Pendidikan Demi Kompetensi, Bukan Nilai yang Tinggi

Oleh Laela Qutrotun Nada*

Penggunaan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter dapat meningkatkan kompetensi siswa, bukan hanya skor atau nilai.

Mendikbud, Nadiem Makarim mengeluarkan beberapa kebijakan, salah satu dari kebijakan yang dicetuskan yaitu mengenai perubahan UN menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Diharapkan dengan Asesmen, siswa tidak hanya memiliki kemampuan menghafal namun juga kemampuan kognitif seperti penalaran dan pemahaman serta penguatan karakter.

Menurut Mendikbud dalam Kemendikbud.go.id, Rabu (11/12/2019), selama ini materi Ujian Nasional terlalu padat sehingga fokus siswa cenderung menghafal materi dan bukan pada kompetensi belajar. Sehingga hanya akan menimbulkan beban stres pada siswa, guru, maupun orang tua, karena Ujian Nasional justru menjadi indikator kesuksesan belajar siswa.

UN berisi materi yang padat yang kemudian diujikan kepada siswa. Siswa jenjang akhir hanya fokus mempelajari materi yang akan diujikan. Yang dilakukan hanyalah menghafal materi demi dapat menjawab soal-soal yang akan diujikan. Siswa hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi tanpa memperhatikan kemampuan yang akan diperoleh.

Jika hanya skor atau nilai yang dikejar oleh siswa, pembelajaran hanya sebuah narasi yang dihafal kemudian dilupakan. Tidak ada yang membekas dan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini akan menjadi pembelajaran yang sia-sia. Sehingga diperlukan kebijakan yang mampu mengantarkan pada pembelajaran yang lebih berkesan serta meningkatkan kemampuan dalam diri siswa.

Perubahan UN menjadi Asesmen Kompetensi Minimun dan Survei Karakter mengantarkan pada proses pembelajaran yang tidak berorientasi pada nilai yang tinggi. Siswa tidak dikejar-kejar untuk dapat memperoleh nilai yang tinggi. Dengan penggunaan Asesmen, evaluasi lebih menjangkau pada berbagai aspek yang dimiliki oleh setiap individu. Asesmen bukan hanya sekadar evaluasi untuk kemampuan kognitif, namun juga sampai pada penguatan karakter.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pada pendidikan karakter. Hal ini menjadi model evaluasi yang dapat mencangkup ranah kompetensi dan pembentukan karakter.

Konsep Asesmen Kompetensi Minimum mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan oleh siswa dengan materi yang dinilai adalah literasi dan numerasi. Kemampuan yang dikembangkan dengan Asesmen merupakan kemampuan menganalisis. Dengan pengembangan ini siswa diarahkan agar dapat berfikir kritis mengenai materi yang diajarkan.

Mendikbud Nadiem Makarim dalam laman Tirto.id, Rabu (11/12/2019) mengatakan bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan menganalisis suatu bacaan, dan memahami konsep dibalik tulisan tersebut. Sedangkan maksud dari kompetensi numerasi yaitu kemampuan menganalisis menggunakan angka.

Fokus dari Asesmen adalah pengembangan kemampuan nalar dalam penguasaan konten terhadap materi yang dipelajari. Sehingga bukan hanya sekadar mengetahui informasi dari materi yang ada, namun dapat mempraktikan dan menerapkannya.

Mendikbud dalam Kumparan.com, Jum’at (13/12/2019) terdapat analogi tentang siswa yang berenang di laut untuk menuju sebuah pulau. Dengan Asesmen Kompetensi, siswa diarahkan untuk bisa berenang, bukan hanya mengetahui tentang cara dan gaya berenang. Sehingga ketika siswa harus nyemplung ke lautan dunia nyata dapat bertahan dengan kemampuan berenang yang dimilikinya dan tidak akan tenggelam.

Kemampuan menganalisis harus terus dikembangkan dalam  pembelajaran. Sehingga siswa akan terbiasa bernalar terhadap materi yang dipelajari bukan hanya sekadar menghafal. Pembelajaran semacam ini akan menghasilkan kompetensi yang lebih membekas dan bertahan lama. Dengan metode analisa, diharapkan  juga dapat menghasilkan siswa yang memiliki daya fikir kritis.

Kemampuan bernalar dalam konsep Asesmen bukan hanya sekadar menghafal materi yang ada, namun juga dapat menggunakan materi yang dipelajari untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dari pembelajaran model demikian, dapat menghasilkan pengalaman berfikir yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Sehingga proses pembelajaran dapat menghasilkan pengalaman yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Penggunaan Asesmen akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi serta kemampuan menganalisis yang akan menjadi bahan perbaikan kualitas lulusan. Hasil dari proses pembelajaram bukan hanya nilai atau skor yang tercatat di lembaran raport namun juga dapat menghasilkan kompetensi bagi siswa.

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (11/12/2019), Survei Karakter adalah pengamatan yang dilakukan guru terhadap perilaku dan sikap siswa sesuai dengan asas Pancasila. Survei Karakter ini nantinya akan menjadi tolok ukur untuk bisa memberikan umpan balik kepada sekolah-sekolah untuk melakukan perubahan yang akan menciptakan siswa-siswa yang lebih bahagia dalam mengenyam pendidikan dan juga lebih kuat asas Pancasila-nya di lingkungan sekolah.

Pendidikan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seorang siswa. Sehingga pendidikan harus diarahkan untuk dapat menunjang pembentukan karakter siswa. Survei Karakter mengarahkan pada penguatan sikap yang sesuai dengan asas Pancasila. Harapannya, karakter siswa dapat terbentuk sehingga menghasilkan lulusan yang berkarakter.

Penggunaan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter tidak lagi membuat siswa berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi. Namun akan mengarahkan siswa untuk terus meningkatkan kemampuan kognitif dan memperbaiki karakter. Evaluasi seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan.

Pendidikan harus mengantarkan siswa untuk meningkatkan kompetensi dan karakter, bukan hanya sekadar mendapatkan nilai atau skor. Karena kompetensi dan karakter menjadi hal penting yang akan menjadi bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan dimasa depan.

 

Laela Qutrotun Nada, mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FIP UNNES.

Artikel ini dipublikasikan sebagai hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.