Kalau Nulis Makalah Aja Abang Plagiasi, Mana Adek Percaya Cinta Abang Asli…

Bang, Adek sedang sedih. Sejak Ujian Akhir Semester (UAS) kemarin nama Abang jadi pembicaraan di kampus. Bukan cuma mahasiswa, dosen juga banyak yang bicara tentang Abang.

Yang bikin Adek sedih, nama Abang disebut bukan karena prestasi Abang.  Abang justru disebut melakukan plagiasi saat nulis makalah untuk salah satu tugas kuliah.

Bagi Adek, persoalan plagiasi bukan persoalan sederhana. Adek termasuk yang setuju kalau plagiasi sama dengan mencuri. Seperti syirik dalam agama, plagiasi adalah dosa tak terampuni dalam dunia akademik. Adek yakin itu, dan berusaha menjaga diri dari tindakan plagiasi.

Bagi Adek pribadi, plagiasi menunjukkan banyak hal dalam diri pelakunya. Pertama, Adek yakin, para pelaku plagiasi adalah orang yang tidak memiliki keberanian menghadapi kenyataan.

Kenapa begitu? Kalau bagi Abang nulis makalah terlalu sulit, Abang kan bisa bilang ke dosen Abang. Sampaikan baik-baik bahwa Abang kesulitan. Kalau Abang mengatakan itu, mereka pasti mau bantu.

Abang kan laki-laki. Adek tahu, selama ini Abang berusaha menampilkan diri Abang sebagai pribadi yang kuat dan tangguh. Adek percaya Abang kuat. Adek percaya Abang tangguh. Tapi plagiasi yang Abang lakukan, membuat kepercayaan Adek runtuh.

Kalau cuma menghadapi kesulitan nulis makalah saja Abang menyerah, bagaimana mungkin Abang akan sanggup menghadapi kesulitan dalam rumah tangga kita kelak, Bang?

Selain itu, Adek percaya, cuma orang yang gampang menyerah aja yang rela plagiasi. Abang pernah begitu semangat saat mendekati Adek beberapa bulan lalu, saat kita baru kenalan. Abang menunjukkan kualitas diri sebagai laki-laki yang tidak pernah kehabisan energi untuk meraih keinginan. Itulah yang membuat hati Adek luluh dan memutuskan jalan dengan Abang.

Lebih jauh dari itu, Adek percaya, orang yang tega melakukan plagiasi telah membatalkan kelayakan dirinya untuk menjadi teladan yang baik. Padahal kelak, Abang akan menjadi idola anak-anak kita. Mereka akan meniru tingkah laku Abang seluruhnya, mengganggap Abang sebagai pribadi yang sempurna. Kalau mereka tahu Abang pernah plagiasi, mencuri gagasan orang lain, berarti Abang tidak layak lagi diteladani.

Adek juga percaya, ucapan laki-laki adalah janji. Meskipun Abang bukan raja, saya percaya ucapan Abang seperti sabda. Sebagaimana diungkapkan dalam bahasa Jawa “sabda pandhita ratu”, ucapan Abang akan selalu Adek percayai, akan selalu Adek ikuti.

Inilah yang bikin Adek sedih. Dulu Abang pernah cerita, kalau cinta Abang ke Adek adalah cinta sejati. Tapi kalau nulis makalah saja abang plagiasi, mana adik percaya cinta abang asli?

Jangan-jangan cinta Abang ke Adek cuma fotokopian? Jangan-jangan Abang gandakan cinta Abang, lalu disebarkan ke mana-mana?

Maaf Adek menulis surat ini melalui Facebook. Semoga Abang baca, semoga Abang bisa merenungkannya.

NN, perempuan yang sedang kecewa, Semarang

Sumber gambar: plagiasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.