Apa Makna Kata Viral, Meme, dan Hoax?

Perkembangan bahasa Indonesia sangat dipengaruhi teknologi informasi. Istilah-istilah dalam bidang itu mendadak akrab dan lazim digunakan dalam keseharian kita. Gejala ini menunjukkan bahwa teknologi informasi telah menjadi keseharian penutur bahasa Indonesia.  Kata dan istilah itu digunakan dalam berbagai situasi percakapanan.

Ada tiga kata yang belakangan sangat sering digunakan dalam internet, yaitu viral, meme, dan hoax. Hampir semua pengguna aktif internet pernah mendengar atau menggunkan kata-kata itu. Terlebih bagi mereka yang aktif menggunakan media sosial.

Kata “viral” digunakan untuk menyebut sesuatu yang menyebar dengan cepat di internet. Sebuah gambar, artikel, atau blog yang dibagikan secara massif oleh orang banyak disebut viral.

Kata “viral” berasal dari bahasa Inggris. Dalam catatan Etymologi Online Dictionary, kata ini sudah muncul sejak 1944. Artinya, “segala sesuatu yang berkaitan dengan virus”. Virus sendiri adalah istilah dari bidang kedokteran untuk menyebut mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, penyebar penyakit tertentu. Kata virus belakang juga digunakan untuk menyebut software jahat (illegal) yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau disket sehingga menyebar dan dapat merusak program yang ada.

Ada kesamaan esensial dari kata “virus” yang dipakai dalam bidang kedokteran dengan kata yang sama dalam bidang computer. Kedua-duanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang lekas “menyebar”. Nah, kesamaan itulah digunakan sebagai arti kata “viral. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V, viral diartikan sebagai “bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus.”

Meme punya arti yang terkait viral, tapi sebenarnya berbeda. Di Indonesia kata meme sering digunakan untuk menyebut guyon visual yang berisi gambar dan tulisan. Menurut catatan Etymologi Dictionary, istilah ini pertama kali digunakan ahli biologi evolusi Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene untuk menyebut perilaku meniru.

Dalam konteks itu meme digunakan untuk menyebut gejala ketika subjek tertentu mengimitiasi (meniru) sifat, perilaku, dan tindakan subjek lain. Kata meme itu sendiri diambil dari bahasa Yunani “mimeisthai” yang sudah ada sejak abad 15. Dalam bahasa Inggris, terjemahan yang paling dekat adalah “to imitate”.

Dalam konteks kekinian, Ice Bucket Challangge dan Manequin Challenge adalah meme. Tindakan itu awalnya hanya dilakukan satu dua orang. Namun karena sebab tertentu, tindakan itu ditiru oleh banyak orang lain. Begitu pula “Om Telolet Om”. Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan segelintir anak-anak di Ngabul, Jepara, mendadak ditiru oleh banyak orang. Penekannya pada peniruan, bukan penyebaran.

Lalu, bagaimana dengan hoax? Dosen Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Triyono Lukmantoro mengungkapkan, hoax berarti “memperdayai” atau “mengelabui”. Secara sangat ringkas, hoax masih menampilkan fakta tapi dilebih-lebihkan atau dipelintir untuk mendukung isu yang sedang aktual diperbincangkan.

Menurutnya, hoax berbeda dengan fake news. Dalam hoax masih ada fakta, namun dilebih-lebihkan atai didistorsi, tetapi kalau fake news tidak merujuk fakta apa pun. Atau, kalau itu berupa foto adalah hasil penyuntingan.

Tujuan hoax dan fake news serupa belaka: membohongi orang lain dengan merekayasa fakta yang ada menjadi sangat provokatif atau menampilkan “fakta” dari praktik-prakti ilusif. Misalnya, tenaga kerja asing yang berasal dari Cina secara faktual berjumlah puluhan ribu. Oleh pembuat hoax digelembungkan menjadi dua puluhan juta. Tujuannya adalah menciptakan kekisruhan dan memompa semangat kebencian terhadap etnis Tionghoa.

Dalam jurnalisme tabloid yang menyukai kehebohan itu, hoax diarahkan ke dalam mantra: if it bleeds, it leads. Jika informasi yang dipelintir itu menciptakan pertikaian yang sungguh brutal, maka semakin pula layak dirayakan penuh kehebohan.

Penulusuran etimologi menunjukkan, kata hoax sebenarnya telah ada sekitar 1796 untuk merujuk kata hocus. Kata itu, demikian Robert Nares (1753-1829) menjelaskan, merupakan ringkasan dari kata hocus pocus: sebuah jargon yang dipakai oleh pesulap yang berlagak. Hocus sendiri bermakna sebagai menipu atau mengibuli.

Jadi, kata Triyono, hoax, hocus, juga hocus pocus di era internet ini merupakan hasil permainan yang menjadikan khalayak tersihir oleh muslihat hebat para pesulap informasi. Aksi tipu-tipu itu menjadikan orang banyak terkesima dan terpana. Tapi, ekspresi selanjutnya bukanlah wajah-wajah yang menghadirkan kekaguman, melainkan silang sengketa yang menggelontorkan perbantahan dan bahkan perkelahian.(Foto: trfradio.com)

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku “Politik Bahasa Penguasa”

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *