Inilah Sebab Kegagalan Garuda Muda di Ajang Internasional Asian Cup U19

Ibarat sebuah peperangan, sebuah kompetisi sepakbola memiliki beberapa strategi yang harus digunakan oleh sebuah tim untuk menjadi pemenang. Sebuah tim yang tergabung dalam kompetisi itu hendaknya memiliki amunisi yang bisa diandalkan untuk mengalahkan setiap lawan yang dihadapi.

Namun apa jadinya jika banyaknya strategy atau senjata yang dimiliki sudah diketahui oleh lawan. Hal inilah yang kiranya terjadi pada tim nasional dibawah usia 19 tahun yang dimiliki oleh Indonesia.

Seperti kita ketahui tim nas usia 19 tahun Indonesia memiliki segudang pemain berbakat yang hampir tidak bisa dipandang sebelah mata. Nama- nama seperti Evan Dimas, Maldini Pali, Paulo Sitanggang sampai Ravi Mudiyanto memiliki teknik dan stamina bermain bola yang dianggap sangat mumpuni.

Bahkan Evan Dimas dikabarkan memiliki tingkat VO2 MAX (sebuah ukuran stamina suatu olahragawan) yang sama levelnya dengan pemain kelas Eropa. Namun entah kenapa ketika tim ini “mentas” di sebuah turnamen internasional seperti HBT di Brunei dan yang terbaru Piala Asia 2014 under 19, kemampuan tim ini seakan menjadi luntur.

Inilah beberapa alasan yang dapat dijadikan biang keladi “mlempemnya” skuat Garuda muda kita di event international.

1. Jadwal uji coba yang terlalu padat

Jadwal sangat padat yang dihadapi oleh tim nas u 19 merupakan alasan pertama melempemnya tim ini di pentas Asia ini. Tak bisa dipungkiri setiap pesepakbola akan memiliki peak performance dalam level permainanya. Jika seorang pemain terlalu banyak di hadapkan pada pertandingan, pemain itu akan mengalami pasang surut kualitas permainan.

Sebuah tim juga bersisikan sekumpulan manusia biasa yang dapat mengalami keletihan dan kebosanan jika terlalu sering melakukan hal yang sama berpuluh puluh kali. Dalam hal ini tur nusantara baik 1 maupun 2 yang dilakukan oleh tim nas u 19 adalah sebuah contoh yang menyebabkan hilangnya kualitas permainan tim ini.

Dengan kata lain, peak performance tim nas u 19 yang sangat diharapkan di kompetisi internasional seperti Piala Asia 2014 seolah olah tidak ada karena telah di habiskan di berbagai ajang uji coba tersebut.

2. Rendahnya kualitas lawan untuk uji coba

Walaupun uji coba merupakan langkah yang baik untuk membentuk dan melatih mental dan karakter suatu tim, hal yang harus diperhatikan adalah dengan siapa kita akan melakukan pertandingan uji coba tersebut.

Seperti yang kita ketahui, tim nas usia 19 tahun melakukan serangkaian uji coba yang bertajuk Tur Nusantara jilid 1 dan 2. Hal tersebut mungkin sangat tidak efektif karena musuh yang dihadapi reatif jauh dibawah tim nas itu. Dengan minimnya kualitas lawan tersebut, sangat sedikit hal positif yang bisa didapat untuk perkembangan tim ini.

Seperti diketahui pembentukan tim secara mendadak baik dalam jangka waktu satu minggu sampai satu bulan untuk menghadapi tim nas u 19 menjadi bukti rendahnya kualitas tim lawan pada uji coba di tur nusantara tersebut.

3. Sorotan media berlebihan

Tanpa disadari, sorotan Media yang sangat berlebihan pada tim nas u 19 ini bisa menjadi bumerang yang dapat membahayakan cita cita tim ini. Hal yang dimaksud adalah semua strategi, cara bermain dan keseluruhan kualitas tim ini dapat dengan mudahnya di akses oleh calon lawan untuk dipelajari dengan seksama.

Hal ini benar adanya karena seolah olah semua lawan baik dalam turnamen HBT maupun piala Asia ini sudah benar benar hafal pola permainan dari tim Garuda muda ini. Mulai dari cara bermain, pemain yang berpengaruh di dalam tim dan siapa pemain yang berbahaya sampai kelemahan kelemahan dari tim ini seperti sudah diketahui secara detil oleh pihak lawan. Hal inilah yang menyebabkan mereka dapat dengan mudahnya mengalahkan tim nasional harapan bangsa Indonesia ini.

4. Ekspektasi publik yang terlalu tinggi

Harapan yang tinggi memang menjadi sesuatu yang baik untuk ditunjukan. Namun terkadang kita harus bijak menempatkan harapan tersebut pada siapa, waktu dan tempat yang tepat. Ekspektasi sangat tinggi yang diberikan kepada tim Garuda muda pada kompetisi Piala Asia ini seperti menjadi beban tersendiri bagi para pemain.

Hak ini tak dapat dipungkiri setelah tim yang biasanya bermain luar biasa di pertandingan uji coba tak dapat mengeluarkan permainan terbaiknya pada turnamen ini. Tak dapat dipungkiri mental tim nasional usia 19 ini seperti menanggung beban terlalu berat sehingga mereka tidak optimal menunjukan gaya permainan mereka sendiri.

Dari beberapa hal yang telah terjadi tersebut, kita hendaknya dapat mengambil pelajaran supaya di masa yang akan datang manajemen sepakbola Indonesia menjadi lebih bijak dalam usahanya membentuk skuat Garuda jaya yang bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Marilah kita tetap berbangga dan menaruh hormat kepada tim nasional usia 19 kita yang telah berusaha sekuat tenaga untuk membela tanah air dalam ajang sepakbola internasional. Agung Nugroho,S.Pd., M.Ed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.