Memahami Cara Memahami

SEPERTI (sebagian) anak muda lain, saya merasa sangat reaktif dalam merespon kabar tertentu di internet. Baca satu dua berita saja di media,  saya merasa sudah memahami duduk persoalan. Perasaan sudah memahami persoalan dengan baik (padahal belum!) membuat saya terburu-buru mengambil keputusan.

Kondisi itu membuat saya kadang membenci seseorang dengan begitu mudah. Satu dua berita buruk tentang orang itu, saya anggap sudah cukup untuk mengambil simpulan bahwa orang itu memang buruk, patut dibenci.

Demikian pula sebaliknya. Satu dua berita di media saja, sudah cukup untuk membuat saya bersimpati atau mendukung seseorang. Seolah-olah satu dua berita itu adalah data yang merepresentasikan kondisi sesungguhnya.

Kecenderungan reaktif itu, kemudian, saya sadari sebagai sebuah kekeliruan umum. Karakter reaktif itu tidak semata-mata dibentuk oleh mentalitas pribadi, melainkan karakter yang diadaptasi dari pola hidup dan perilaku sosial masyarakat tempat saya hidup saat ini. Masyarakat informasi, masyarakat digital, masyarakat serbacepat.

Sikap reaktif itu, antara lain, muncul karena kecenderungan saya terlalu fokus terhadap informasi sehingga mengabaikan metainformasi. Saya cenderung fokus memahami sesuatu tetapi tidak memahami cara saya memahami.

Apakah memahami cara memahami adalah urusan yang penting? Bagi saya sangat. Sebab informasi jauh lebih luquid daripada benda liquid. Kebermaknaannya sangat bergantung pada cara kita memperlakukannya. Artinya, pemahaman yang kita peroleh dari informasi bergantung dari cara kita memahaminya.

Memahami cara memahami adalah salah satu fokus kajian hermeneutika. Ilmua tafsir modern itu tidak hanya membimbing penggunnnya memperoleh makna, tetapi juga mempersoalkan bagaimana makna itu dihasilkan.

Hermeneutika mengajarkan bahwa objek adalah otonom. Pengetahuan apa pun tentang objek itu hanyalah versi pengetahuan menurut subjek yang menafsirkannya. Subjek boleh saja mengklaim memiliki metodologi paling baik, tetapi tidak akan berhasil membuat pengetahuan subjek sama dengan objek.

Kesadaran inilah yang membuat hermeneutika menekankan agar penggunanya tak gegabah mengklaim diri bahwa paling sempurna tafsirnya. Sebab, setiap tafsir selalu terikat oleh kelemahan metodologi dan subjektivitas subjeknya. Konskuensinya, makna yang dipahami seseorang terhadap sesuatu tidak akan sama dengan sesuatu itu sendiri. Terkadang ada penyederhanaan, terkadang ada hiperbola, terkadang ada distorsi.

Kerendahhatian hermeneutika inilah yang justru membuatnya mengembangkan diri dengan metode tafsir yang lebih njlimet untuk menghindari kekeliruan tafsir yang parah. Salah satunya, hermeneutika memberi perhatian pada hubungan antara pembuat pesan, teks, dan pembacanya.

Tiga variabel itu kemudian melahirkan tiga bentuk relasi. Dalam setiap relasi itu ada lubang-lubang yang membuat tafsir memiliki kelemahan. Ketiga relasi itu adalah relasi antara pembuat pesan dengan teksnya, pembuat pesan dengan penerima pesannya, dan penerima pesan dengan teksnya.

Mengapa hubungan antara pembuat pesan dengan pesan itu sendiri penting?  Pesan adalah media yang digunakan pembuatnya untuk menyampaikan sebuah gagasan kepada publik (audience). Keberadaan pesan itu sendiri perlu dilihat sebagai produk kreatif yang dibuat oleh seorang pada konteks ruang dan waktu saat itu. Maka keberadaannya tidak bisa diisolasi dari keberadaan pembuatnya.

Dalam literasi media, hubungan ini dapat terwujud dalam bentuk pertanyaan: mengapa media ini menulis A dan media itu menulis B? Mengapa tokoh itu mengatakan begini dan tokoh lain mengatakan begitu? Mengapa – untuk merespon situasi yang sama – dia menulis status X dan lainnya menulis status Y?

Relasi yang kedua adalah hubungan teks (pesan) dengan pembacanya. Aspek ini juga penting karena teks memiliki horizon sendiri dan pembaca memiliki horizon pembaca. Membaca sebuah pesan berarti menemukan dialektikanantara dua horizon tersebut.

Tetapi bagaimana dua horizon itu bertemu sehingga menemukan “makna yang berarti”? Itulah yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Dalam pandangan hermeneutika linguistik, teks dapat memiliki pesan yang otonom. Agar bisa mengungkap pesan teks, pembaca perlu berempati kepada teks dengan membiarkan dirinya larut dalam aturan kebahasaan internal teks.

Ketiga, adalah relasi antara penggagas dengan pembaca atau pendengar. Sudah sangat sering terjadi, sebuah pesan yang sama diucapkan oleh orang yang sama memiliki dampak yang berbeda kepada pembaca/pendengar yang berbeda. Atau sebaliknya, sebuah pesan yang sama direspon oleh pembaca secara berbeda karena subjek yang menyampaikannya berbeda.

Biar bagaimana pun, pembaca cenderung menganggap keberadaan pembuat pesan dengan aneka atribus sosial yang mempengaruhi bobot otoritasnya. Ada penulis atau pembicara yang memiliki wibawa ada yang tidak. Ada penulis atau pembicara yang memiliki rekam jejak baik ada pula yang tidak. Penilaian-penilaian itu pada akhirnya mempengaruhi cara pendengar/pembaca menemukan makna teks.

Lebih lanjut, penganjur hermeneutika kritis seperti Jurgen Habermas, mengajak kita melihat motif dominasi di balik teks. Kekuasaan macam apa yang hendak diraih seseorang melalui teks yang diproduksinya, itu bagian dari aspek penting.

Dengan memperhatikan tiga aspek hubugan itu, selama ini saya mengendalikan sikap reaktif saya di media sosial. Memang sih, belum sepenuhnya bekerja. Terkadang godaan untuk merespon kabar apa pun yang berbedar begitu kuat, sehingga saya kebobolan juga. Seolah-olah saya tahu persis duduk persoalan, dan kemudian, memutuskan segera meresponnya.

Tetapi dengan berhermeneutika (dengan cara amat sederhana sekalipun), sikap reaktif itu sedikit berkurang. Informasi yang berduyun-duyun datang melalui medosis itu coba saya endapkan dulu. Sebelum saya merasa paham persoalan, saya tanyakan dulu “bagaimana saya memahami persoalan itu?”

Dalam banyak kasus, strategi itu berhasil membuat saya kewirangan kepada diri sendiri. Perasaan marah atau benci, yang saya rasakan setelah membaca berita di media (sosial), ternyata terjadi karena kekeliruan menafsir. Ada jebakan kognitif yang membuat membuat saya seenarnya tidak paham persoalan itu tetapi mendadak merasa paham.

Kondisi demikian seringkali terjadi ketika saya menerima kabar tentang subjek yang (dalam riwayat tafsir dan ingatan saya) memiliki rekam jejak tak menyenangkan. Kabar buruk tentang subjek yang tidak kita sukai jauh lebih cepat terakumulasi menjadi kebenaran. Itu membuat saya semakin marah dan benci kepada subjek itu.

Jebakan kognitif itu terjadi, saya tafsir kemudian, karena kegagalan berhermeneutika. Tanpa peduli siapa yang menyampaikannya, bagaimana ia menyampaikannya, ideologi apa di baliknya: saya langsung percaya begitu saja. Kok bisa begitu? Karena memang ada bias kognitif: orang cenderung percaya berita yang menguntungkannya.

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *