Inflasi Kata

Seorang senior, yang keseniorannya begitu tinggi hingga mendekati derajat wali, mereproduksi pujian yang terus-menerus di Facebook. Kapan pun, di status siapa pun, ia memberi komentar begini “Sungguh nasihat yang manyejukkan. menginspirasi banyak orang. luar biasa. go international.”

Awal mula, pujian bombastis itu terasa berharga. Meskipun gramatikalnya buruk, seperti puluhan kilo lemak bertumpuk dalam satu tubuh, pujian itu masih diterima sebagai pujian. Namun begitu dipabrikasi, pujian itu berubah menjadi lawakan semata. Nilainya anjlok, nyaris tak ada.

Bagi saya, senior itu memberi pelajaran bahwa kata mengalami inflasi. Terminologi dari dunia ekonomi itu berarti, kemerosotan nilai uang krn banyak dan cepatnya uang yang beredar.

Nilai kata juga mengalami inflasi. Ketika diucapkan terus-menerus dalam medan konteks dan tujuan yang sama, keberhargaannya kian merosot.

Memang, tidak seperti uang, tidak ada catatan berapa kata yang diproduksi dan diedarkan di pasar. Namun otak telah memiliki mekanisme neurolinguitsik untuk mengenali kata baru, kata yang akrab, atau yang sudah mengelami inflasi tadi: gombal. Sel-sel otak yang bekerja dalam proses neurolinguistik, agaknya, merespon kata sesuai frekuensi kehadirannya.

Saya baru mendengar kata “dagon” pada tahun medio 2009. Kata itu adalah terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk menyebut “flashdisk”. Lantaran kata itu realtif baru, saat mendengarnya saya merasakan antusiasme tinggi. Sel-sel otak seperti bersorak sorai, menerima kata itu sebagai benda langka yang berharga.

Kata-kata baru direspon oleh otak seperti seorang kekasih merasakan ciuman pertama. Awet sekaligus berharga. Otak merespon kata dan ungkapan baru sebagaimana seorang bocah pegunungan yang menjumpai pantai untuk kali pertama.

Sebaliknya, kata-kata yang diproduksi massal, justru membuat nilai kehadirannya rendah.

Kondisi demikian, agaknya, perlu disikapi penutur bahasa dengan mengatur frekuensi kemunculan kata atau ungkapan tertentu. Ini keterampilan yang penting dikuasai oleh para playboy – termasuk politisi – agar substansi pembicaraannya tetap “layak ingat”. Intinya, jangan mengulang ungkapan kelewat sering. Membosankan!

Tapi selain bagi playboy, keterampilan berkomunikasi ini juga penting dikuasi. Para pendidik perlu memberikan penguatan kepada siswa dengan ungkapan yang lebih variatif, jangan melulu hebat, bagus, top. Sesekali: kompor mbleduk!

Para suami, misalnya, perlu menghindari memberi pujian “cantik”, “anggun”, atau “cerdas”. Sesekali pujilah istri dengan pujian: …..

Rahmat Petuguran

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.