyah Jawa Tengah.

Posisinya saat itu adalah Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Dengan jabatan itu Abu sebenamya tidak memiliki hak suara. Namun, ia tetap memiliki hak dipilih.

“Sama sekali tidak menyangka bakal terpilih. Saya juga tidak pernah menyusun tim sukses apa pun namanya. Meski demikian, nampaknya ada satu kelompok anak muda yang datang dan minta saya untuk mau memimpin Muhamadiyah, saya katakan pada mereka, Insya Allah. Itu saja.”

Lantaran tak terlalu berambisi terpilih jadi ketua, kehadiran Abu pada acara kongres sangat minim. la hanya datang dalam pembukaan di Stadion Bahurekso dan saat penghitungan suara dilakukan di Pendopo Kabupaten Kendal jelang penutupan. Karena itu, ia kaget ketika mendapat suara lebih dari 80 persen. Ini jumlah suara yang cukup meyakinkan untuk terpilih sebagai ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM).

Bagaimana bisa Abu meraih suara begitu dominan padahal ia tidak berkampanye, juga tidak punya tim sukses?

Abu menduga, itu erat kaitannya dengan tulisannya di Suara Merdeka yang muncul di Gayeng Semarang tepat di hari penutupan kongres. Saat itu Abu bersama Prof. Dr. Satjipto Rahardjo , Prof. Slamet Rahardjo, dan Prof. Eko Budiharjo memang rutin mengisi rubrik Gayeng Semarang di Suara Merdeka edisi Ahad. Keempat “begawan intelektual” itu mengisinya secara bergiliran. Artinya, setiap penulis berkesempatan menulis sekali setiap bulan. Mereka menyoroti persoalan-persoalan sosial sesuai minat dan keahlian.

Saat penutupan musyawarah wilayah kebetulan jatah tulisan Abu yang dimuat. Judulnya: Muhammadinukar.

Dalam artikel pendek di halaman 7 itu Abu berkisah tentang seseorang bemama Abu Nawas dari negeri 1001 Malam yang datang di Musywil Muhamadiyah di Kendal. Ini kisah fiktif. Murni khayalan.

Karena pakaiannya menyolok, Abu Nawas jadi perhatian wartawan. Wartawan tanya alasanya datang ke acara itu.

“Oh begini. Saya ini Muhammadinukar. Kenapa?” kata Abu Nawas seperti diuraikan Abu dalam tulisan itu.

“Saya ini cocok sekali dengan paham Islam yang dimiliki Muhammadiyah. Rasanya kok mirip dengan kaum Muktazilah, meski tetap Sunni. Jadi dapat diistilahkan manzilata baina manzilatain begitu. Artinya, Muhammadiyah itu ada di tempat di antara dua tempat. Saya datang dari masyarakat yang mengikuti tradisi nahdiiyin yang Sunni itu. Dan jangan lupa, saya ini juga keturunan Arab. Sekarang Muhammadiyah, dulunya berasal dari tradisi NU, dan tetap keturuan Arab. Disingkat MuhammadinuKar.”

Tulisan itu nampaknya membuat peserta Musywil mengingat Abu. Toh, dari aspek tokoh maupun isi cerita, memang ada kesamaan. Tokoh dalam tulisan itu bemama Abu. Kalau Abu Nawas mengaku Muhammadinukar kepanjangan dari “Sekarang Muhammadiyah, dari tradisi NU, dan keturunan Arab”, dalam kehidupan pribadi Abu Suud “Sekarang Muhammadiyah, berasal dari tradisi NU, dan karena dia PNS, mau tidak mau jadi anggota Golkar.”

Singkat cerita, Abu terpilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Saat menduduki posisi inilah Abu bersama rekan-rekan membidani kelahiran Universitas Muhamadiyah Semarang (Unimus).

“Universitas Muhamadiyah di Magalang ada, di Purwokerto ada, di Surakarta juga ada. Masa di Semarang yang ibu kota provinsi tidak ada?” pikirnya.

Ketika universitas itu resmi berdiri, rektor pertamanya adalah Prof. Dr. Istiati Sutomo dari Undip. Pada periode berikutnya, Abu Suud terpilih untuk menduduki rektor universitas muda itu. Ia memimpin Unimus hanya satu periode, karena tidak bersedia maju lagi untuk periode berikutnya.

Selepas itu, Abu kembali menjadi manusia bebas. Sebagai PNS ia pensiun dari kedinasan. Meski begitu, ia masih mengobati klangenan mengajar di Unnes dan IKIP PGRI Semarang. Selebihnya, aku Prof. Abu, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucu.

Pada saat yang sama ia masih aktif menulis, baik buku, artikel, maupun esai ringan untuk Gayeng Semarang. Jika saat masih muda buku-bukunya “beraf” karena berkaitan dengan bidang keahliannya, buku-buku terkini Abu lebih segar dan “ringan”.

Saat masih aktif mengajar, misalnya, buku yang ditulis adalah Memahami Sejarah Bangsa-bangsa di Asial Selatan (1988), Sejarah Asia Selatan (Sebelum Zaman Islam) (1992), Format Metodologi Pengajaran Sejarah Dalam Transformasi Nilai dan Pengetahuan (1994), Prosedur Penulisan Hadits (2000), Ritus-ritus Kebatinan (2001), Islamologi (Sejarah, Ajaran & Peranannya dalamPeradaban Umat Manusia) (2003), Haji, Antara Syara dan Mitos (2003), Sepanjang Hari Bersama Rasulullah SAW (2003), dan Semangat Orang-orang Tegal (2003).

Adapun buku-buku terkini Abu adalah trilogi Ada Anak Bertanya pada Bapaknya (2005), Ada Anak Bertanya pada Ibunya (2005), dan Ujar-ujar Kakek pada Cucunya (2007). Ketiga buku itu membahasa persoalan-persoalan sosial keagamaan dengan ringan. Berbentuk dialog dan sarat dengan guyonan.

Setelah itu, ia melahirkan otobiografi Berapung-apung dalam keberuntungan (2008), Ruang, Waktu, dan Tuhan (2008), Revitalisasi Pendidikan IPS (2008), dan Air Dari Talang Emas Kabah (2009).

Dua buku terbaru, How To Be Real Indonesian (2012) dan Gluwehan Cara Orang Tegal (2012) bahkan nyaris tak berbau akademik. How To Be Real Indonesian membahas kejadian lucu dan menarik di Indonesia, dari sumpah pocong sampai bonek, dari jam karet sampai diplomasi a la Jawa. Seluruhnya dituturkan dengan segar.

Konon, Abu termotivasi menulis buku ini setelah baca How to be Normal in Australia karya Robert Treboirlang. Saat itu ia berkunjung ke Perth, Australia, untuk menjalani pengobatan mata dan mampir di salah satu toko buku.

Kini, Abu masih terus menulis, bahkan meski matanya sudah tidak terlalu awas. Oleh dokter Sjakon G Tahija dari Jakarta Eye Center Abu didiagnosa mengalami “lost vision” akibat perdarahan di bawah makula mata kanannya. Dokter bahkan menduga, kemungkinan yang sama bisa terjadi pada mata kiri.

Kini, ia tengah menyiapkan buku baru bertajuk Adam Adalah Cikal Bakal Komunitas Timur Tengah yang sedang dalam proses penerbitan oleh Aneka Ilmu. Maka, ketika ia mengetik di komputer ia menggunakan font Times New Roman ukuran 72 supaya terlihat lebih jelas. Itu font terbesar yang disediakan Microsoft Word pada display toolbar.

Barangkali ia akan menggunakan font lebih besar jika tahu ukuran 72 bukan terbesar. Caranya, tekan Ctrl + } bersama-sama.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.