Inilah Tujuh Keburukan yang Dibawa Televisi kepada Keluarga Anda

Kehidupan masyarakat modern nyaris tak bisa dipisahkan dengan televisi. “Kotak ajaib” ini telah menjadi sumber informasi, sumber hiburan, bahkan teman ketika Anda kesepian. Tersedia begitu banyak channel yang bisa Anda pilih. Namun, tidak cukup tersedia acara berkualitas di sana.

Beberapa keluarga sudah mulai sadar bahaya televisi. Dengan kesadaran itu, mereka menyingkirkan televisi dari keluarga mereka.

Namun ada pula keluarga yang mempertahankan televisi di rumah mereka. Bahkan menggantinya dengan ukuran yang lebih besar dari tahu ke tahun. Televisi di letakkan di ruang keluarga, pada posisi yang paling strategis dan paling mudah terjangkau.

Padahal, televisi adalah sumber berbagai keburukan. Melalui televisi, keburukan-keburukan itu dihadirkan langsung ke keluarga Anda, ke hadapan anak-anak Anda.

1. Atasi Masalah dengan Belanja

Televisi adalah anak kandung industri. Televisi dijaidkan sebagai juru kampanye yang digunakan para industriawan untuk mempromosikan produk mereka.

Karena itulah, sebagian besar durasi televisi adalah iklan. Dalam iklan, narasi paling sering yang ditunjukkan adalah: masalah apapun bisa diatasi dengan belanja.

Anda gendut dan pengin langsung? Belilah produk Jaco. Anda ingin kulit mulus bebas bulu? Belilah Veet. Anda pengin kelihatan keren di depan pasangan? Beliliah motor.

 2. Kekerasan adalah Solusi Konflik

Film dan sinetron hampir selalu menempatkan si jahat dengan si baik dalam sebuah konflik. Mereka membela kepentingan mereka masing-masing.

Dalam ending, biasanya diperagakan konflik fisik. Satu tokoh memukul tokoh lain, satu tokoh mmbunuh tokoh lain.

Di televisi, kekerasan dikemas sebagai strategi untuk menyelesaikan masalah Penonton diajarkan bahwa kekerasan adalah solusi jitu mengatasi konflik.

 3. Realitas Serba Hitam Putih

Dalam kehidupan yang sebenarnya, seseorang memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus. Orang yang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri. Orang yang kuat bisa menekan nafsunya, mengendalikan amarahnya.

Tapi di televisi, terjadi perekayasaan yang menunjukkan bahwa seseroang yang jahat adalah seratus persen jahat. Sebaliknya, orang yang baik adalah seratus persen baik.

Realitas yang dikonstruk televisi terkadang serba hitam putih. Tidak ada kebaikan apa pun pada pribadi “jahat”. Tidak ada niat buruk sekecil pun pada tokoh baik.

4. Ciuman, Pelukan, dan Bersetubuh

Ada begitu banyak adegan seks yang dipertontonkan televisi. Acara music dipagi hari diisi oleh penyanyi dan pembawa acara berpakaian seksi. Mereka bergoyang, memeprtontonkan paha dan payudara seeneknya.

Dalam sinetron, adagean pelukan dan ciuman dipertunjukan hampir setiap malam. Adegan itu dilakukan oleh remaja yang beperan sebagai anak sekolah.

Adegan seksual juga masih banyak ditemui televisi, meskip telah disensor. Adegan semacam ini, terutama bisa ditemui pada film-film asing yang ditayangkan televisi nasional.

Adegan-adegan itu mengajarkan kepada anak-anak Anda, bahwa pelampiasan seksual bisa dilakukan dengan seenaknya.

5. Diam, Tidur, Tidak Melakukan Apa-apa

Riset menunjukkan, aktivitas otak ketika seseorang menonton televisi sangat rendah. Dibandingkan membaca atau membuat kerajinan, menonton tidak memperlukan aktivitas berpikir.

Televisi mendidik penontonnya diam, tidur, dan tidak melakukan apa-apa. Pikiran diam, tubuh juga diam. Penonton hanya seperti benda padat yang teronggok begitu saja.

 6. Pedulikan yang Jauh, Abaikan yang Dekat

Penonton televisi bisa sangat peduli dengan Angeline pada satu waktu. berkat televisi, kasus pembunuhan yang terjadi di Bali itu seolah-oleh terjadi di rumah sebelah.

Pada saat yang sama, televisi menjauhkan penonton dari realitas sekitar. Saat ia peduli dengan Angeline, dia justru abai pada anak di gang sebelah yang terluka akibat berkelahi.

Penonton televisi bisa merasa dekat dengan Presiden Joko Widodo. Jokowi terasa seperti tetangga sendiri. pada saat yang sama, ia tidak kenal siap ketua RT di kompleknya.

 7. Televisi Mendikte, Siapa Idola Siapa Evil

Berita di televisi adalah hasil kreativitas wartawan. Para wartawan menempatkan tokoh baik dan tokoh buruk. Televisi mendikte penonton, mana tokoh yang harus diidolakan dan mana yang harus dimusuhi.

Kondisi demikian amat riskan membuat penonton jadi kelompok pasif yang terkendalikan. Penonton melakukan sesuatu sesuai kehendak pengelola televisi.

Seorang kepala daerah yang suka memaki-maki, bisa disajikan kepada penonton sebagai pahlawan karena diberitakan tegas, berani, dan bersih. Padahal, dia adalah pemimpin daerah yang suka gusur PKL.

Pada saat yang sama, seorang ketua partai Islam bisa jadi bahan olok-olokan karena pemberitaannya selalu nyinyir dan negatif.

Dan penonton, nampaknya, ikut-ikutan saja.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.