“Maaf Lahir Batin, ya”? Lho, Yang Batin Kok Perlu Dikatakan?

Ucapan “Maaf lahir batin” pasti menjejali telinga Anda dalambeberapa hari  belakangan ini. Orang-orang terdekat, tetangga sebelah, sampai orang yang tak pernah Anda temui mendadak mengucapkan hal itu. Itu telah jadi bagian dari selebrasi lebaran.

Percayakah Anda bahwa “mohon maaf lahir batin?” mewakili yang batin?

Mari kita selditiki kemungkinkan-kemungkinan “lahir dan batin”. Setidaknya ada dua kemungkinan.

Pertama, ucapan itu merupakan bentuk pengindonesiaan dari ucapan berbahasa Jawa “sing kelahir lan sing kebatin”. Artinya, di penutur ingin meminta maaf untuk kesalahn yang lahirian dan batiniah.

Kedua, ucapan itu bermakna “baik secara lahir maupun secara batin saya meminta maaf”.

Jika makna dalam “maaf lahir batin” adalah yang pertama, relative tidak masalah. Si peminta maaf ingin agar meminta maaf untuk seluruh jenis kesalahan yang pernah dilakukannya: sing lahir, sing batin, sing cilik, sing gedhe, sing sengaja, lan sing ora sengaja.

Yang jadi masalah adalah ketika yang dimaksud adalah makna kedua: saya minta maaf, baik secara lahir maupun secara batin.

Masalahnya, mengatakan meminta maaf secara batin itu kan urusan batin. Lha, ngapain “dilahirkan” dengan ucapan? Bukankah dengan mengatakannya, urusan yang batin justru menjadi lahir.

Ucapan itu bersifat diafan. Begitu pula ucapan “mohon maaf lahir dan batin”. Saat sesuatu yang batin didiafankan dengan ucapan, maka yang batin itu justru menjadi lahir kan?

Ini renungan yang membuat saya merasa perlu membuat tradisi ucapan Idul Fitri yang lebih baik otentik. Mohon maaf dengan segala hormat: ucapan “mohon maaf lahir batin” terasa sudah terlalu gombal.

Mohon maaf ya kalau tulisan saya kurang berkenan.

Mohon maaf lahir dan batin, ya.

Lho!

Rahmat Petuguran

Sumber foto: esqlife.com

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *