Membaca Peran Kultural Perut

Bagaimana imperium Romawi bisa bertahan selama ratusan tahun? Kaisar-kaisar Romawi akan menjawab “Kenyangkan perut dan beri mereka (rakyat) pertujukan”. Para kaisar ini mengambil hati rakyatnya dengan perut dan hiburan. Selama perut tetap kenyang dan kebutuhan hiburan tercukupi, maka rakyat tak butuh pemberontakan.

Resep ini pula yang pernah dipakai Soeharto hingga bisa berkuasa selama 32 tahun. Namun nyatanya, presiden kedua ini hanya berusaha mengenyangkan perut rakyatnya. Untuk kebutuhan hiburan, Soeharto memaknainya dengan istilah “Keamanan dan ketertiban”. Urusan perut adalah segalanya.

Perut kerap dimaknai segala urusan keduniaan. Perutlah yang mengendalikan otak, karna otaklah yang semestinya memikirkan perut, bukan sebaliknya. Meski berfikir dan makan sama-sama penting, perut tetaplah prioritas, begitulah yang dipersepsikan Rahmat Petuguran dalam bukunya Melawan Kuasa Perut.

Tersangka korupsi, pelaku kejahatan, begundal, dan pemberontak adalah mereka yang gagal mengendalikan perutnya. Integritas, kehormatan, kejujuran, dan segala pameo positif dalam masyarakat menempati nomor sekian setelah tuntutan perut terpenuhi. Singkatnya, anggapan yang menetap di banyak orang, peran perut lebih dominan dibanding nalar manusia.

Perut membolak-balikan logika dan meniadakan etika. Perut hanya bentuk gambaran segala bentuk keculasan. Perut adalah sasaran empuk kambing hitam yang antagonis dari kesalahan manusia. Seorang pencuri yang tertangkap akan selalu berkilah pada alasan kebutuhan perut, keserakahan koruptor juga akan ditimpakan pada perut. Berbagai kebengisan manusia yang melebihi sifat hewan juga menyalahkanya pada perut. Suami menyewakan istrinya, ibu menjual anaknya terjadi ketika manusia gagal berdiplomasi dengan perutnya.

Penulis menempatkan perut hanya sebagai analogi manusia. Rahmat mencoba menarik benang merah berbagai permasalahan manusia Indonesia. Dalam kumpulan tulisanya, analogi perut hanya salah satu gambaran manusia dan budayanya yang tidak sangup beradaptasi dengan perubahan. Dosen Universitas Negeri Semarang ini memosisikan diri mewakili kalangan muda miskin yang risau dengan terhadap berbagai peristiwa, dan arus budaya yang berpacu dengan waktu.

Ia galau melihat masyarakat dan budayanya yang terseok-seok melanjutkan eksistensinya. Dalam kumpulan tulisanya, penulis menempatkan diri sebagai korban perubahan manusia dan budaya yang menyertainya, sekaligus menjadi pengamat ulung pada zaman edan yang dijabarkanya panjang lebar dalam bukunya. Menularkan kegalauanya dengan berbagai tulisan menarik yang mengisi buku Melawan Kuasa Perut setebal 130 halaman ini. Sekaligus, menyusuri teka-teki problem sosial dari kerisauan dan pemberontakan batin yang dialami penulis sendiri.

Idris Muhammad
Reporter Detik.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.