Postmodernisme Menghasilkan Ilmuwan Penyihir Teknologi

Di abad ke-21 ini, globalisasi telah mengubah segalanya. Begitu juga dengan teknologi. Sudah barang tentu berkembang selaras dengan kemajuan yang terjadi di semua aspek dalam kehidupan ini.

Kemajuan-kemajuan tersebut terjadi mengingat zaman yang kian berganti dan kemampuan manusia yang terus berkembang. Serta keinginan dan kemauan manusia untuk selalu belajar, termasuk untuk menemukan inovasi dan temuan baru, yang mana temuan dan inovasi tersebut dianggap mampu berperan dalam kehidupan sekaligus membantu dalam pemecahan berbagai problema yang ada.

Hal tersebut tidak semata-mata didukung oleh tingginya IQ yang dimiliki seseorang, tetapi juga didukung oleh kecerdasan lain seperti halnya kecerdasan emosional, kemampuan untuk selalu bisa mengembangkan apa yang sudah ada, atau bahkan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang belum ada, yang semuanya itu bisa saja terjadi di luar nalar manusia pada umumnya.

Seperti yang disebutkan dalam sebuah buku berjudul The Structure of Scientific Revolution karangan Thomas Kuhn (1962), menjelaskan bahwa dalam dunia keilmuan, ilmu sains berkembang sesuai zaman dan keadaan pada saat itu, serta berdasarkan fakta-fakta yang ada di dalam masyarakat. Kemampuan yang dimiliki seseorang pun berkembang pesat sesuai keadaan.

Kemampuan tersebut muncul dan seringkali memunculkan analogi yang menyatakan bahwa penemu teknologi tersebut adalah seorang penyihir, yang kita tahu bahwa di era sekarang ini, penemuan dan inovasi teknologi sudah melampaui batas normal, yakni menciptakan sesuatu yang pada era sebelumnya temuan itu dikatakan tidak mungkin ada dan dapat tercipta di tangan manusia.

Contoh kecil yang ada di tengah-tengah kita ialah telepon genggam (handphone), dimana telepon genggam tersebut merupakan alat komunikasi yang diciptakan untuk mengirim pesan dalam bentuk teks dan juga sebagai sarana komunikasi audio antar dua pengguna.

Namun yang berkembang saat ini, fungsi handphone tersebut telah meningkat secara derastis, seperti halnya ponsel pintar (smartphone) yang saat ini sangat mudah untuk kita jumpai, dimanapun dan kapanpun. Ponsel pintar tersebut memiliki fitur yang luar biasa dan telah dimaanfaatkan bagi pemiliknya untuk memudahkan komunikasi dengan orang lain dan dengan dunia luar, baik dalam lingkup lokal maupun dalam skala internasional. Mulai dari adanya sosial media yang merupakan sarana komunikasi bebas dalam dunia maya.

Penciptaan sosial media ini pada mulanya merupakan sebuah fitur yang digunakan hanya untuk sebatas percakapan dalam bentuk teks. Namun paradigma sekarang ini telah banyak mengubah fungsi sosial media tersebut, dimana di dalam sosial media seseorang dapat berkomunikasi dengan cara yang lebih dari sekedar melakukan percakapan teks, namun dapat juga berinteraksi melalui layanan free call, video call, serta interaksi dengan pengunggahan foto dan pemunculan notifikasi mengenai posisi keberadaan kita pada saat itu juga.

Bahkan, fungsi ponsel pintar sendiri pada sekarang ini telah mampu untuk melakukan hal-hal yang bersifat meringankan pekerjaan, terutama pekerjaan rumah tangga, seperti yang telah dilakukan oleh ilmuwan di luar negeri, ia berhasil membuat aplikasi untuk membantu seseorang dalam memberi makanan kepada binatang peliharaannya ketika orang tersebut berada di luar rumah.

Bahkan, ada fitur serupa yang ditemukan anak bangsa, mahasiswa dari Universitas Diponegoro, yaitu fitur dalam ponsel setingkat Android yang digunakan untuk memberi makan ikan-ikan yang ada di kampusnya, dengan tidak harus berada di dekat kolam, melainkan bisa dilakukan jarak jauh bahkan ketika mahasiswa tesebut berada di luar kampus. Hal tersebut tentu sangat membantu, mengingat tugas seorang mahasiswa yang sangat kompleks dan memakan banyak waktu.

Kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga dengan segudang prestasi yang diukir oleh para pemuda inovatif. Beberapa waktu yang lalu banyak capaian-capaian para pelajar Indonesia diantaranya penemuan mobil esemka, mobil listrik, inovasi tongkat narsis untuk kamera yang dilengkapi payung, pupuk kompos berteknologi tinggi, dan temuan-temuan lainnya yang dapat bermanfaat bagi kehidupan ataupun hanya sebagai hiburan semata. Sungguh hal yang tidak dibayangkan pada masa-masa di era dahulu.

Fenomena demikian juga dibahas dalam sebuah jurnal terbitan Universities of Edinburgh and Bath (UK), yang berjudul Radical Science (1970 an), dimana di dalamnya menyebutkan bahwa ilmu-ilmu yang ada di tatanan masyarakat berorienstasi pada hajat masyarakat dan mayoritas besifat membangun, serta dalam perkembangannya seringkali bersifat radikal yang kesemuanya itu mencengangkan manusia, tetapi memiliki manfaat besar bagi kehidupan, jika digunakan sebagaimana mestinya.

Muhammad Salim, mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP, Universitas Diponegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.