Kalau Kita Bisa Melintasi Waktu, Apa Kehidupan Akan Terasa Seru?

Pernah nggak kamu berpikir betapa asyiknya kembali ke masa kecil dengan pengetahuan sekarang? Kalau lagi gabut, kadang saya mikir begitu.

Kelihatannya seru!

Kalau itu bisa terjadi, kamu bisa jadi bintang kelas. Kamu bisa menang di banyak lomba. Bisa nglawan temen sekolah yang nakal. Juga: punya keberanian untuk ndeketin lawan jenis yang kamu taksir.

Bayangkan, betapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh kalau itu bener-bener bisa kejadian?

Kalau mau lebih ekstrim, kamu bahkan bisa mundur ke beberapa abad. Itu masa ketika simbah belum lahir dan kehidupan masih sangat sederhana. Dengan kemampuan masa sekarang yang kamu punya, pasti kamu bisa jadi orang paling jenius.

Kalau itu beneran terjadi, banyak masalah masa itu yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Dengan begitu, kamu bisa jadi orang paling hebat. Jadi panutan. Kaya raya. Bahkan jadi raja.

Tapi bentar dulu.

Kalau itu benar-benar terjadi, semua tidak bakal semenyenangkan yang kita bayangkan.

Satu atau dua hari pertama, itu mungkin seru. Sama serunya saat pertama kali Raja Midas punya kesaktian mengubah benda-benda yang disentuhnya jadi emas. Tapi setelah itu, dunia pasti sangat membosankan.

Hidup dengan cara seperti itu sama seperti saat kamu ngulang game di level-level paling awal saat kamu sudah biasa main di level advance. Tidak ada kejutan, tidak ada keseruan. Mboseni!

Iya, kan?

Bayangan soal perjalanan melintas waktu kadang hinggap di pikiran saat melihat kenangan di Facebook.

Media sosial ini menawarkan fitur melihat kenangan. Tanpa diminta.

Kenangan di Facebook lebih sering membuatku geli dan malu daripada bangga. Apa yang kubanggakan di masa lalu ternyata kelihatan norak kalau dilihat sekarang.

Ada status sok kritis, analisis sok pintar, foto sok ganteng, pose sok keren dan sebagainya. Norak, Bray!

Tapi pada masanya, itu semua keren dan terasa layak dibanggakan. Itulah alasannya yang membuatku membagikannya di media sosial. Tapi hanya berselang beberapa tahun, yang keren-keren itu kelihatan norak.

Siklus itu akan berulang. Apa yang kukira keren hari ini akan kelihatan norak beberapa waktu lagi. Tentu saja, termasuk tulisan ini.

Sayangnya, kita juga tidak bisa melintas waktu ke masa depan. Kalau bisa, kita bisa membuat sesuatu yang keren saat ini sekaligus keren di masa depan. Sebab, masa depan adalah kondisi imajiner. Abstrak. Acak. Serba tak pasti.

Keterbatasan itu membuat manusia hanya bisa pasrah: ia hidup pada ikatan ruang dan waktu. Manusia hidup pada masanya, dengan pengetahuan yang dimilikinya pada saat itu, dengan nilai yang diyakininya pada saat itu juga. Dengan begitu, dalam kekangan ruang dan waktu jugalah manusia mencipta makna.

Meski kusebut sebagai “keterbatasan”, ikatan terhadap ruang dan waktu menurutku juga berkah. Berkat ikatan itulah hidup memiliki makna. Bisa dinikmati keseruannya.

Karena itu, wajar saja merasa keren pada masanya. Itu kenikmatan yang layak dinikmati. Kalau di masa depan itu kekerenan itu kelihatan norak, itu kenikmatan yang lain lagi. Semua indah. Semua bermakna.

Kalau kita justru menilai hari ini dengan nilai masa depan, semua hal yang terjadi hari ini mungkin tak layak dijalani. Kalau begitu, masa depan sendiri tidak akan terjadi. Bahaya, kan/

Jadi, ya, mari kita teruskan hari-hari yang norak ini. Itulah satu-satunya cara menikmati waktu yang ada.

Sebab, kalau beneran kita bisa melintasi waktu, baik yang norak maupun yang keren tidak relevan lagi. Hidup menjadi bencana saat sesuatu tak ada maknanya.

Ya’e lho ya.

Rahmat Petuguran
Kerap merasa tua dan muda sekaligus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.