Lima Kutipan Anies Baswedan yang Cocok untuk Menaklukan Calon Mertuamu

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan selalu punya ungkapan menarik. Ia pintar merangkai kata-kata sehingga menjadi kalimat yang bermakna mendalam dan reflektif.

Sebagai intelektual, ia menggunakan kalimat untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya. Setelah jadi pejabat negara, ia masih rajin membuat kalimat bagus. Kalimat itu sering digunakan untuk memotivasi anak muda supaya lebih semangat belajar dan berprestasi.

Tapi, kutipan itu tidak hanya cocok kamu gunakan untuk memotivasi diri sendiri. Ada lima kutipan Anies yang cocok kalau kamu gunakan untuk menaklukan calon mertuamu. Hwehehehe.

1. Saya  tidak menawarkan masa lalu, tetapi masa depan.

Menurut saya ini salah satu kalimat terbaik Anies Baswedan. Bukan hanya karena mewakili suara hati mayoritas anak muda, kutipan ini memiliki daya persuasi yang sangat kuat.

Dengan bentuk gramatika yang singkat, Anies berhasil membungkus semengat perlawanan sehingga mudah diingat.

Saat bertemu calon mertuamu dan kamu belum punya cukup bukti keberhasilan, ini kalimat yang cocok untuk kamu jadikan “senjata” sekaligus “tameng”. Meskipun minim pengalaman, percayakan beliau bahwa kamu punya masa depan yang menjanjikan.

 2. Lokasi lahir saya bisa di mana pun, tapi lokasi cita-cita saya ada di langit

Jika kamu terlahir dari keluarga sederhana, bukan anak orang kaya atau pengusaha, kalimat ini cocok kamu utarakan. Kalimat ini baik digunakan untuk memberi gambaran kepribadianmu sebagai anak muda yang semangat.

Kamu mungkin “hanya” anak dari keluarga miskin, kamu sekolah di sekolah biasa, atau bahkan punya masa lalu yang buruk. Kalimat itu bisa kamu gunakan untuk meyakinkan calon mertua bahwa kamu siap meningkatkan kualitas diri.

 3. Mendidik adalah tanggung jawab setiap manusia terdidik

Salah satu tugas suami adalah menjadi pembimbing, teladan, dan guru bagi istri-(-istrinya). Agar bisa melaksanakan tugas itu, seorang laki-laki harus cukup ilmu. Tidak hanya ilmu sosial, agama, tetapi juga ilmu praktis seperti komunikasi, ekonomi, dan tentu saja: anatomi.

Kalau suatu saat ketemu camermu, yakinkan bahwa kamu cukup terpelajar untuk mengambil tanggung jawab sebagai guru bagi calon istrimu.

“Dengan mengizinkan saya mempersunting putri Bapak, berarti Bapak menyerahkan putri Bapak pada guru yang tepat,” katakan begitu.

4. Kekayaan terbesar bangsa bukan sumber daya, tetapi manusianya

Anies mengatakan bahwa “Kekayaan terbesar suatu bangsa adalah manusianya, bukan sumber daya alamnya”.

Ini logis dan relevan dengan orientasi pembangunan negara-negara modern. Fokus pembangunan tidak pada eksplorasi sumber daya alam, tetapi kecerdasan bangsa.

Nah, dengan nada agak sombong sedikit, bolehlah kamu katakan begini pada calon mertuamu. “Saya tidak memiliki rumah, uang, dan mobil. Bukan itu kekayaan utama saya, melainkan cinta.”

Mudah-mudahan calon mertuamu tidak menjawab; preetttt….

5. Jangan bandingkan saya dengan kesempurnaan, bandingkan saya dengan masa depan.

Di Indonesia, orang-orang tua punya pakem menilai kelayakan calon menantunya, yakni bibit, bobot, dan bebet. Kalau diterapkan secara kaku, ini bisa membuat anak-anak muda yang lahir dari keluarga biasa terkendala mempersunting perempuan idamannya.

Tapi tak perlu patah arang. Gunakan salah satu kutipan Anies Baswedan “Jangan bandingkan pemimpin dengan kesempurnaan, tetapi bandingkan dengan lawannya:.

Kalimat ini bisa kamu gubah ulang menjadi “Jangan bandingkan saya dengan kesempurnaan, bandingkan saya dengan masa depan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.