Paradoks Identitas Manusia Kota

Manusia kota selalu punya waktu dan energi untuk membangun identitasnya. Konstruksi identitas dilakukan melalui bahasa, busana, juga caranya memanfaatkan waktu sisa. Tidak terbatas pada ketiga jenis aktivitas konsumsi itu, hampir setiap aktivitas manusia kota diputuskan dengan pertimbangan identittas.

Namun merekayasa identitas ternyata bukan pekerjaan sederhana. Identitas luar memang bisa direkayasa dengan segera. Orang bisa menyewa mobil bagus agar tampak kaya, menenteng buku agar tampak terpelajar, atau mengupdate status kekirian agar dikira memiliki semangat perlawanan.

Yang membikin urusan menjadi rumit; identitas juga melekat pada hal-hal mendasar. Inilah yang sulit direkayasa. Identitas ini, barangkali, semacam rekaman yang tertanam dalam DNA. Identitas semacam ini sudah menjadi semacam gravitasi yang melekat pada bumi, tak tampak tetapi sulit dihindari.

Di sinilah kerap kali muncul paradoks, ketidaksinkronan antara yang luar dengan yang dalam. Ketidaksesuaian antara “yang tertanam” dengan “yang terekayasa”.

Itu saya temukan, antara lain, pada para penggowes. Mereka melakukan olahraga dengan peralatan mahal, sebuah aktivitas khas manusia kaya. Tidak cukup sepeda yang harganya jutaan, agar makin tampak berkelas mereka juga mengenakan baju, sepatu, dan helm khas pembalap.

Secara visual, konstruksi identitas tampak berhasil. Entah dari mana latar belakang sosial ekonominya, ketika mereka menggunakan peralatan mahal itu, mereka sudah tampak seperti orang kaya terpelajar. Tapi identitas yang telah dikonstruksi itu gugur begitu saja ketika mereka mendapati lampu lintas menyala merah, mereka terjang juga. Entah bagaimana pertimbangannya, mereka merasa memiliki kuasa untuk main terabas, mengabaikan keselamatan diri, juga orang lain yang melintas di jalan yang sama.

Sepeda, sepatu, dan helm yang mahal bisa membuat mereka tampak kaya (sekaligus terpelajar) dalam seketika. Tetapi ada sesuatu yang tak bisa direkayasa: mentalitas yang telah terukir   sepanjang hidup mereka.

Tontotan semacam ini, mudah kita dapati. Ada di sekitar kita, ada dalam diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.