Eka Pratiwi Taufanti, Mahasiswa Tuna Netra dengan Prestasi Mendunia

Meski memiliki keterbatasan penglihatan (tuna netra), Eka Pratiwi Taufanti yakin dirinya bisa berkarya dan berprestasi tinggi. Mahasiswa di Universitas Dian Nuswantoro itu berusaha keterbatasan pandangan yang dimilikinya tidak menjadi penghambat mengembangka diri.

Memang, mulanya Eka merasa kesulitan karena harus mampu bersaing dengan kawan-kawannya yang memiliki indera normal. Akan tetapi lambat laun Eka sudah mampu menyesuaikan diri.

Selain semangatnya yang tinggi, Eka merasa terbantu oleh dosen dan kawan-kawannya yang selalu mendukung. Udinus mendukung mahasiswa yang menderita disabilitas seperti Eka.  Misalnya, kampus itu bekerja sama dengan DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Jawa Tengah di dalam bidang IT berupa penyediaan sarana dan prasana, serta penyediaan tenaga ahli.

Selain itu juga melakukan kerjasama di dalam bidang beasiswa pendidikan, sehingga setiap tunanetra dari seluruh Indonesia yang berkuliah di UDINUS akan mendapatkan keringanan biaya selama masa perkuliahannya.

Berkat semangat serta dukungan dari para dosen dan kawan-kawan, akhirnya Eka mampu menghasilkan sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Pada 2014 silam, ia berangkat menuju Hongkong untuk mempresentasikan hasil gagasannya dengan topik meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris tuna netra dengan internet yang menggunakan media gadget layar sentuh.

Paper yang ia buat bertujuan agar para penyandang tunanetra bisa bersaing di dunia global. Eka berhasil lolos masuk ke 8 besar di ajang World Blind Union yang kemudian diberi kesempatan untuk mempresentasikan karyanya bersama 7 penyandang disabilitas dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Keterbatasan yang dimiliki oleh Eka tidak dijadikan penghambat oleh dirinya untuk terus berprestasi.

“Disabilitas tidak hanya soal tentang kita dilahirkan tanpa bisa melihat dunia, tanpa memiliki kaki atau tangan yang sempurna atau mampu tidaknya kita mendengar dan mengucapkan apa yang kita dengar. Akan tetapi disabilitas itu tentang hambatan lingkungan yang bisa menimpa siapa saja. Seorang tunanetra pun ketika dia mampu mengakses lingkungannya, kedisabilitasan dia pun hilang.” ujar Eka di status pada situs sosial media miliknya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *