Mengenang Luna Maya, Mengenang Politisasi Tubuh Perempuan

Kasus video mesum Ariel Peterpan-Luna Maya membentangkan perbedaan persepsi antara tubuh perempuan dan dengan tubuh laki-laki. Saat kasus itu mencuat, cibiran terus menerus ditujukan kepada Luna Maya (dan kemudian Tari). Sebagai perempuan, ia dianggap pendosa karena melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Namun cibiran dengan intensitas yang sama tidak ditujukan pada pihak laki-laki. Padahal hubungan berasyik masyuk itu (visualy) dilakukan secara resiprokal.

Kondisi demikian membuktikan tubuh perempuan menjadi objek yang kerap dipolitisasi. Tubuh perempuan dianggap sakral sehingga harus dilindungi dengan penuh perjuangan. Masyarakat seolah-olah memiliki kepentingan atas tubuh seorang perempuan sehingga merasa perlu urun rembuk membahasnya. Padahal, baik tubuh Luna Maya maupun Ariel adalah pemilik otoritas tubuh masing-masing.

Johnson dan Ferguson dalam Thrusting Ourselves berpendapat hilangnya otoritas pemilikan perempuan atas tubuhnya dipengaruhi banyaknya kepentingan yang berafiliasi di sana. Apalagi dalam dunia budaya pop, tubuh perempuan di-setting sebagai representasi suatu benda, produk atau komoditas yang dimaksudkan untuk “dijual”. Maka, baik penjual, calon pembeli, maupun broker yang menjadi perantara transaksi memiliki kepentingan di sana.

Tampaknya memang sembrono. Tetapi dalam tren budaya pop, tubuh perempuan memang telah menjelma menjadi komoditas. Ia diperbincangkan oleh masyarakat sebagai benda yang memiliki nilai nominal. Padahal dalam konsep de Beauvoir, konsep identitas tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan gender. Sebab, melalui fungsi tubuhlah identitas gender diciptakan. Tubuh menjadi penanda pertama dan utama identitas gender seseorang.

Hilang Otoritas

Sebagai perempuan, Luna Maya tentu punya hak tanpa batas atas dirinya. Namun peran ganda sebagai perempuan yang sekaligus public figur membuat ada pihak-pihak lain yang merasa punya hak dan perlu didengar pertimbangannya. Karena itulah ada anggota masyarakat yang merasa berhak protes, mengeluh, mendukung, atau bahkan menghujat saat video mesum mirip Luna Maya muncul. Politisasi tubuh perempuan menciptakan keriuhan di media dan bahkan warung sega kucing.

Keterlibatan khalayak atas tubuh perempuan juga disebabkan oleh pranata sosial yang berlaku konvensional dalam masyarakat. Relasi perempuan dengan masyarakat menciptakan relasi bayangan antara tubuh yang dimiliki dengan masyarakat di sekitarnya. Jika perempuan seorang istri, suami memiliki sebagian hak. Sedangkan jika ia seorang ibu, apalagi sedang hamil dan menyusui, anaknya memiliki kepentingan atas tubuhnya.

Dalam kasus Luna, relasi demikian terjadi antara Luna Maya dengan masyarakat konsumen. Tubuh Luna telah telanjur menjadi bagian dari industri. Sebab ia presenter dan bintang iklan, tubuhnya tidak bisa dilepaskan dari transaksi antara produsen tayangan televisi dan produsen sabun dengan masyarakat. Luna terjebak kepentingan karena jauh-jauh hari ia telah menjadi perantara sebuah transaksi.

Akhirnya, baik produsen maupun konsumen produk yang iklannya ia bintangi merasa perlu ikut campur mengomentari peran tubuhnya.

Janice Winship dalam Sexuality for Sale (1980) mengatakan, perempuan (kerap)  tidak melihat diri mereka sebagaimana pria melihat mereka, tetapi menikmati pandangan orang lain terhadap sekitarnya. Perempuan tidak pernah mampu menentukan identitas dirinya karena selalu diselimuti pelbagai anggapan. Karena itulah mereka berusaha menyesuaikan bentuk tubuh, model rambut, pakaian, kosmetik yang dipilih, dan cara berperilaku mereka dengan citra cantik dan baik yang dibangun masyarakat.

Politisasi

Paradigma inilah yang sering menjebak perempuan dalam politisasi tubuh. Sebagian besar perempuan menganggap pandangan orang lain terhadap tubuhnya sebagai sesuatu yang penting. Sehingga penilaian tentang baik dan tidaknya perempuan sering hanya didasarkan pada tingkat estetika tubuh. Ketika pandangan orang lain berubah, perempuan merasa perlu mengubah penampilannya.

Problem ini muncul bukan semata-mata karena perempuan secara alamiah ingin membanggakan estetika tubuhnya, tetapi juga perspektif patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat kita. Tubuh perempuan terasa penting dipersoalkan karena laki-laki punya kepentingan untuk mempersoalkannya. Logika libidonomik laki-laki membuat mereka merasa senang memperbincangkan tubuh perempuan.

Karena Luna Maya adalah public figure, pihak yang punya kepentingan untuk mempersoalkan tubuh dan penampilannya tentu tidak hanya diri dan pasangannya. Tubuh Luna telah menjadi bagian dari industri hiburan yang digelutinya, sehingga artist agency tempatnya bernaung, lawan main, agen iklan, label rekaman, produser, hingga penggemar punya kepentingan. Mereka ingin tubuh Luna tetap ideal sesuai kepentingan mereka. Karena itulah ketika sewaktu-waktu Luna menggunakan tubuh sesuka dirinya mereka merasa berhak komplain.

Konsekuensi ini telah menjadi semacam kutukan bagi perempuan yang melibatkan tubuh sebagai modal penunjang karier. Sangat sulit ditolak. Apalagi belakangan sedikit sekali pemilik modal yang memandang objektif kemampuan perempuan. Dalam dunia yang bersifat visual, rupa menjadi perhatian utama.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Gambar: Luna Maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.